Konten dari Pengguna

Broken Home: Luka yang Harus Dibiarkan Sembuh

SILAN OKTAVIA SHALSHABILLA

SILAN OKTAVIA SHALSHABILLA

Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SILAN OKTAVIA SHALSHABILLA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.bing.com/images/create
zoom-in-whitePerbesar
https://www.bing.com/images/create

“Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian.

Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah”

Mungkin itulah bait lagu yang mewakili perasaan anak broken home. Sekuat-kuat anak broken home, pasti ada terbesit dalam hati rasa iri kepada mereka yang memiliki keluarga utuh.

Tumbuh di keluarga yang patah bukanlah suatu hal yang mudah. Sebuah pengalaman yang meninggalkan trauma dan luka yang mendalam. Namun, penting untuk diingat bahwa luka ini bukanlah akhir dari segalanya. Seperti luka fisik, luka emosional pun membutuhkan waktu untuk sembuh.

Dalam menghadapi luka akibat broken home, ada beberapa tahapan yang biasanya dilalui. Menurut Kübler-Ross seorang psikiater dan penulis buku terobosan On Death and Dying mengatakan bahwa seorang individu biasanya melewati beberapa tahapan dalam proses pemulihan dari luka atau traumanya, meliputi penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan akhirnya penerimaan.

Menavigasi Denial: ketika Realitas Sulit Diterima

image by zuperia at shutterstock

Tahap pertama adalah penolakan atau denial. Dalam tahap ini kita akan merasa sulit mempercayai apa yang sudah terjadi. Berpura-pura bahwa tidak terjadi apapun, sehingga kita akan menolak kesedihan. Biasanya hanya berlangsung sementara sebagai sebuah mekanisme pertahanan yang hadir dari ketidakpercayaan terhadap realita yang ada.

Pada awalnya, saya tidak bisa menerima bahwa keluarga saya tidak lagi utuh. Saya merasa bahwa itu semua adalah mimpi buruk yang tidak akan pernah berakhir.

Menghadapi Kemarahan: ketika Kesedihan menjadi Amarah

image by zuperia at shutterstock

Tahap kedua adalah kemarahan atau anger. Setelah menolak kesedihan dan menyadari bahwa kejadian yang sudah terjadi tidak akan kembali, kita akan melampiaskan kesedihan dalam bentuk kemarahan. Saat marah, kita cenderung akan menyalahkan orang lain atau bahkan benda mati di sekitar kita sebagai pelampiasan kemarahan.

Saat kemarahan mulai muncul, saya merasa semua ini tidak adil. Saya merasa kesal dan marah pada keadaan, marah kepada orang tua, dan marah pada semuanya. “Mengapa harus terjadi pada saya?” pertanyaan yang sering terlintas dalam pikiran.

Bargaining: Negosiasi dengan Kesedihan

image by zuperia at shutterstock

Tahap ketiga adalah tawar-menawar atau bargaining. Pada tahap ini kita akan melakukan tawar-menawar terhadap kesedihan yang dialami. kita akan bernegosiasi untuk mendapatkan kondisi hidup yang diharapkan.

Pada tahap ini muncul banyak kata seandainya dalam pikiran saya. Seandainya dulu seperti ini, seandainya dulu seperti itu, yang membuat banyak penyesalan pada diri sendiri.

Depresi: Menghadapi Kegelapan dalam Diam

image by zuperia at shutterstock

Tahap keempat adalah depresi atau depression. Dalam tahap ini kita akan kembali ke realita dan mulai memahami keadaan. Kita mungkin menjadi lebih banyak diam dan menghabiskan waktu untuk menangis dan berduka sehingga muncul kecenderungan dalam menarik diri dari lingkungan.

Saat itu saya mulai merasa ada yang berbeda dengan diri saya. Saya mulai membatasi diri untuk bersosialisasi dengan orang lain dan lebih tertutup. Saya dipenuhi keputusasaan dan dendam yang mengganggu pikiran saya.

Acceptance: Menerima Kenyataan dan Melanjutkan Hidup

image by zuperia at shutterstock

Tahap terakhir adalah penerimaan atau acceptance. Penerimaan ini bukan berarti sudah merasa baik-baik saja akan realita yang terjadi, tetapi kita menyadari bahwa harus hidup dengan kenyataan yang ada. Kita harus melaluinya, belajar atas musibah yang menimpa dan tetap melanjutkan hidup dengan baik.

Akhirnya sampailah saya pada tahap ini. Saya menyadari bahwa saya tidak boleh stuck dalam situasi ini. Saya mulai menerima kenyataan bahwa keluarga saya tidak sama lagi dan itu tidak apa-apa. Saya mulai berpikir positif bahwa suatu masalah yang datang pasti ada hikmahnya.

Saya sudah berhasil melewati tahap-tahap tersebut. Dan saya percaya bahwa inilah yang terbaik untuk saya, sehingga saya membangun keyakinan kalau saya istimewa. Saya berdamai dengan keadaan dan segalanya, tidak ada lagi dendam yang membuat hidup saya menjadi lebih tenang.

Memang tidak mudah untuk sampai pada tahap penerimaan tersebut. Membutuhkan usaha yang ekstra dan tekad yang kuat. Namun penting untuk diingat bahwa situasi keluarga tidak menentukan siapa kita sebagai individu. Kita memiliki kekuatan dan potensi yang unik, terlepas dari latar belakang keluarga. Pengalaman tersebut membentuk kita menjadi pribadi yang kuat, tangguh dan penuh empati.

Maka dari itu, saya mencoba untuk mematahkan stigma negatif tentang anak broken home. Saya ingin menjadi teladan yang positif dengan mencapai kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup. Menunjukan pada dunia bahwa latar belakang keluarga tidak menentukan masa depan seseorang.

Sebagai penutup, saya ingin memberikan dukungan kepada anak-anak broken home lainnya. Saya tahu betapa sulitnya menghadapi situasi itu. Tetapi saya percaya kamu bisa melewati itu semua.

Ingatlah kamu tidak sendirian, masih banyak orang-orang yang mencintai dan menyayangimu tanpa kamu sadari. Teruslah percaya pada dirimu sendiri dan perlu diingat pula bahwa kamu memiliki nilai yang tak ternilai. Teruslah belajar dan berkembang serta jangan pernah ragu untuk mengengejar impianmu.

Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidupmu. Kamu hebat dan istimewa. Jangan ragu untuk mencari dukungan dari orang-orang yang peduli denganmu.

“Dari broken home mendunia” (Siln_shaa)