Konten dari Pengguna

Stop Romantisasi "Keluarga Cemara" di Sosial Media

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siska Sri Gustiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret keluarga harmonis ala 'Keluarga Cemara' sering dirayakan sebagai standar kebahagiaan (Sumber : Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Potret keluarga harmonis ala 'Keluarga Cemara' sering dirayakan sebagai standar kebahagiaan (Sumber : Unsplash)

Belakangan ini, fyp (For Your Page) TikTok dan reels Instagram kita kerap dipenuhi oleh konten-konten dengan takarir (caption): “Alhamdulillah, dapet jatah jadi anak keluarga cemara.” Kontennya biasa menampilkan momen hangat makan malam bersama orang tua, kejutan ulang tahun yang penuh air mata bahagia, atau sekadar obrolan santai di grup WhatsApp keluarga yang penuh emoji hati.

Istilah "Keluarga Cemara" yang diadopsi dari sinetron legendaris era 90-an kini telah bergeser menjadi sebuah metonimia baru. Ia menjadi standarisasi kebahagiaan domestik yang mutlak di media sosial.

Namun, di balik algoritma yang merayakan keharmonisan tersebut, ada realitas lain yang terabaikan. Bagi sebagian anak, tren "keluarga cemara" ini bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan sebuah pengingat yang menyakitkan tentang apa yang tidak pernah mereka miliki. Romantisasi istilah ini sadar atau tidak telah menciptakan standar beracun (toxic standard) yang membuat anak-anak dari keluarga tidak utuh (broken home) merasa kian terasing dan minder.

Komodifikasi Keharmonisan di Media Sosial

Media sosial bekerja dengan cara mengamplifikasi hal-hal yang dianggap ideal. Ketika tren "anak keluarga cemara" ini naik daun, keharmonisan sebuah keluarga seolah-olah dikomodifikasi menjadi sebuah pencapaian status sosial. Menjadi anak dari orang tua yang utuh dan penuh kasih sayang kini dipandang sebagai sebuah "keberuntungan genetis" yang patut dipamerkan.

Dampaknya? Terjadi polarisasi emosional di ruang digital. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan domestik yang penuh konflik, atau mereka yang orang tuanya telah berpisah, mendadak merasa menjadi "produk gagal."

Melihat kedekatan anak dan orang tua di layar kaca gawai sering kali memicu Comparisonitis penyakit psikologis akibat terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Mereka mulai mempertanyakan eksistensi diri sendiri: "Mengapa rumahku gersang? Mengapa aku tidak seberuntung mereka?"

Standar Kebahagiaan yang Terlalu Sempit

Bahaya terbesar dari romantisasi "yang katanya cemara" ini adalah penyempitan definisi dari kata kebahagiaan itu sendiri. Narasi publik seolah menggiring opini bahwa untuk menjadi anak yang sehat secara mental dan sukses, seseorang wajib lahir dari latar belakang keluarga yang tanpa cela.

Padahal, realitanya tidak pernah hitam-putih. Banyak anak yang tumbuh di keluarga yang tidak utuh, namun berhasil menemukan ruang aman (safe space) mereka sendiri, entah lewat persahabatan, karier, atau proses berdamai dengan diri sendiri (self-healing). Sebaliknya, tidak sedikit pula keluarga yang tampak "cemara" di permukaan, namun menyimpan toxic masculinity atau kekerasan emosional di dalam ruang tertutup yang tidak tersorot kamera.

Mematok kebahagiaan hanya pada struktur keluarga yang utuh adalah sebuah kecacatan logika berpikir. Menilai kelayakan hidup seorang anak berdasarkan status pernikahan orang tuanya adalah bentuk ketidakadilan sosial yang baru.

Berhenti Membandingkan Rumah

Kita tidak bisa melarang orang untuk membagikan kebahagiaan keluarga mereka di media sosial. Itu adalah hak asasi digital setiap orang. Namun, sebagai konsumen informasi, kita perlu mengubah cara kita memandang tren ini.

Masyarakat, terutama generasi muda, harus mulai memahami bahwa rumah yang bahagia tidak selalu berbentuk pohon cemara yang simetris dan hijau sepanjang tahun. Kadang, ia berbentuk pohon yang batangnya bengkok terkena badai, namun akarnya mencengkeram bumi dengan sangat kuat.

Keluarga yang bercerai atau tidak utuh bukan berarti gagal total. Kebahagiaan anak tidak ditentukan oleh apakah orang tuanya masih duduk di satu meja makan yang sama, melainkan bagaimana anak tersebut diberi ruang untuk tumbuh tanpa dibebani oleh rasa bersalah atas perpisahan orang tuanya.

Untuk kamu yang sering merasa minder setiap kali melihat konten "keluarga cemara" lewat di lini masa: ingatlah bahwa media sosial adalah panggung sandiwara dengan kurasi terbaik. Apa yang kamu lihat hanyalah durasi 15 detik dari 24 jam kehidupan seseorang.

Kamu tidak kekurangan, dan kamu tidak gagal hanya karena rumahmu memiliki arsitektur yang berbeda dari orang lain. Berhentilah mengukur kedalaman kebahagiaanmu menggunakan penggaris milik orang lain. Menjadi tidak "cemara" bukan berarti kamu tidak berhak untuk tumbuh tinggi dan berbuah lebat di masa depan.