Mengapa Gen Z Selalu Merasa Tertinggal

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di universitas pamulang dengan program studi akuntansi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Siska Sri Gustiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah Fear of Missing Out (FOMO) bukanlah barang baru. Selama bertahun-tahun, media mendefinisikan FOMO sebagai kecemasan anak muda yang takut ketinggalan tren liburan, konser musik, atau nongkrong di kafe estetik. Namun, bagi Gen Z, ketakutan ini telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih destruktif.
FOMO hari ini bukan lagi soal takut ketinggalan kesenangan, melainkan ketakutan eksistensial akan kegagalan hidup. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Mengapa Gen Z selalu merasa tertinggal, padahal secara objektif mereka sudah berlari sekencang mungkin?
Dari Gaya Hidup ke Kompetisi Eksistensial
Jika generasi sebelumnya menghadapi FOMO dalam lingkup pertemanan fisik, Gen Z hidup dalam ekosistem digital yang tidak pernah tidur. Di media sosial seperti LinkedIn, TikTok, dan Instagram, mereka tidak hanya melihat teman sebaya memamerkan liburan, tetapi juga pencapaian karier, magang di perusahaan Unicorn, pendapatan pasif di usia 20 tahun, hingga status financial freedom sebelum menyentuh usia 25 tahun.
Mutasi ini mengubah FOMO kosmetik menjadi FOMO Eksistensial. Akibatnya, muncul ilusi optik digital yang meyakinkan Gen Z bahwa standar hidup normal adalah menjadi luar biasa. Ketika mereka "hanya" menjadi pekerja kantoran biasa dengan gaji UMR, muncul perasaan bersalah yang akut, seolah-olah mereka telah gagal memanfaatkan masa muda.
FOMO Klasik (Takut ketinggalan tren/pesta) FOMO Eksistensial (Takut tertinggal dalam pencapaian hidup/karier)
Berlari Kencang di Atas Treadmill Ekonomi
Paradoks terbesarnya adalah Gen Z bukanlah generasi yang malas. Data menunjukkan mereka adalah salah satu generasi yang paling adaptif dan pekerja keras. Mereka mengambil sertifikasi daring, membangun personal branding, hingga menjalankan side hustle di sela-sela waktu kuliah atau kerja utama. Mereka sedang berlari kencang.
Namun, mengapa rasanya tetap tertinggal? Jawabannya ada pada ketimpangan struktural:
Hiper-inflasi Harga Aset: Gen Z berlari di atas treadmill ekonomi yang kecepatannya terus dinaikkan. Laporan dari Federal Reserve menunjukkan bahwa kekayaan riil anak muda saat ini jauh lebih rendah dibanding generasi sebelumnya pada usia yang sama, terutama karena meroketnya harga properti dan biaya hidup yang tidak sebanding dengan kenaikan upah minimun.
Ilusi Produktivitas: Media sosial menciptakan bias konfirmasi. Kita melihat satu orang berusia 21 tahun berhasil membeli rumah, dan algoritma menyajikannya berulang kali hingga kita mengira semua orang berusia 21 tahun sudah punya rumah. Padahal, itu adalah anomali, bukan norma.
Burnout yang Dinormalisasi
Ketika FOMO yang bermutasi ini bertemu dengan tuntutan ekonomi, hasilnya adalah kecemasan kronis. Gen Z terjebak dalam hustle culture bukan karena mereka serakah, melainkan karena mereka ketakutan.
Menurut studi global dari Deloitte, stres dan kecemasan kronis menjadi identitas yang melekat pada Gen Z, dipicu oleh kekhawatiran jangka panjang terkait finansial dan kesehatan mental. Berlari kencang akhirnya bukan lagi pilihan untuk maju, melainkan mekanisme bertahan hidup agar tidak tenggelam. Menolak lelah dianggap sebagai kelemahan, dan beristirahat sering kali diikuti oleh rasa bersalah yang besar.
Mematikan "Layar Pembanding"
Untuk menyembuhkan FOMO yang telah bermutasi ini, Gen Z perlu menyadari bahwa kompetisi yang mereka lihat di layar ponsel adalah permainan yang manipulatif. Garis start setiap orang berbeda, dan algoritma media sosial dirancang untuk memamerkan hasil akhir, bukan proses berdarah-darah di baliknya.
Sudah saatnya Gen Z mendefinisikan ulang arti "berlari". Berjalan dengan ritme sendiri demi menjaga kesehatan mental jauh lebih berharga daripada berlari kencang menuju burnout dini hanya demi memuaskan standar semu yang diciptakan oleh linimasa.
