Konten dari Pengguna

Dibalik puisi أحنُّ إلى خبز أمي (Aku rindu Roti Ibuku) Karya Mahmoud Darwis

Singgih Fauzie

Singgih Fauzie

Mahasiswa UIN Jakarta

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Singgih Fauzie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dibalik puisi أحنُّ إلى خبز أمي (Aku rindu Roti Ibuku) Karya Mahmoud Darwis
zoom-in-whitePerbesar

Mahmud Darwis adalah seorang penyair terkenal di tanah Arab, khususnya di Palestina. Ia mulai menulis puisi sejak duduk di bangku sekolah. koleksi puisi pertamanya diterbitkan pada tahun 1960 ketiuka ia masih berumur 19 tahun. kemudian koleksi keduanya, Awraq al-Zaytun (1964) mengantarkannnya mendapatkan untuk reputasi menjadi salah satu pelopor puisi-puisi perlawanan. Hingga ia dinobatkan sebagai penyair yang menjadi ikon Negara Palestina. Selain tema cinta, tujuan utama dari puisi-puisinya adalah memperjuangkan nasib tanah airnya. Hal ini dikarenakan konflik yang tak berkesudahan antara Palestina dengan Israel. Hingga membangunkannya untuk menulis puisi-puisi perlawanan.

Mahmud Darwis telah mewariskan berbagai karya yang besar bagi sastra modern di dunia Arab. Jika dijumlahkan, ia telah menulis sebanyak 40 antologi puisi semasa hidupnya. Salah satu puisinya yang terkenal berjudul أحنُّ إلى خبز أمي (Aku Rindu Roti Ibuku) ternyata memiliki kisah yang menyedihkan.

Mahmud Darwis adalah anak kedua dari enam bersaudara. Ibunya bernama Houreyyah dan ayahnya bernama Salim. Ia menganggap posisinya yang menjadi anak tengah diantara keluarganya kurang mendapat perhatian, seolah-olah ia menjadi anak yang terpinggirkan, Kemudian ia pun menganggap bahwa orang tuanya tidak lagi menyayanginya.

Menurut psikolog yang juga dosen di Universitas Airlangga, Rudi Cahyono., M. Psi., beberapa orang tua atau bahkan seorang anak tengah merasa bahwa anak tengah adalah anak yang paling bermasalah. Hal tersebut juga kerap dikaitkan dengan masalah psikologis anak tengah yang disebut Middle Child Syndrome. Salah satu cirinya adalah sang anak sensitif terhadap perlakuan orang tua; berusaha menarik perhatian; dan sering muncul reaksi memberontak, menarik diri, marah, dan lain sebagainya. tergantung pada bagaimana orang tua memperlakukan dia atau saudaranya.

Rasa yang Mahmud pendam terhadap orang tuanya terus ia bawa hingga dewasa. Sampai pada tahun 1965 ia ditangkap oleh tentara Israel karena membacakan puisi di Universitas Al-Quds tanpa mengantongi izin. Ia pun menjadi tahanan di penjara Ar-Ramlah.

Pada suatu hari, dengan perasaan sedih datanglah sang ibu sambil membawa beberapa roti dan kopi untuk menjenguk anaknya yang sedang mendekam di balik jeruji besi. Ketika ia akan menyerahkan bekal untuk anaknya, para petugas penjara pun melarangnya. Namun sang ibu memaksa dan berusaha agar roti dan kopi yang dibawanya dapat ia serahkan kepada sang anak. Hingga ketika sipir penjara memperbolehkannya, Mahmud langsung menatap wajah ibunya dan menjatuhkan badannya ke dalam dekapan sang ibu. Seluruh jiwanya diselimuti rasa bersalah dan berdosa kepada sang ibu. Kemudian ia mencium tangan lembut ibunya, Sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Lalu ia berkata “ketika aku pergi, aku tidak pernah menemui permintaan maaf selain menuliskan puisi, sebuah permohonan maaf kepada ibuku karena kesalahanku yang tak pernah bisa memahaminya sebagaimana seharusnya seorang anak memahami ibunya.”

Akhirnya ketika ibunya pulang meninggalkan penjara, ia memutuskan untuk menulis sebuah puisi yang berjudul “أحنُّ إلى خبز أمي” (Aku Rindu Roti Ibuku). Namun pada saat itu ia tidak diizinkan untuk menggunakan kertas. Mahmud pun tidak kehabisan akal, ia lalu menuliskan puisinya diatas aluminium foil, lau ia sembunyikan didalam bungkus rokok. Yang kemudian ia bawa ketika bebas dari penjara.

أحنُّ إلى خبز أمي

وقهوة أُمي

ولمسة أُمي..

وتكبر فيَّ الطفولةُ

يوماً على صدر يومِ

وأعشَقُ عمرِي لأني

إذا متُّ ,

أخجل من دمع أُمي !

خذيني ، إذا عدتُ يوماً

وشاحاً لهُدْبِكْ

وغطّي عظامي بعشب

تعمَّد من طهر كعبك

وشُدّي وثاقي..

بخصلة شعر..

بخيطٍ يلوَّح في ذيل ثوبك..

عساني أصيرُ إلهاً

إلهاً أصيرْ.

إذا ما لمستُ قرارة قلبك !

ضعيني , إذا ما رجعتُ

وقوداً بتنور ناركْ...

وحبل غسيل على سطح دارك

لأني فقدتُ الوقوف

بدون صلاة نهارك

هَرِمْتُ , فردّي نجوم الطفولة

حتى أُشارك

صغار العصافير

درب الرجوع ...

لعُشِّ انتظارِك !

Aku Rindu Roti Ibuku

Aku rindu roti ibuku

Kopi ibuku

Dan sentuhan ibuku

Masa kecil tumbuh dalam diriku

Dari hari ke hari

Aku mencintai hidupku

Karena jika aku mati

Aku malu pada air mata ibuku

Bawalah aku jika aku kembali suatu hari nanti

Sebagai tudung bulu matamu

Dan tutupilah tulangku

Dengan rumput yang yang diberkahi oleh sucinya kakimu

Perkuatlah ikatanku

Dengan helai rambut

Dengan benang yang menjuntai dari ujung bajumu

Aku ingin menjadi tuhan

Aku ingin menjadi tuhan

Tatkala aku bersua dengan relung hatimu

Ketika aku pulang, jadikanlah aku

Sebagai bahan bakar tungku perapianmu

Sebagai tali jemuran di atap rumahmu

Karena aku telah hilang pendirian

Tanpa doa siangmu

Aku telah tua

Bawakan aku bintang-bintang masa kecil

Sehingga aku dapat menemani burung-burung kecil

Ke arah pulang

Menuju sarang penantianmu.

"Seseorang hanya dapat dilahirkan di satu tempat. Namun demikian, ia bisa saja mati berkali-kali di tempatlain: di pengasingan dan penjara , dan bahkan di negeri kelahirannya yang telah diubah menjadi mimpi buruk oleh penjajahan dan penindasan. Puisi mengajarkan kepada kita untuk memelihara ilusi penuh pesona itu: bagaimana melahirkan diri kita sendiri berkali-kali dan menggunakan kata-kata untuk membangun dunia yang lebih baik, sebuah dunia bersifat fiksi yang memungkinkan kita menandatangani suatu perjanjian perdamaian yang langgeng dan menyeluruh dengan kehidupan" (Mahmoud Darwish).