Konten dari Pengguna

4 Film Adaptasi Novel Tere Liye yang Sayang untuk Dilewatkan

Sinema Update

Sinema Update

Menyajikan informasi terkini seputar dunia sinema, mulai dari series, drakor, film, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sinema Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film Adaptasi Novel Tere Liye. Foto: Pexels/Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Film Adaptasi Novel Tere Liye. Foto: Pexels/Pixabay

Tere Liye adalah salah satu penulis populer di Indonesia dan dikenal lewat karyanya yang menakjubkan. Tak heran jika film adaptasi novel Tere Liye mendapatkan popularitas tinggi dan menarik para penggemar Indonesia.

Mengutip situs p2k.stekom.ac.id, Tere Liye adalah penulis berkebangsaan Indoesia yang memulai debutnya pada tahun 2005 melalui novel Hafalan Shalat Delisa, dan telah menerbitkan lebih dari 50 buku sepanjang kariernya.

Film Adaptasi Novel Tere Liye

Film Adaptasi Novel Tere Liye. Foto: Pexels/Pixabay

Kedalaman emosi, tema spiritualitas, dan realitas sosial yang diangkat membuat novel Tere Liye tak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh sisi reflektif penonton. Berikut adalah film adaptasi novel Tere Liye.

1. Hafalan Shalat Delisa (2011)

Hafalan Shalat Delisa berpusat pada Delisa, seorang gadis kecil yang ceria dan penuh semangat yang tinggal di sebuah desa nelayan di Lhok Nga, Aceh.

Ia sedang menghadapi ujian shalat sebagai tugas sekolah, didampingi oleh Umi dan kakak. Namun, kehidupan bahagia Delisa berubah drastis ketika gempa besar disusul tsunami melanda Aceh pada tahun 2004.

Dalam tragedi itu, Delisa kehilangan ibu dan ketiga kakaknya, sementara ia sendiri berhasil selamat meski kehilangan satu kakinya.

Meski penuh duka, Delisa tetap berusaha tegar dan tetap mengingat hafalan shalatnya, yang menjadi simbol kekuatan dan harapan dalam hidupnya. Ia kini hidup berdua bersama ayahnya dan warga yang masih selamat.

2. Bidadari-bidadari Surga (2012)

Film ini mengisahkan kehidupan Laisa, anak tertua dari lima bersaudara yang tinggal di Lembah Lahambay. Ia berwajah tidak sempurna, berkulit gelap, bungkuk, dan berkaitan fisik yang sederhana. Sementara adik-adiknya tampak lebih menarik.

ejak ayah mereka meninggal, Laisa memikul tanggung jawab besar untuk menopang ekonomi keluarga. Sebagai seorang kakak, Laisa berusaha sendiri membahagiakan adik-adiknya, bahkan menanggung rasa sakit saat perjodohan untuknya selalu gagal.

Harapannya sempat muncul ketika Dharma mulai menunjukkan perhatian, tetapi ternyata masih menikah. Dharma mencoba menjalin hubungan poligami karena istrinya belum memiliki anak. Namun, harapan tersebut musnah ketika istrinya hamil.

3. Moga Bunda Disayang Allah (2013)

Karang adalah seorang pemuda yang gemar dan peduli terhadap anak-anak jalanan. Namun hidupnya berubah drastis setelah kecelakaan kapal wisata yang ia pimpin. Dalam kecelakaan itu, 18 anak didiknya menjadi korban.

Trauma mendalam pun menghantuinya, menyebabkan ia mengasingkan diri di pulau terpencil dan menjadi pemabuk, bahkan memutus hubungan dengan sang kekasih, Kinarsih. Suatu hari, ia diminta untuk mengajar Melati yang buta, tuli, dan bisu.

Awalnya Karang menolak, tetapi akhirnya setuju meski masih dalam kondisi mabuk dan frustrasi, sehingga metodenya pun kasar dan membuat Melati takut. Seiring waktu, Karang mulai sabar dan Melati perlahan bisa berkomunikasi.

Konflik batin Karang pun menemukan titik balik saat ia menyadari bahwa keberhasilan Melati membuatnya mampu menghadapi masa lalunya. Trafik emosional ini juga membawa pulih hubungan Karang dengan Kinarsih.

4. Rembulan Tenggelam di Wajahmu (2019)

Ray yang berusia 60 tahun sedang sekarat dan hilang arah. Terbaring di ranjang rumah sakit, ia dihampiri oleh sosok pria yang mengajaknya melakukan perjalanan ke masa lalu untuk menemukan jawaban atas lima pertanyaan hidup.

Dalam kilas balik yang emosional, Ray diingatkan kembali momen-momen penting di berbagai fase hidupnya, masak kecil, remaja, hingga menjadi orang sukses. Dalam perjalanan tersebut, ia mulai berdamai dengan kesendirian dan sakitnya.

Demikianlah film adaptasi novel Tere Liye. Dengan perpaduan narasi yang mendalam dan sinematografi yang memikat, film-film ini layak mendapat tempat di hati penonton Indonesia. (Nab)

Baca Juga: 5 Film Zombie Jepang Terbaik dan Sinopsisnya