Manajemen Rasa Bersalah (Mom Guilt): Mengelola Emosi bagi Ibu Pekerja
Tulisan dari Cut Bella Nurfah Siregar - Mahasiswa Universitas Siber Asia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, dunia berhenti sejenak pada minggu pertama Agustus untuk merayakan World Breastfeeding Week — sebuah gerakan global yang didukung WHO dan UNICEF sebagai pengingat kolektif bahwa menyusui adalah investasi terbaik bagi kesehatan ibu dan bayi. Dibalik kampanye hangat itu ada seorang perempuan yang harus berdiri di antara menjalankan peran idealnya sebagai pengasuh utama namun sekaligus menjadi tulang punggung bagi keluarga kecilnya.
Dunia berkata: “Berikan yang terbaik untuk bayimu.”
Kantor berkata: “Kamu dibutuhkan di sini.”
Mom guilt, atau dalam literatur akademik disebut maternal guilt, merujuk pada perasaan bersalah yang dialami ibu ketika merasa gagal memenuhi standar ideal pengasuhan yang dibentuk oleh norma budaya dan sosial (Rotkirch & Janhunen, 2010; Li et al., 2023). Lebih spesifik, Collins (dalam Li et al., 2023) mendefinisikannya sebagai "a socially induced feeling of negative self-judgement" dimana penilaian negatif terhadap diri sendiri yang dipicu oleh konstruksi sosial, bukan semata kesalahan nyata.
Ibu pekerja tidak hanya menghadapi konflik antara waktu dan tenaga, tetapi juga konflik antara dua ekspektasi yang saling bertentangan: menjadi pengasuh yang penuh kasih dan tidak mementingkan diri sendiri di rumah, namun dituntut menjadi individu yang kompetitif dan ambisius di tempat kerja. Ketegangan ini bukanlah kelemahan pribadi melainkan kontradiksi struktural yang diwariskan masyarakat kepada perempuan. Tidak sedikit ibu pekerja yang akhirnya memilih mengurangi ambisi kariernya sebagai kompensasi atas rasa bersalah yang mereka rasakan di rumah. Keputusan yang terkadang seringkali terlihat personal, tetapi sesungguhnya mencerminkan kegagalan sistem dalam memberikan ruang yang layak bagi perempuan yang menjalankan dua peran sekaligus.
Selain itu mom guilt terkadang hadir dalam bentuk pikiran yang muncul di tengah rapat, kegelisahan saat meninggalkan anak di pagi hari, atau kelelahan yang tidak bisa dijelaskan. Ketika tidak dikelola, dampaknya melampaui soal perasaan seperti identitas perlahan terkikis, kecemasan mengendap menjadi kronis. Ironinya ibu yang terus-menerus merasa bersalah justru menjadi lebih sulit hadir secara penuh saat bersama anak yang merupakan hal inti dari rasa bersalah itu sendiri sejak awal.
Berikut beberapa pendekatan yang secara literatur saya, seorang ibu pekerja sekaligus menyusui, lakukan untuk tetap berdaya dan menjaga kewarasannya:
1. Menemukan Keindahan dalam Ketidaksempurnaan
Psikolog dan dokter anak Donald Winnicott memperkenalkan konsep good enough mother dimana anak tidak membutuhkan ibu yang sempurna, melainkan ibu yang hadir, responsif, dan mampu memperbaiki diri ketika membuat kesalahan. Ritme hidup yang terkadang berantakan, baju yang terkena tumpahan ASI, atau kelelahan di sela-sela jam kerja justru merupakan bentuk 'keindahan' dari perjuangan dan cinta nyata seorang ibu. Dalam perspektif humanistik pun, salah satu sumber penderitaan terbesar adalah kesenjangan antara real self (diri sebenarnya) dan ideal self (diri yang diharapkan). Menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan berarti mengakui bahwa diri yang nyata, dengan segala keterbatasannya, tetap layak dihargai. Dalam paradigma Society 5.0 sekalipun, kemajuan teknologi dan ekonomi hanya bermakna jika mampu meningkatkan kualitas hidup manusia secara menyeluruh — bukan sekadar mengejar produktivitas yang mekanistik dan mengabaikan dimensi emosional manusia.
2. Self-Compassion (Welas Asih pada Diri Sendiri)
Carl Rogers menekankan bahwa pertumbuhan psikologis yang sehat hanya dapat terjadi dalam kondisi penerimaan yang baik dari orang lain maupun dari diri sendiri. Konsep unconditional positive regard dalam teori Rogers, yang awalnya merujuk pada penerimaan terapis terhadap klien, dapat diperluas pemahamannya sebagai prinsip yang relevan bagi seorang ibu: bahwa menerima dan menghargai diri sendiri tanpa syarat adalah langkah awal menuju apa yang Rogers sebut sebagai fully functioning person (individu yang mampu berfungsi secara penuh di tengah tekanan dan ambiguitas kehidupan). Ibu pekerja perlu belajar memperlakukan dirinya seperti ia memperlakukan teman yang sedang berjuang yaitu dengan empati, bukan penghakiman.
3. Menjaga Mindfulness
Rogers juga menekankan pentingnya kesadaran terhadap pengalaman yang sedang berlangsung, fokus pada here and now, bukan terjebak dalam penyesalan masa lalu atau kecemasan tentang masa depan. Ketika pikiran terbelah antara tenggat waktu pekerjaan dan jadwal memerah ASI (pumping), emosi akan mudah meledak. Latihlah batasan yang jelas. Saat sedang bekerja, fokuslah pada pekerjaan. Saat tiba sesi pumping di kantor, tutup laptop sejenak dan hadirkan diri seutuhnya di momen tersebut. Mengambil jeda untuk bernapas dan memusatkan pikiran akan menurunkan hormon stres (kortisol) yang kerap menghambat kelancaran ASI.
4. Membangun Lingkungan yang Mendukung
Rasa bersalah tidak bisa dikelola dalam isolasi. Secara ekologis, kesejahteraan (wellbeing) seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan di sekitarnya. Ibu yang memiliki sistem pendukung yang kuat — baik dari pasangan, keluarga, rekan kerja, maupun komunitas sesama ibu akan cenderung lebih resilien dalam menghadapi tekanan peran ganda. Di lingkungan kerja maupun rumah, kemampuan komunikasi yang akomodatif dan kooperatif menjadi keterampilan yang tidak kalah penting dari kompetensi teknis. Lingkungan yang mendukung tidak terbentuk dengan sendirinya, ia dibangun melalui relasi yang dirawat dengan sadar.
5. Merayakan Kemenangan-Kemenangan Kecil
Maslow menempatkan aktualisasi diri sebagai puncak kebutuhan manusia namun jalan menuju aktualisasi tidak pernah linear. Setiap langkah kecil yang berhasil dijalani oleh seorang ibu pekerja, sekecil apa pun, adalah bagian nyata dari proses pertumbuhan itu. Berhasil pumping ASI di sela rapat, menyelesaikan satu pekerjaan tepat waktu, atau sekadar hadir dengan tenang saat menemani anak tidur malam, semua itu adalah pencapaian yang layak diakui. Merayakan kemenangan-kemenangan kecil ini bukanlah naif melainkan strategi psikologis yang memperkuat kepercayaan diri dan memelihara motivasi jangka panjang di tengah persaingan dunia kerja yang semakin kompleks.
Merayakan World Breastfeeding Week tidak seharusnya berubah menjadi ajang penghakiman bagi mereka yang tidak bisa berpartisipasi dengan sempurna. Mom guilt yang tidak dikelola bukan tanda bahwa seorang ibu gagal namun justru tanda bahwa ibu tersebut terlalu keras menanggung beban yang seharusnya dibagi: oleh pasangan, oleh perusahaan, oleh kebijakan publik, dan oleh masyarakat yang selama ini terlalu nyaman menitipkan standar keibuan ke pundak seorang perempuan saja.
Pada akhirnya, nutrisi terbaik untuk seorang bayi tidak hanya berasal dari apa yang ia minum, tetapi dari rengkuhan seorang ibu yang secara emosional utuh, bahagia, dan bebas dari rasa bersalah yang tidak beralasan. Setiap tetes ASI, setiap pelukan, setiap usaha kecil seorang ibu adalah bentuk cinta yang sedang diperjuangkan. Selamat pekan menyusui bagi para ibu hebat!

