Keberadaan Lingkungan Kumuh Berpotensi Menjadi Sumber Penyebaran Penyakit TBC

Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya
Konten dari Pengguna
29 November 2022 9:20
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari silvia widya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Persoalan kependudukan sering terjadi di kota-kota bersar yang ada di Indonesia. Tidak hanya di Kota Jakarta yang mengalami masalah kependudukan, Kota Malang juga tidak lepas dari masalah kependudukan. Terlebih lagi Kota Malang menjadi pusat kota pendidikan di Jawa Timur, menjadikan Kota Malang sebagai salah satu kota pilihan para pelajar untuk melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi. Oleh karena itu, dengan banyaknya mahasiswa yang melakukan migrasi ke Kota Malang untuk melanjutkan studinya, hal tersebut mengakibatkan makin bertambahnya jumlah penduduk di Kota Malang. Bertambahnya jumlah penduduk ini dapat memicu munculnya permasalahan kependudukan seperti munculnya permukiman kumuh. Kota Malang di akhir tahun 2022 memiliki daerah yang termasuk dalam kategori permukiman kumuh.
Potret Permukiman kumuh di kawasan Kota Malang, Selasa 18 Agustus 2020. (Sumber : youtube konsalta kuatorial)
zoom-in-whitePerbesar
Potret Permukiman kumuh di kawasan Kota Malang, Selasa 18 Agustus 2020. (Sumber : youtube konsalta kuatorial)
Dilansir dari laman Radarmalang, bahwa di akhir tahun 2022 Kota Malang memiliki area permukiman kumuh seluas 73 hektare yang tersebar di 10 kelurahan di Kota Malang. Angka tersebut sudah mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2019, pemkot Kota Malang mencatat terdapat 608 hektare area permukiman kumuh yang tersebar di 29 kelurahan yang tersebar di Kota Malang. Kualitas lingkungan yang buruk, dapat memunculkan sumber penyakit dan sumber penyebaran penyakit yang berdampak terhadap kualitas kesehatan masyarakat. Keberadaan lingkungan kumuh yang ada di Kota Malang menyebabkan munculnya beberapa penyakit di lingkungan masyarakat. Baik itu penyakit yang dapat menular langsung, penyakit yang menular bersumber dari binatang maupun penyakit yang tidak menular.
ADVERTISEMENT
Di Kota Malang jenis penyakit TBC (Tuberkulosis) merupakan salah satu jenis penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat. Penyakit TBC (Tuberkulosis) merupakan jenis penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang berbagai organ terutama paru-paru. Jenis penyakit TBC (Tuberkulosis) dapat berkembang aktif kepada seseorang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Penyebaran penyakit ini menyebar melalui percikan ludah, batuk dan bersin, secara proses penularan penyakit TBC (Tuberkulosis) ini membutuhkan kontak interaksi yang cukup dekat dan cukup lama. Menurut laporan WHO tahun 2013, indonesia menempati posisi ketiga setelah India dan cina dengan kasus TBC (Tuberkulosis) dengan jumlah hampir 700 ribu kasus, serta jumlah angka kematian masih tetap 27/100 ribu penduduk (Suharyo, 2013).
ADVERTISEMENT
Penyakit TBC (Tuberkulosis) di Kota Malang masih tergolong tinggi. Dilansir dari laman Profil Kesehatan Kota Malang Tahun 2021, bahwa jumlah kasus TBC (Tuberkulosis) berdasarkan Kecamatan di Kota Malang tahun 2021, wilayah yang memiliki kasus TBC (Tuberkulosis) tertinggi berada di Kecamatan Sukun dengan jumlah kasus 113 kasus. Keberadaan area permukiman kumuh mendorong makin cepatnya penyebaran penyakit TBC (Tuberkulosis) di Kota Malang. Hal tersebut terjadi karena makin padat hunian maka makin mudah dan cepat kasus persebaran penyakit TBC (Tuberkulosis). Jika melihat standar tingkat kepadatan rumah dari Depkes, tingkat kepadatan rumah minimal 10 m2 per orang dan jarak tempat tidur antara satu dengan lainnya 90 cm.
Jenis penyakit TBC (Tuberkulosis) masih menjadi masalah, baik dalam lingkup internasional, nasional maupun di lingkup daerah. Penyakit TBC (Tuberkulosis) sudah sejak lama menjadi masalah kesehatan di indonesia dan menimbulkan masalah yang sangat kompleks baik dari sisi medis, ekonomi maupun kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan adanya penanggulangan secara komprehensif, terpadu dan berkesinambungan dengan harapan untuk mewujudkan wilayah zero TBC (Tuberkulosis). Untuk mengatasi masalah penyakit TBC (Tuberkulosis) yang di Kota Malang, terdapat tindakan sosial dari kader TB Care di Kota Malang untuk menanggulangi penyakit tersebut.
ADVERTISEMENT
Dalam usaha menciptakan Kota Malang Mengatasi zero TBC (Tuberkulosis) pemerintah Kota Malang melakukan kolaborasi dengan ‘Aisyiyah untuk melakukan penanggulangan penyakit TBC (Tuberkulosis). Tindakan sosial tersebut dipilih kader TB Care untuk menemukan dan membantu mengobati pasien TBC (Tuberkulosis). Selain itu, tindakan ini bertujuan untuk mengubah pemahaman masyarakat yang masih keliru mengenai penyakit TBC (Tuberkulosis). Banyak masyarakat yang menganggap bahwa penyakit ini adalah penyakit turunan, penyakit TBC (Tuberkulosis) adalah penyakit orang miskin dan penyakit TBC (Tuberkulosis) adalah penyakit kutukan (Aminah, 2020).
Oleh karena itu, dengan adanya gerakan atau tindakan dari kader TB Care di Kota Malang dalam menyosialisasikan tentang penyakit TBC (Tuberkulosis), dapat mengubah Mindset masyarakat yang masih keliru mengenai penyakit TBC (Tuberkulosis) ini. Sehingga tidak terdapat lagi budaya menstigma pasien penyakit TBC (Tuberkulosis) di lingkungan masyarakat. Dilansir dari laman Malangkota.go.id bahwa, untuk upaya penanggulangan penyakit TBC (Tuberkulosis) Dinkes Kota Malang mendukung Perpres Nomor 67 tahun 2021 tentang upaya penanggulangan TBC (Tuberkulosis). Terdapat tiga hal penting dalam Perpres tersebut yaitu intensifikasi layanan bagi masyarakat yang memiliki berbagai keterbatasan, integrasi program bantuan sosial, peningkatan skill/vokasi, beasiswa dan perbaikan lingkungan dan rumah tinggal. Selain itu untuk memperkuat koordinasi akan dibentuk Tim Percepatan Penanggulangan TBC (Tuberkulosis).
ADVERTISEMENT
Berbagai macam upaya telah dilakukan oleh pemerintah seperti mengadakan program penanggulangan penyakit TBC (Tuberkulosis). Namun hal tersebut, tetap diperlukannya kerja sama dengan masyarakat untuk ikut serta dalam menanggulangi penyakit tersebut. Upaya yang dapat dilakukan oleh masyarakat seperti menjaga pola hidup sehat, menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar tempat tinggal. Selain itu, masyarakat juga harus melakukan literasi terkait penyakit TBC (Tuberkulosis), karena masyarakat seringkali masih keliru dalam memahami tentang penyakit ini. Sehingga menimbulkan stigma negatif terhadap pasien yang terkena penyakit TBC (Tuberkulosis), serta yang lebih parahnya jika pasien yang terkena penyakit ini menyembunyikan penyakitnya akibat dari adanya stigma negatif dari masyarakat dan tidak mau terbuka karena tidak ingin dikucilkan dari lingkungan masyarakat. Dengan adanya hal tersebut membuat persebaran penyakit TBC (Tuberkulosis) ini menjadi makin luas dan dapat berakibat terhadap meningkatnya jumlah kematian akibat penyakit tersebut.
ADVERTISEMENT
DAFTAR PUSTAKA
Aminah, S. (2020). Tindakan Sosial Kader TB Care Dalam Menanggulangi . Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2022. Kota Malang Dalam Angka 2022: Badan Pusat Statistik Kota Malang.
Dr.Pittara. (2022, Januari 21). Penyebab TBC (Tuberkulosis). Retrieved from alodokter.com: https://www.alodokter.com/tuberkulosis/penyebab
Kesehatan, D. (2021). Profil Kesehatan Kota Malang Tahun 2021. Retrieved from https://dinkes.malangkota.go.id/dokumen/profil-kesehatan-kota-malang/
Radar Malang. (2022). Tersisa 73 Ha Permukiman Kumuh di Kota Malang. radarmalang.jawapos.com.
Surjari, E. (2020). Pola Spasial Persebaran Penyakit TB Paru. Jurnal Pendidikan dan Ilmu Geografi.
editor-avatar-0
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020