Childfree dan Nasib Perekonomian Indonesia

Sindi Wahyu Purbowati
Mahasiswa Aktif Universitas Negeri Malang
Konten dari Pengguna
17 Februari 2023 17:24 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sindi Wahyu Purbowati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi pasangan Childfree (sumber:https://pixabay.com/id/images/search/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pasangan Childfree (sumber:https://pixabay.com/id/images/search/)
ADVERTISEMENT
Saat ini ramai dibicarakan mengenai childfree, suatu keputusan seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak atau keturunan baik anak kandung, mengadopsi ataupun lainnya. Keputusan untuk tidak memiliki keturunan tidak dapat diputuskan secara tiba-tiba. Banyak alasan yang mendasari mereka dengan tegas memutuskan untuk tidak memiliki keturunan. Dapat disebabkan karena sudut pandang atau pola pikir dari negara asing, mengikuti aturan-aturan di negara asing, rasa trauma atas masa lalu yang diturunkan dari orang tua, tidak memiliki kemampuan untuk menjadi orang tua. Terlepas dari itu, keputusan dari masing-masing pasangan harus tetap dihargai yang pada dasarnya juga memiliki dampak negatif dan positif.
ADVERTISEMENT
Salah satu dampak negatif yang disebabkan karena putuskan childfree adalah kurangnya penduduk usia produktif di masa mendatang. Berkurangnya usia produktif tentu akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Suatu negara akan membutuhkan penduduk usia produktif karena mereka memiliki tenaga dan kemampuan yang lebih untuk tetap melanjutkan pertumbuhan ekonomi yang bersifat regenerasi.
Indonesia tentu saja tidak akan membiayai dan menanggung seluruh kehidupan penduduk usia tua, hal ini justru akan menjadi beban bagi negara. Di sisi lain, pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali atau pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat juga akan berdampak negatif. Artinya putuskan untuk childfree juga berdampak positif.
Pertumbuhan penduduk yang cepat dapat menjadi modal bagi perekonomian suatu negara. Dengan syarat, penempatan penduduk usia produktif dengan lapangan pekerjaan dapat tersebar merata. Akan tetapi, jika negara mengalami pertumbuhan penduduk dengan cepat dan menciptakan banyak pengangguran justru akan meningkatkan kualitas negara karena meningkatnya kemiskinan.
ADVERTISEMENT
Lalu bagaimana dengan perekonomian Indonesia?
Berdasarkan data yang tercantum pada Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2022 diproyeksikan sebesar 275 773,8 juta jiwa. Sedangkan pada tahun 2021 jumlah penduduk Indonesia sebesar 272 682,5 juta jiwa yang artinya pertumbuhan penduduk telah mengalami peningkatan. Dari kondisi sekarang, childfree bisa menjadi salah satu upaya masyarakat untuk mengurangi laju pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahunnya. Namun, jika childfree ini terus berkembang tentu saja akan berdampak buruk untuk perekonomian di masa mendatang.
Suatu negara semakin kehilangan penduduk usia produktif dan para pekerja mulai memasuki usia non produktif. Hal ini akan mendorong rendahnya tingkat produktivitas suatu negara. Masyarakat akan kehilangan suatu pekerjaan karena termakan oleh daya produktivitas dan lapangan pekerjaan akan kehilangan sumber daya manusia produktif. Rendahnya pendapatan masyarakat yang dibarengi oleh rendahnya produksi barang dan jasa menghentikan perputaran perekonomian negara. Kondisi ini akan berpengaruh besar pada laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).
ADVERTISEMENT
Untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan memulihkan perekonomian negara, pemerintah melakukan kebijakan dengan pemberian Bantuan Sosial (Bansos) kepada masyarakat. Dengan adanya pendapatan, mendorong tingkat konsumsi rumah tangga dan UMKM bisa berjalan.
Lebih buruknya lagi, kebijakan ini justru menjadikan masyarakat Indonesia menjadi ketergantungan dan berlomba lomba untuk mendapatkan bantuan tersebut. Kondisi masyarakat yang seperti ini hanya akan menjadi beban untuk negara Indonesia.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa childfree berdampak buruk pada perekonomian Indonesia akibat produktivitas negara tidak memiliki generasi selanjutnya, mayoritas penduduk dengan usia non produktif, lapangan pekerjaan akan semakin hilang dan tidak terjadi perputaran perekonomian negara. Dan untuk mengatasi laju pertumbuhan penduduk yang semakin pesat, dapat diatasi dengan program pemerintah yang biasa disebut dengan Keluarga Berencana (KB).
ADVERTISEMENT