Konten dari Pengguna

Rumah Dinas Bude: Cerita Malam dari Kompleks Pabrik Gula

Sinta Dewi Hapsari

Sinta Dewi Hapsari

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sinta Dewi Hapsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sosok dibalik jendela Sumber: Bubbers BB/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sosok dibalik jendela Sumber: Bubbers BB/shutterstock

Cerita Malam dari Kompleks Pabrik Gula

Malam itu sebenarnya malam biasa. Kakakku baru pulang dari bimbingan belajar tambahan untuk persiapan Ujian Akhir Sekolah. Aku ingat dia dijemput pamanku sekitar habis Magrib. Angin malam tipis-tipis basah, masih ada sisa aroma tanah yang lembap karena gerimis sore hari belum benar-benar kering.

Sebelum mereka pulang, ibuku menelepon. Nada suaranya biasa saja, tidak ada firasat aneh. Katanya, "Itu mampir ke rumah dinas Bude, ya. Ambil makanan. Katanya ada lauk banyak takut tidak habis."

Budeku (kakak kandung Ibu) tinggal sendiri di rumah dinas karena bekerja di salah satu pabrik gula besar yang sudah berdiri sejak zaman Belanda. Ya, kamu tidak salah baca. Zaman Belanda. Bangunannya tua-tua, model kolonial dengan pagar besi tua berkarat, pintu kayu dengan kaca kotak-kotak, jendela kayu, dan tirai putih tembus pandang yang selalu terlihat 'bernapas' kalau tertiup angin. Kompleksnya luas, sunyi, dan agak terpisah dari jalan utama.

Pamanku mengendarai motor pelan-pelan ke sana. Kata kakakku, jalan menuju rumah dinas itu seperti lorong waktu. Kiri-kanan pohon tinggi, temaram lampu jalan yang hanya beberapa, sisanya gelap ditemani suara jangkrik. Rumah-rumah di kiri-kanan juga kosong, seperti tidak ditempati.

Waktu itu kakakku turun sendiri. Pamanku tetap di atas motor. Paman dan Budeku memang tidak terlalu dekat, karena pamanku adalah adik ayahku. Kakakku melangkah ke pagar, pagar tua yang harus didorong dua arah supaya bisa terbuka penuh. Baru juga sentuh tuas besi itu, dari balik jendela rumah dinas yang paling ujung, dia melihat ada gerakan.

"Wah, Bude sudah di rumah," pikirnya.

Di balik tirai jendela itu, tampak sosok perempuan memakai mukena putih. Kayaknya lagi mengintip, mungkin karena dengar suara pagar terbuka. Rasanya wajar. Mungkin Budeku mau salat Magrib dan penasaran siapa yang datang malam-malam.

Tirai itu ditutup perlahan. Kakakku masuk. Dia berjalan pelan-pelan melewati halaman yang rumputnya tinggi sebelah dan tidak terurus. Ada genangan kecil dekat teras, mungkin sisa hujan tadi. Lalu menaiki tangga keramik abu-abu motif kotak khas rumah lama dengan tiga undakan yang kusam dan berdebu.

Dia berdiri di depan pintu kayu besar, model lawas, dengan jendela kaca. Dia ketuk pelan.

"Bude..."

Sunyi.

Dia ketuk lagi. "Bude... Assalamualaikum..."

Masih tidak ada jawaban. Jendelanya gelap, tidak ada cahaya dari sela pintu. Kakakku mulai ragu, tapi belum takut.

Lima menit berlalu. Pamanku turun juga, mungkin mulai lelah menunggu. Dia ikut naik ke teras, mengetuk pintu lebih keras.

"Kulon nuwun..."

Tetap tidak ada jawaban.

Sepi sekali. Bahkan suara jangkrik seolah jadi pelan. Pamanku mengintip lewat jendela, tapi gelap.

Dan di saat itulah, ibuku menelepon lagi.

"Sudah, pulang saja. Bude tidak di rumah dinas. Ini Bude mampir ke rumah, makanannya dibawa ke sini."

Kata kakakku, langsung merinding. Dia tidak berani cerita ke pamanku. Cuma langsung mengajak pulang. Pamanku pun tidak tahu apa-apa, jadi ya diajak pulang saja.

Pas sudah naik motor, kakakku tidak berani menengok ke belakang. Di pikirannya, dia masih bingung... takut, merinding.

Sampai di rumah, dia langsung masuk kamar, tidak bicara ke siapa-siapa. Baru besoknya dia cerita ke aku dan mama.

Sampai hari ini, dia masih tidak tahu siapa yang mengintip dari balik tirai malam itu. Mukena putih itu terlalu nyata untuk dibilang imajinasi. Tapi terlalu sunyi... untuk benar-benar ada.

Dan malam itu, mungkin salah satunya... cuma pengen menyapa.