Cerpen: Seperti Deja Vu
Tulisan dari Sinna Ainun Nissa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam meruncing dalam kesunyian, menghadirkan suasana yang terasa asing namun akrab, seperti perasaan yang pernah singgah lalu menghilang. Ada dorongan untuk pergi sejauh mungkin, menghindari rasa perih yang kembali menyapa, tetapi hatiku justru tertahan bukan karena kuat, melainkan karena takut mengulang luka yang sama. Aku berlari, bukan untuk menemukan keselamatan, melainkan untuk menghindari kenyataan bahwa perasaan ini tak pernah benar-benar pergi.
Di antara puing janji-janji lama yang telah runtuh, satu rasa tiba-tiba hidup kembali di dalam diriku perlahan, namun menghunjam. Ini terasa seperti deja vu yang kejam perasaan lama dengan detak yang sama, datang dengan wajah baru namun luka yang serupa. Ia begitu asing, tetapi juga terlalu akrab, seolah aku terjebak dalam lingkar waktu antara masa lalu dan kini. Namamu kembali menyusup ke dalam diamku, membangunkan harapan yang seharusnya telah lama terkubur, hanya untuk membuatku bertanya apakah aku jatuh lagi, atau sejak awal tak pernah benar-benar bangkit.
Ada nostalgia yang mengendap dalam rasa ini, rindu pada janji dan mimpi masa lalu yang dulu terasa abadi. Kenangan itu kini seperti bayangan samar, tetapi kehadiranmu mengoyak semuanya. Kau kembali sebagai sosok yang dulu menghilang, sosok yang meninggalkan janji dalam keadaan terputus. Seolah waktu dipaksa berputar ulang, memberiku kesempatan yang tak kuminta namun tak mampu kutolak.
Di antara rindu dan kecewa yang saling bertabrakan, aku terdiam. Aku bertanya pada diriku sendiri
"apakah kedatanganmu adalah upaya menepati janji yang tertinggal, hanya sekadar pengingat bahwa tidak semua mimpi diciptakan untuk diulang dan disempurnakan."
Meski semua ini terasa seperti pengulangan dari rasa yang pernah melukaiku, aku menyadari satu hal aku masih mencintaimu. Cinta ini hadir di tengah deja vu, rapuh namun jujur, hidup meski dibayangi akhir yang sama. Maka dengan sisa keberanian yang kupunya, aku mengakuinya perasaan ini belum mati. Dan jika waktu kembali mengujiku, biarlah cinta ini menjadi alasanku untuk bertahan di dalam pengulangan, bukan untuk kembali melarikan diri.

