Cerpen : Akhir Perjuangan Ibu Untuk Anak-ku

Sinna Ainun Nissa
Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Indonesia.
Konten dari Pengguna
15 Oktober 2023 9:41 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sinna Ainun Nissa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi seorang ibu angkat anak lelaki ke atas, Sumber: pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang ibu angkat anak lelaki ke atas, Sumber: pixabay.com
ADVERTISEMENT
Siang hari dengan terik panas matahari ibu yang sedang berjemur baju satu demi satu, seseorang anak lelaki yang datang membawa tas rasel berwarna merah tua, memasang wajah yang sedih dan kesal.
ADVERTISEMENT
Anak itu menghampiri ibu nya, melihat anak nya yang ingin menangis dengan khawatir seorang ibu ia pun langsung bertanya kepada anaknya.
"Kenapa nak?" ucap ibu begitu halus, segera ibu membawa anak nya untuk masuk ke dalam rumah.
Tidak ada jawaban dari sang anak, ibu mencoba kembali bertanya kepada anak nya.
"Cerita sama ibu, kenapa nak?..." ibu yang mulai khawatir dengan tingkah sang anak.
Tidak mau menjawab bertanya ibu nya, anak itu hanya menangis saja membuat ibu pusing dan khawatir dengan kelakuan anak nya.
Sepuluh menit lama nya, ibu mendiamkan sang anak dari tangisannya setelah sudah berhenti  dari tangisannya.
"Ibu bilang mau belii aku lks" jeritan sang anak.
"Aku malu tidak punya lks... sisa aku yang belumm" jeritan sang anak lagi.
ADVERTISEMENT
"Besok ibu belikan ya nak" ibu.
"Ibu selalu bilang besok! besok! tapi tidak dibeli kan" ucapan kesal sang anak lalu pergi ke arah kamar.
Sang ibu hanya bersabar dengan kelakuan anak nya, berusaha mengerti rasa kesal sang anak ibu yang menangis mencoba berpikir untuk mencari uang untuk besok.
Malam Hari...
Sumber: pixabay.com
Malam hari yang sunyi terdengar suara rintikan air hujan di malam ini, seseorang bapak berkulit sawo matang yang memiliki badan kurus, bapak masuki ke dalam rumah.
"Assalamualaikum buu"
"Waalaikumsalam pak, yaa allah pak kok basah semua baju bapak?" tanya khawatir ibu.
"Kehujanan bu" jawab pak.
Setelah itu bapak dan ibu sedang di ruang tamu, ibu yang ragu untuk memberi tahukan tentang sang anak di siang hari itu.
ADVERTISEMENT
"Ada apa?" tanya bapak.
"Ini pak, anak kita minta belikan lks" jawab ibu.
"Bapak belum gajian bu, tapi bapak usahakan cari pinjaman"
"Jangan pak, kalau minjam nantu bayar bakal lebih mahal" khawatir ibu.
"Gapapa bu, asal anak kita bisa belajar"
Satu hari kemudian...Sang anak senang telah di belikan buku lks oleh orang tua nya, dia tidak lagi menangis dan kesal kepada ibu nya.
Tetapi bapak yang berbaring lemah, ibu yang menangis untuk suami nya yang sedang berbaring lemah, merawat suami dengan apa ada nya karna ibu tidak memiliki uang lagi.
"Buuuu, aku mau mainn berikan aku uang" minta sang anak.
"Ibu tidak ada uang nak"ibu.
"Ibu bagimana siii! tidak ada uang mulu" jeritan kesal sang anak.
ADVERTISEMENT
Sabar dan sabar yang bisa ibu hadapi dengan anak nya, ibu berusaha mencari rupian di selipan baju dilemari, pencarian nya tidak sia-sia meski hanya mendapatkan dua ribu saja.
"Nak ibu punya uang nih" ucapan ibu gembira.
"Mana bu" sang anak.Ibu langsung memberikan uang nya kepada sang anak, anak nya hanya memasang wajah kecewa.
"Aku mau uang lima ribu ibuuuu!" jeritan kesal anak.
"Ibu tidak punya uang segitu nak"
"Bodooo aku kesal ama ibuuu" kesal sang anak lalu pergi keluar meninggal kan ibu nya.
Air mata jatuh ke pipi seseorang ibu, begitu sakit hati nya dengan berkataan sang anak kepada nya.
"Ya allah ampunin lah anak ku" doa sang ibu.
Lima Bulan Kemudian...
Sumber: pixabay.com
Bulan demi bulan berjalan baik dengan kondisi keluarga nya, karna ibu berjualan lontong, gorengan dan pecel sayur keliling kampung nya saja.
ADVERTISEMENT
Ibu yang berjualan untuk menuhin kebutuhan sehari-hari terutama uang jajan untuk sang anak, bapak yang tidak bisa berkerja lagi karna kondisi nya yang sedang lemah.
"Ibuuu" panggil sang anak.
"Kenapa nak?" tanya ibu dan menurun kan dagang nya.
"Aku mau ujiann tapi belum punya kartu, kapan ibu bayar uang ujiann"
"Sabar ya nak uang ibu belum cukup" kata ibu.
"Ibu selalu bilang gitu, aku mau ujiannn buu" jeritan nya lagi.
"Besok ibu ke sekolahan kamu"
"Benar ya? awas saja ibu bohongg" ancam sang anak.
Sang anak langsung meninggal halaman rumah untuk bermain bersama kawan-kawan nya, ibu yang segera masak air panas akan ia buat teh panas untuk suami nya.
Melihat suami yang masih tidur di kasur, ibu segera membangunkan suami nya untuk makan dan minum obat.
ADVERTISEMENT
"Pak bangun... makan pak" ucapan ibu halus kepada suami nya.
"Iyaa buu" jawab bapak yang masing menutupu matanya.
Akhir nya, dipagi hari ibu pergi ke sekolah sang anak dan datangi ruang tata usaha meminta dan memohon untuk diberikan ke mudahan membayar uang ujian sekolah sang anak, dengan senang hati pihak sekolah memberikan ke mudahan untuk membayar uang ujian sang anak nya.
"Allhamdulillah alhamdulillah, terima kasih banyak ibuu" ucapan senang sang ibu.
Setelah pulang dari sekolah sang anak ibu langsung berjualan karna hari mulai mendung, ke mungkinan hari ini akan hujan.
Satu Bulan Kemudian...
Sumber: pixabay.com
Sang suami sehat dari penyakit nya dan mulai berkerja seperti biasanya, berganti dengan sang istri yang sedang berbaring sakit.
ADVERTISEMENT
"Nak tolong kamu jagain ibu mu, bapak ingin berangkat dulu" minta sang bapak.
"Iya bapak"Bapak pun menyalakan sebuah sepeda motor nya, dan perlahan-lahan meninggalkan halaman rumah.
lima belas menit sang anak mulai bosan di dalam rumah, pergi ke kamar untuk meminta ijin bermain kepada ibu nya.
"Buuuu" panggil sang anak.Tidak ada jawaban dari sang ibu.
"Aku ijin main ya sebentar" kata sang anak, tidak ada jawaban dari ibu sang anak langsung pergi meninggalkan sang ibu sendiri dirumah.
Sore hari sang anak pulang kerumah dengan pakaian yang kotor penuh debu, melihat sabf ibu masih setia tidur dari tadi pagi.
"Buuu aku mau makan" ucap sang anak dikunjung jawaban dari ibunya.
"Buuuuuu!!" teriak sang anak.
ADVERTISEMENT
"Aku mau makannnnn" jeritan sang anak, tak ada jawaban dari sang ibu.
Sang anak pun mulai khawatir ibu nya yang masih tidur tidak menjawab jeritan dia, anak itu mulai menggoyangkan tubuh sang ibu untuk bangun tapi tidak bangun juga.
Ia mulai panik,khawatir dan menangis air mata yang terus keluar tanpa henti.
"Buuuu!!! bangunn buuu!!!" jeritan tangisan sang anak.
"Buuuu aku mau makannnn iiihhsss" tangisan nya lagi, ibu nya masih belum bangun juga ia segera keluar meminta tolong kepada tetangga nya.
Bergegas untuk minta bantuan kepada warga dan tetangga, ia langsung keluar rumah dan berteriak minta tolong.
"Tolonggggg..." teriak nya.
"Kenapa nakkkk?" tanya ibu tetangga nya.
"Ibu aku tidak bangun-bangub buu" jawab sang anak sambil menangis.
ADVERTISEMENT
"Astaggga" kaget nya ibu itu dan segera masuk rumah ku.
Pagi Harii...
Sumber: pixabay.com
Di pagi hari yang sunyi, aku menangis dalam pelukan sang bapak banyak keluarga dan warga kampung yang hadir di kemakaman ibu aku, sore itu ibu ku sudah tiada kini hanya ada aku dan bapak.
Kayu nisan yang bertulis nama ibu dan tanah yang menumpuki tubuh ibuku, terakhir itu adalah jeritan terakhir dengan ibu, aku memberikan beban berat kepada ibu.
Menangis penuh kesalahan dan penyesalan kepada ibu, banyak sekali garis luka yang telah aku berikan tidak ada kebahagian untuk ibu.
Ibu meninggal karna kelelahan, lelah merawat anak yang penuh dosa seperti aku tidak lagi ruang menebus dosa aku kepada nya, yang hanya bisa memberikan doa untuk nya.
ADVERTISEMENT
"Bu maafin aku buuuu..." ucap aku dan bapak mengelus punggung aku.
"Aku bakal jagain bapak bu, ibu jangan khawatir disana"
"Jangan khawatir anak ibu yang buat ibu kecewa"
"Buuu maafkan akuu..."
Sang anak mulai merawat rumah dan bapak nya, ia merasakan seperti apa yang ibu rasakan sungguh berat nya tapi begitu berat untuk ibu merawat anak dan suami.
Kali ini sang anak tidak sering bermain lagi, ia lebih sering dirumah beribadah dan berdoa untuk ibu.
Sumber: pixabay.com
Terima kasih untuk pengkuat hati saat aku membuat ibu lelah, Terima kasih untuk kebesaran hati saat aku membuat ibu menangis
- untuk ibu dari ku.
Selesai