Konten dari Pengguna

Aksi 'Pahlawan' Pengeruk Waduk Pluit

Mirsan Simamora

Mirsan Simamora

Horas!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mirsan Simamora tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap hari petugas dari Dinas UPK atau 'pasukan orange', Panjaringan, Jakarta, membersihkan Waduk Pluit yang luasnya 80 Hektar. Namun, mereka enggan disebut sebagai 'Pahlawan'.

kumparan (kumparan.com), Rabu (8/11), menghampiri Suratman (50), dan Musolane (49) yang sedang beristirahat di pondok di pinggir Waduk Pluit. Awalnya mereka enggan berbagi cerita seputar Waduk Pluit, tetapi akhirnya mereka bersedia berbagi kisah tentang pekerjaannya.

"Pukul 07:00 WIB kita udah mulai apel pagi, pukul 09:00 WIB kita mulai turun ke Waduk Pluit dengan beko masing-masing, pukul 15:00 WIB baru kita boleh pulang.

Terdapat 5 Beko, 4 Drejer Ponton, 1 Ampibi, dan Berkie ada 2," ujar Musolane pria paruh baya yang lahir di Kota Bogor tersebut.

Musolane mengungkapkan, setiap harinya 6 pekerja seluruhnya turun ke dalam Waduk Pluit untuk mengambil sampah plastik yang paling banyak mereka temukan. Kadang, saat mengambil sampah tersebut ada warga yang membandel dengan membuang sampah tepat dihadapannya.

"Pernah itu, bahkan sering ada warga yang sanggup buang sampah di depan kita. Padahal warganya melihat kita lagi mengambil sampah," katanya. Namun, Ia tidak dapat berbuat banyak karena tugasnya hanya mengambil sampah dari dasar air Waduk Pluit.

Lain halnya dengan Suratman (50), pria paruh baya yang telah memiliki cucu tersebut mengungkapkan, saat kondisi hujan deras pun mereka tetap bekerja mengeruk sampah dari dalam air. "Hujan atau panas, kita tetap bekerja. Sudah menjadi tugas dalam pekerjaankan," ujarnya.

Suratmat mengungkapkan, luas Waduk Pluit yang 80 Hektare sudah sangat mengalami perubahan. Namun, masih ada masyarakat yang tega membuang sampah ke dalam Waduk Pluit. "Masih ada, apa dulu harus tenggelam perumahan warga baru mereka berhenti buang sampah. Kan nggak begitu juga," katanya.

Kedua pria paruh baya tersebut menolak disebut sebagai pahlawan pemberaih Waduk Pluit. "Terlalu berlebihan menyebut kami sebagai pahlawan," kata Musolane yang disambut tawa Bapak Suratman.