Konten dari Pengguna

Menapaki Jalan Ilmu: Pengalaman Santri di Pesantren yang Mengubah Hidup

zahrotussita

zahrotussita

Mahasiswa S1 Keperawatan dari Universitas Al Irsyad Cilacap

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari zahrotussita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : (milik pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
sumber : (milik pribadi)

Hidup di pesantren adalah perjalanan yang tidak bisa diceritakan dalam satu malam. Ia bukan sekadar tentang bangun sebelum Subuh atau duduk berjam-jam memegang kitab kuning. Pesantren adalah tempat di mana jiwa ditempa, karakter dibentuk, dan makna hidup perlahan ditemukan.

Di sinilah saya belajar menjadi diri saya hari ini—seorang santri yang tumbuh dengan nilai-nilai adab, keteguhan, dan cinta ilmu. Perjalanan yang saya mulai sejak MTs itu kini menjadi fondasi kuat ketika saya memasuki dunia perkuliahan

Rutinitas Pagi Santri di Pesantren

Hari di pesantren dimulai jauh sebelum matahari menyingsing. Suara ketukan musyrifah di pintu kamar menjadi alarm alami yang tak pernah terlambat membangunkan kami. Selepas bergegas mengambil air wudu, kami berbaris menuju masjid untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah.

Usai salat, kegiatan wirid dan halaqah pagi menjadi momen yang menenangkan. Kami membaca Al-Qur'an, mengulang hafalan, atau mendengarkan nasihat dari ustazah. Rutinitas ini tidak hanya membangun kedisiplinan, tetapi juga memberi ketenangan batin sebelum memulai aktivitas sepanjang hari.

Di sinilah saya belajar bahwa keberkahan hari selalu berawal dari bagaimana kita memulai pagi.

Kegiatan Belajar Santri dan pembentukan ilmu

sumber : (milik pribadi)

Kegiatan belajar di pesantren bukan hanya berlangsung di ruang kelas. Ada dua sistem pembelajaran khas pesantren yang menemani hari-hari kami:

Sorogan, yaitu belajar satu per satu di hadapan ustaz/ustazah.

Bandongan, di mana kami menyimak penjelasan guru sambil memegang kitab kuning.

Metode ini mengajarkan kami untuk sabar mengikuti proses, teliti memahami makna, serta tekun mempelajari ilmu yang tak selesai hanya dalam sehari.

Belajar kitab kuning—dengan bahasa Arab gundul yang tidak memiliki harakat—membiasakan otak untuk berpikir sistematis. Bagi saya, inilah pengalaman berharga yang membuat saya memahami bahwa ilmu adalah proses panjang yang harus dijalani dengan penuh kerendahan hati.

Adab sebagai Identitas Seorang Penuntut Ilmu

sumber : (milik pribadi)

Dalam tradisi pesantren, adab terhadap guru, ilmu, dan teman menjadi prioritas utama. Cara duduk ketika belajar, cara meminta izin, cara berbicara kepada guru, hingga menjaga sikap di hadapan orang lain bukan sekadar aturan, tetapi bentuk penghormatan terhadap proses pencarian ilmu.

Santri diajarkan bahwa kemuliaan ilmu tidak mungkin dicapai tanpa kemuliaan akhlak. Inilah yang membuat seorang santri tidak hanya berilmu, tetapi juga terarah dalam bersikap.

Peralihan Santri dari Pesantren ke Dunia Perkuliahan

Ketika memasuki dunia kampus, saya merasakan ritme yang jauh berbeda. Tidak ada lagi bel pondok, tidak ada jadwal wajib mengaji setiap ba’da Magrib, dan tidak ada musyrifah yang mengingatkan waktu.

Namun kebiasaan baik yang saya dapatkan di pondok tetap melekat. Disiplin, cara membawa diri, kemampuan menghargai waktu, hingga adab ketika berinteraksi—semuanya menjadi bekal berharga ketika saya memasuki dunia mahasiswa.

Identitas santri bukan beban, melainkan cahaya yang menuntun—bahwa kuliah bukan sekadar mengejar gelar, tetapi juga misi ilmu dan akhlak.

Tantangan Menjadi Santri dan Pelajaran Hidupnya

Menjadi santri tentu tidak selalu mudah. Ada kalanya lelah, jenuh, atau merasa tertinggal dari kehidupan luar. Namun tantangan itu justru menempa karakter. Nilai-nilai yang saya bawa hingga hari ini antara lain:

  • Kesabaran, karena proses belajar di pesantren panjang dan bertahap.

  • Kemandirian, sebab kami harus mengurus diri sendiri jauh dari keluarga.

  • Etika dan adab, yang selalu menjadi pondasi sebelum berbicara atau bertindak.

  • Ketangguhan mental, menghadapi aturan ketat, banyaknya kegiatan, dan tekanan belajar.

Nilai-nilai inilah yang menjadi modal saya dalam menjalani kehidupan kuliah dan sosial yang lebih luas.

Membawa identitas santri ke masa depan

sumber : (milik pribadi)

Kini, ketika saya menjalani dunia perkuliahan sebagai mahasiswa keperawatan, saya semakin sadar bahwa masa-masa hidup di pesantren adalah anugerah terbesar. Pesantren telah membentuk cara saya berpikir, sikap, bahkan tujuan hidup.

Saya bukan hanya seorang mahasiswa yang mengejar ilmu formal. Saya adalah santri yang membawa misi lebih besar—menjaga ilmu, membangun akhlak, dan menghadirkan keberkahan di setiap langkah.

Identitas itu melekat, dan saya bangga membawanya.

Penutup: Dari Pesantren untuk Dunia yang Lebih Luas

Perjalanan saya dari pesantren hingga kampus membuktikan bahwa pendidikan pesantren membangun karakter yang kuat. Karena sekali menjadi santri, selamanya hati akan terpatri menjadi santri.

Zahrotussita, mahasiswa sarjana keperawatan.