Konten dari Pengguna

Kritik yang Viral, Etika yang Pudar : Jangan Jadikan Caci Maki Sebagai Kritik

Hotnauli Sihombing

Hotnauli Sihombing

Saya adalah seorang mahasiswa semester 6 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Unika Santo Thomas

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hotnauli Sihombing tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Hotnauli Sihombing

ilustrasi gambar : canva
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi gambar : canva

Di era TikTok dan InstaStory, menjadi viral kadang lebih penting daripada menjadi benar. Tak perlu kajian panjang, tak perlu data yang matang. Cukup buka kamera, lempar dua tiga kata kasar, sebut nama pejabat, tambahkan ekspresi sangar, dan voilà! Selamat datang di panggung sensasi.

Inilah yang dilakukan oleh seorang pria yang baru-baru ini viral karena menghina Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, istrinya Kahiyang Ayu, bahkan mantan Presiden Jokowi. Dalam video TikTok-nya, dia menyemburkan makian seenaknya, semua demi “mengkritik” kebijakan pengelolaan empat pulau di Aceh.

Katanya sih kritik. Tapi kok nadanya lebih mirip orang kesurupan amarah ketimbang warga negara yang melek wacana?

Masalahnya bukan pada keberanian bersuara. Tapi pada pilihan katanya yang penuh sumpah serapah, pada ekspresi wajah yang lebih mirip konten horror daripada konten protes.

Karena kritik yang baik itu bukan soal siapa yang paling kencang teriak, tapi siapa yang paling waras saat bicara.

Kritik yang Salah Jalur

Perbedaan antara kritik dan caci maki itu tipis tapi jelas. Kritik lahir dari nalar, caci maki dari nafsu. Kritik bertujuan membangun, caci maki hanya ingin menjatuhkan. Tapi, sayangnya, algoritma media sosial tidak peduli soal itu. Yang penting: ramai. Yang penting: emosi. Yang penting: bikin gaduh.

Dan di tengah algoritma yang memuja kontroversi, muncullah generasi baru: para komentator instan. Mereka lebih cepat marah daripada berpikir, lebih sigap menghina daripada membaca, dan lebih suka menuding daripada memahami.

Si pria dalam video itu mungkin merasa dirinya pahlawan. Tapi di mata netizen lain, ia hanya menambah satu entri baru dalam katalog kebodohan publik.

Ketika Bobby Menjawab dengan Satir

Respons Bobby Nasution? Sederhana tapi tajam. Ia me-repost video itu dengan caption, “Cocoknya dibuat kayak mana ini weee?”

Satu kalimat. Tapi seperti peluru halus yang menohok. Sebuah tamparan satir yang jauh lebih sopan, tapi justru lebih memalukan bagi si pelaku. Inilah contoh bahwa diam pun bisa jadi bentuk perlawanan. Bahwa tak semua serangan perlu dibalas dengan kemarahan. Kadang, cukup biarkan publik melihat siapa yang benar-benar kehilangan akal sehat.

Etika Digital: Barang Langka di Era FYP

Kita sedang hidup di zaman ketika etika jadi barang langka, tapi kamera HP ada di mana-mana. Di zaman ketika semua orang merasa punya hak bicara, tapi lupa bahwa hak itu datang dengan tanggung jawab.

Bukan berarti publik tak boleh mengkritik pejabat. Kritik justru perlu. Tapi bukan dengan gaya preman terminal. Bukan dengan mengutuk pribadi dan keluarga orang. Dan bukan pula dengan konten yang lebih layak tayang di acara “Karma” daripada diskusi publik.

Kalau kamu nggak setuju soal kebijakan pulau? Silakan sampaikan. Tapi belajar dulu bedain antara marah dan memaki. Antara protes dan provokasi. Antara keberanian dan kebodohan.

Demi Viral, Akal Sehat Dikorbankan?

Apa yang terjadi kemarin bukan cuma tentang Bobby atau Jokowi. Tapi tentang bagaimana kita sebagai masyarakat digital semakin malas berpikir dan terlalu cepat menghakimi. Tentang bagaimana kita lebih menghargai viral daripada etika.

Dan jika semua ini dibiarkan, maka kita akan masuk ke era baru: era di mana “konten” jadi alasan sah untuk menjelekkan orang lain. Era di mana “kebebasan berekspresi” jadi dalih untuk menghina siapa saja. Dan era di mana “kritik” hanya kamuflase dari kebencian personal.

Maka, wahai netizen budiman (dan budimunafik), mari kita sepakat satu hal: kritik itu perlu, tapi etika itu wajib. Kalau memang mau bicara soal negara, minimal akalmu nyala, mulutmu terkontrol, dan jempolmu nggak kebanyakan gaya.

Karena kalau mulutmu lebih cepat dari otakmu, percayalah: yang viral bukan pendapatmu, tapi aibmu.

Penulis Mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Santo Thomas Medan