Analisis Personalia: Kunci Menentukan Pelatihan

Mahasiswa Universitas Pamulang, Program Studi Manajemen S1
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Silvia Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di banyak perusahaan, ada satu kebiasaan yang hampir selalu sama. Begitu kinerja turun atau target meleset, jawabannya cuma satu: adakan pelatihan. Semua karyawan dikumpulkan, materi dibagikan, sertifikat dibagikan, lalu semua kembali bekerja.
Masalahnya, sebulan kemudian hasilnya sering tidak jauh berbeda.
Ambil contoh sebuah toko retail yang penjualannya menurun. Manajernya memutuskan semua karyawan ikut pelatihan teknik penjualan. Padahal setelah dicek, sebagian besar karyawan sudah cukup jago menjual. Yang jadi kendala ternyata ada di tempat lain: sebagian masih kesulitan memakai sistem kasir digital, dan sebagian lagi belum hafal detail produk. Pelatihannya bagus, tapi tidak menyentuh masalah yang sebenarnya.
Di sinilah analisis personalia dibutuhkan. Singkatnya, perusahaan mengecek dulu kemampuan, keterampilan, pengetahuan, dan kekurangan yang dimiliki karyawan sebelum memutuskan pelatihan apa yang diberikan. Dari situ kelihatan siapa yang perlu dilatih dan kemampuan apa yang perlu dikembangkan.
Caranya tidak rumit. Perusahaan bisa melihat hasil kerja, pencapaian target, penilaian atasan, dan kesulitan yang sering dialami karyawan. Dari situ bisa ketahuan juga apakah masalahnya memang butuh pelatihan, atau justru butuh solusi lain seperti memperbaiki sistem kerja.
Kembali ke toko tadi, solusinya jadi jelas. Karyawan yang kesulitan dengan sistem digital diberi pelatihan teknologi, dan yang kurang paham produk diberi pelatihan product knowledge. Waktu dan biaya yang keluar pun terpakai untuk hal yang dibutuhkan.
Pelatihan yang efektif bukan soal seberapa sering diadakan, tapi seberapa tepat sasarannya. Daripada hanya jadi formalitas, lebih baik kenali dulu apa yang sebenarnya dibutuhkan karyawan. Karena kadang, yang kurang bukan pelatihannya, melainkan ketepatannya.
