SISINGAMANGARAJA XII: Pahlawan yang Memilih Gugur Daripada Tunduk oleh Sekutu

Mahasiswa Prodi Sistem Informasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Khalisha Dinda Yasmine tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap orang Batak pasti akan mengatakan bahwa ia merupakan turunan dari Si Raja Batak yang merupakan nenek moyangnya. Beberapa kisah menyebutkan bahwa orang Batak tinggal dekat gunung Pusuk Buhit, di tepi sebelah barat Danau Toba. Dari sini permulaan perkembangan penduduk Batak ke daerah lain ke luaar daerah Toba sampai ke daerah lain di pulau Sumatra. Namun, menurut kisah lain, Pulau Sumatra berasal dari kata Pulo Morsa yang merupakan pecahan dari benua Asia pada waktu terjadinya pencairan es di kutub. Menurut turu-turian (mitos) Batak, yang diakui oleh tarombo (silsilah) keluarga, salah seorang turunan raja Sumba, bernama Toga Sinambela mempunyai tiga orang anak masing-masing bernama Tuan na Bolas, Raja Pareme, dan Raja Bona ni Onan. Raja Bona nin Onan Adalah nenek moyang Raja Sisingamangaraja.
Kata Singa berasal dari kata “maninga” yang berarti mengukir atau menggambarkan, yang kemudian diartikan sebagai pola atau patron. Sedangkan kata Mangaraja berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna raja yang maha agung. Kata sandang Si, merupakan kata sandang biasa seperti dalam bahasa Indonesia, karena orang Batak biasanya memakai kata "si" di depan nama seseorang, sehingga arti kata Si Singamangaraja dapat diartikan sebagai "Raja yang agung yang menciptakan hukum dan kehidupan keagamaan".
Menurut buku Arsenius Lumban Tobing, Si Singamangaraja XII, lahir tahun 1846, dan dinobatkan pada usia tujuh atau delapan tahun, atau kira-kira pada tahun 1853 atau 1854 (Diets, Tampoebolon Radja H.A., 1944 : 477). Sisingamangaraja XII dikenal dengan nama Patuan Bosar Ompu Pulo. Satu cara lain untuk menentukan bila Sisiingamangaraja XII dinobatkan, adalah ukuran kedewasaan bagi masyarakat pada saat itu, yaitu kira-kira pada usia 14 atau 15 tahun. jika benar Sisingamangaraja XII lahir tahun 1846, maka ia dinobatkan antara tahun 1861 atau 1862, pada awal Perang Batak, 1877, ia berusia 30 tahun harusnya sudah mempunyai beberapa orang anak, dan pada tahun 1907 ia telah berusia 60 tahun sebuah usia yang terlalu tua untuk berperang apalagi dengan gigi yang buruk. Dugaan untuk mendekati kebenaran untuk menentukan tahun penobatan Raja Si Singamangaraja XII, kira-kira antara tahun 1870 dan 1876. Selain raja ia pun menjadi kepala adat sekaligus pemimpin agama yang disebut Parmalim. Seperti juga para leruhurnya, Raja Si Singamangaraja XII selalu mengadakan perjalanan keliling mengunjungi rakyatnya. Ia juga mengadakan hubungan dengan raja-raja dan penguasa-penguasa di Aceh dan Sumatra Timur.
Pada periode awal pemerintahannya, terjadi penyebaran agama Kristen yang dipimpin oleh Nommensen dari Jerman yang sedang berlangsung di Tapanuli. Belanda saat itu ikut masuk dengan berlindung dibalik kegiatan tersebut. Tetapi perlahan-lahan Belanda mulai menunjukkan tujuan utama mereka yang tidak baik, yaitu menguasai wilayah yang dikuasai Sisingamangaraja XII. Akhirnya Sisingamangaraja XII mengadakan rapat dengan para raja dan panglima yang ada di daerah Humbang, Toba, Samosir dan Pakpak. Selanjutnya, dari rapat tersebut diperoleh kesepakatan bahwa mereka akan bersatu untuk melawan Belanda. Ketegangan antara Belanda dengan Sisingamangaraja XII meningkat hingga timbul konflik yang tidak terelakkan, upaya jalan damai sudah tidak bisa ditempuh lagi. Pada tanggal 19 Februari 1878, Sisingamangaraja XII bersama dengan rakyat Tapanuli mulai melancarkan serangan terhadap pos Belanda yang ada di Bahal Batu, dekat Tarutung. Pertempuran yang tidak seimbang ini akhirnya membuat Sisingamangaraja XII dan pasukannya kalah.
Sisingamangaraja XII dan pasukan terpaksa untuk mundur dari Bahal Batu, tetapi perlawanan pasukan Sisingamangaraja XII masih tinggi. Terutama yang ada di desa-desa yang belum ditaklukkan Belanda, seperti Butar, Lobu Siregar, Balige dan Tangga Bantu. Hal ini juga membuat Belanda semakin gencar untuk menaklukkan Sisingamangaraja XII hingga ke desa-desa. Belanda melakukan pembakaran serta mengurung raja yang ada di desa-desa, akibatnya pertempuran ini meluas hingga ke berbagai daerah seperti Bakkara dan lainnya, meskipun begitu Sisingamangaraja XII tetap melakukan perang gerilya.
Pada Mei 1883, Sisingamangaraja XII menggempur pos Belanda yang ada di Uluan dan Balige. Pada tahun 1884 akhirnya kekuatan Belanda yang ada di Tangga Battu berhasil ditundukkan oleh Sisingamangaraja XII. Belanda akhirnya melakukan cara untuk berdamai dan menawarkan penobatan pada Sisingamangaraja XII sebagai Sultan Batak dengan hak Istimewa. Tetapi beliau menolaknya dengan sangat tegas. Pada tahun 1904, Belanda melakukan pengepungan yang sangat ketat sehingga Sisingamangaraja XII tidak bisa berkutik. Upaya keras yang dilakukan Belanda berbuah hasil dengan mengetahui di mana tempat persembunyian Sisingamangaraja XII dan pasukannya, yaitu di Hutan Simsim. Pada tanggal 17 Juni 1907, markas Sisingamangaraja XII akhirnya dikepung oleh Belanda. Di sana terdapat pertempuran jarak dekat, komandan pasukan Belanda meminta Sisingamangaraja XII untuk menyerah. Sisingamangaraja XII masih di iming-imingi kekuasaan menjadi Sultan Batak, tetapi Sisingamangaraja XII tetap teguh pendirian tidak mau tunduk dan memilih lebih baik mati dari pada harus tunduk.
Terjadilah pertempuran yang sengit di sana, akhirnya menewaskan hampir seluruh keluarga dan pasukan dari Sisingamangaraja XII. Akhirnya, Patuan Bosar Ompu Pulo alias Raja Sisingamangaraja XII bersama 2 putra dan 1 putrinya hingga beberapa panglima nya yang berasal dari Aceh gugur sebagai kusuma bangsa. Meskipun ada pilihan menjadi Sultan Batak, Sisingamangaraja XII memang terkenal keras sehingga pendirian nya tidak goyah sama sekali untuk menentang Belanda. Banyak pertempuran sengit yang beliau hadapi, hingga akhirnya beliau wafat dengan menjadi pahlawan bangsa.
Perjuangan Sisingamangaraja dalam mempertahankan tanah Batak menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati dan jalani hari ini merupakan hasil pengorbanan besar para pahlawan yang rela berjuang tanpa pamrih. Peran dan pengaruhnya bagi Indonesia tidak hanya terekam dalam Sejarah perjuangan fisik, tetapi dalam nilai-nilai moral dan spiritual yang terus menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan bangsa agar generasi berikutnya memiliki rasa cinta tanah air, berani dan pantang menyerah, bijak dalam memimpin, rela berkorban, semangat dalam persatuan, taat kepada Tuhan, dan teguh akan prinsip.
