Di Balik Diamnya Seorang Anak: Mengapa Hubungan dengan Ayah Terasa Canggung

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di universitas pamulang dengan program studi akuntansi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Siska Sri Gustiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda berada di satu ruangan bersama ayah, namun suasana terasa begitu sunyi hingga detak jam dinding terdengar jelas? Bagi sebagian anak, berbicara dengan ayah terasa seperti menghadapi ujian berat: kaku, penuh kehati-hatian, dan diakhiri dengan obrolan formal seputar studi atau pekerjaan.
Fenomena hubungan yang canggung antara anak dan ayah bukanlah hal baru, namun kerap kali dibiarkan larut tanpa solusi. Di balik diamnya seorang anak, sering kali ada kerinduan yang tertahan, sekaligus tembok besar yang sulit diruntuhkan. Mengapa kehangatan dengan figur ayah begitu mahal bagi sebagian orang?
Jembatan Komunikasi yang Patah: Mengapa Hubungan Terasa Jauh?
Psikolog perkembangan sering menyoroti adanya "jarak emosional" yang terbangun sejak masa kanak-kanak. Berbeda dengan ibu yang cenderung mendampingi anak dalam mengekspresikan emosi harian, hubungan dengan ayah sering kali bersifat transaksional atau instruksional.
Konstruksi Sosial "Ayah Harus Kuat dan Kaku"
Sejak dulu, budaya patriarki dan norma sosial membentuk citra bahwa pria atau ayah harus menjadi sosok yang tangguh, pencari nafkah utama, dan tidak boleh menunjukkan kerapuhan. Dampaknya, ayah sering kali menahan emosional mereka, yang kemudian diterjemahkan oleh anak sebagai sikap dingin atau tidak peduli.
Sindrom Fatherless secara Emosional
Fatherless bukan hanya tentang anak yang kehilangan sosok ayah karena perceraian atau kematian. Ada fenomena bernama emotional fatherlessness, di mana ayah hadir secara fisik di rumah, namun absen secara psikologis. Ayah ada di ruang tamu, namun pikirannya berada di tempat kerja atau layar gawai.
Komunikasi yang Terlambat Dibangun
Ketika anak masih kecil, kedekatan fisik mungkin terasa mudah. Namun, saat anak memasuki usia remaja dan mulai memiliki privasi, ego, serta konflik internal, banyak ayah bingung bagaimana cara menembus dunia baru anaknya. Ketidakmampuan merespons perubahan ini sering kali berujung pada pilihan aman: sama-sama diam.
Dampak Psikologis pada Perkembangan Anak
Diamnya anak di hadapan ayahnya bukan tanpa konsekuensi. Hubungan yang dingin ini meninggalkan jejak emosional yang cukup signifikan hingga anak tumbuh dewasa.
Pencarian Validasi yang Salah: Anak yang tidak mendapatkan afirmasi dan kasih sayang dari ayahnya cenderung mencari validasi eksternal. Pada anak perempuan, ini sering kali memicu kecenderungan father hunger, di mana mereka rentan terjebak dalam hubungan yang tidak sehat demi mencari figur pelindung.
Kesulitan Mengekspresikan Emosi: Anak laki-laki yang tumbuh dengan ayah yang kaku cenderung meniru pola tersebut. Mereka akan kesulitan mengomunikasikan emosi negatif, seperti sedih atau kecewa, dan memilih menyimpannya sendiri.
Bagaimana Memulai Langkah Pertama?
Hubungan yang canggung tidak akan berubah jika kedua belah pihak menunggu siapa yang akan menyapa duluan. Sebagai anak yang mulai dewasa, atau sebagai ayah yang menyadari jarak ini.
Mulai dari Topik Netral: Jangan langsung masuk ke obrolan berat tentang masa depan atau masa lalu. Cobalah membahas hobi, berita terkini, atau sekadar meminta pendapat tentang hal-hal praktis (seperti otomotif atau teknologi).
Ubah Ekspektasi: Terimalah bahwa ayah mungkin tidak akan pernah menjadi sosok yang ekspresif seperti ibu. Terkadang, kasih sayang seorang ayah tidak lewat kata-kata, melainkan lewat tindakan kecil seperti memastikan kendaraan Anda aman atau membelikan makanan kesukaan tanpa diminta.
Gunakan Tulisan Jika Lisan Terasa Berat: Di era digital, mengirimkan pesan singkat seperti "Ayah, tadi aku baca berita ini, ingat dulu kita pernah bahas" bisa menjadi pembuka pintu komunikasi yang jauh lebih minim tekanan emosional.
Hubungan yang jauh dengan ayah bukanlah takdir yang harus diterima begitu saja. Di balik diamnya seorang anak, ada ruang yang selalu siap menerima kehadiran emosional seorang ayah. Membuka percakapan memang membutuhkan keberanian besar, namun menyembuhkan kerenggangan ini jauh lebih berharga daripada membiarkan keheningan terus merajai rumah kita.
