Efisiensi Bukan Segalanya: Mencari Makna Mikroekonomi dalam Dunia Nyata
Tulisan dari Sindy Sisilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam bangku perkuliahan Ekonomi Mikro Menengah, kita kerap dicekoki dengan premis bahwa pasar yang kompetitif akan menghasilkan efisiensi Pareto. Namun, seiring mendalami realitas sosial-ekonomi Indonesia—terutama di sektor informal, pertanian, hingga UMKM—gagasan efisiensi tampak seperti mitos yang dipertahankan hanya di atas kertas kerja akademik. Kenyataannya, pelaku ekonomi seringkali tidak mengejar efisiensi, tetapi kelangsungan hidup. Kita belajar tentang struktur pasar ideal: persaingan sempurna, monopoli, oligopoli, dan monopolistik. Namun, di dunia nyata, yang terjadi adalah campur aduk dari semua itu. Contohnya, warung kelontong di gang sempit bukan bersaing soal harga termurah, tapi soal relasi sosial—siapa yang boleh utang dan siapa yang sudah biasa datang. Ini adalah bentuk "inefisiensi relasional" yang justru menopang ekonomi rakyat. Dalam mikroekonomi menengah, konsep marginal utility, marginal cost, dan elasticity menjadi alat analisis utama. Tapi mari jujur: seberapa sering ibu-ibu pasar menghitung elastisitas permintaan sebelum menaikkan harga cabai? Mereka tak pakai kalkulus; mereka pakai intuisi yang dibentuk oleh puluhan tahun pengalaman. Ini membuktikan bahwa mikroekonomi bukan semata tentang angka, tapi soal insting ekonomi yang tak bisa direduksi menjadi fungsi matematis. Kita juga diajarkan bahwa produsen rasional akan memaksimalkan keuntungan saat MR = MC. Namun dalam praktiknya, banyak pelaku usaha kecil yang menolak memperbesar usaha meski permintaan tinggi. Mereka takut kehilangan kendali, takut utang, dan lebih memilih stabil daripada ekspansi. Rasionalitas mereka bukan soal profit maksimum, tetapi kontrol atas hidup sendiri. Ini adalah bentuk rasionalitas alternatif yang nyaris tak dibahas dalam teori konvensional. Ketimpangan pasar tenaga kerja juga kerap dibahas dalam ekonomi mikro menengah melalui teori upah efisiensi atau diskriminasi pasar. Tapi siapa yang bicara tentang pekerja ojek online yang tak bisa menentukan upahnya sendiri karena sistem algoritma? Mereka ada dalam pasar tenaga kerja digital yang tidak kompetitif, tidak transparan, dan tak bisa dinegosiasikan. Ini bukan monopoli, bukan juga monopsoni. Ini adalah kekuasaan yang tak terlihat, namun nyata dampaknya. Mikroekonomi menengah juga berbicara tentang eksternalitas dan kegagalan pasar. Tapi kegagalan macam apa yang menjelaskan mengapa para petani masih miskin padahal harga pangan terus naik? Pasar tidak gagal—pasar memang didesain untuk tak adil sejak awal. Maka, solusi tak cukup sekadar subsidi atau pajak pigouvian. Kita butuh etika baru dalam memandang pasar: bahwa tidak semua harus efisien, dan bahwa keadilan bisa jadi lebih penting daripada surplus total. Bukan berarti teori mikro menengah tak berguna. Ia tetap penting sebagai kerangka awal berpikir. Namun, jangan biarkan teori menutup mata kita dari realitas. Justru dengan memahami batasan teori, kita bisa menggunakannya lebih bijak. Mikroekonomi harus membumi, bukan menjulang di awang-awang logika idealis yang tak bisa disentuh oleh tukang sayur, buruh harian, atau pelaku usaha rumahan. Kesimpulan: Ekonomi mikro menengah bukan sekadar alat analisis rasionalitas matematis, tapi bisa menjadi jendela untuk memahami manusia dan keputusan-keputusan yang penuh emosi, risiko, dan ketidakpastian. Sudah saatnya kita melihat efisiensi bukan sebagai tujuan utama, tapi sebagai opsi di antara banyak tujuan hidup ekonomi yang lebih manusiawi. Sebab dalam dunia nyata, yang irasional bukan pelaku pasar, tapi ekspektasi akademis yang mengabaikan keragaman cara hidup.

