Konten dari Pengguna

Menjaga Rupiah di Tengah Gejolak Global Seberapa Kuat Bank Indonesia?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Aisy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika nilai rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, hal pertama yang sering muncul adalah kekhawatiran. Masyarakat mulai bertanya apakah harga barang akan naik, apakah biaya hidup akan semakin mahal, dan apakah kondisi ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kekhawatiran tersebut wajar, karena pergerakan rupiah memang memiliki pengaruh terhadap perekonomian. Namun, menurut saya, melihat kekuatan rupiah saja belum cukup untuk menilai apakah kondisi ekonomi Indonesia aman atau tidak.

sumber gambar dokumen pribadi edit by canva
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar dokumen pribadi edit by canva

Pada awal September 2026, rupiah masih berada di level yang cukup tinggi terhadap dolar. Berdasarkan data JISDOR Bank Indonesia, pada 4 September 2026 rupiah berada di Rp17.636 per dolar AS. Beberapa hari sebelumnya bahkan sempat berada di Rp17.770 pada 2 September. Angka ini menunjukkan bahwa rupiah masih menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dalam kondisi seperti ini, Bank Indonesia (BI) mempunyai peran penting. BI tidak bisa begitu saja membuat rupiah terus menguat karena nilai tukar juga dipengaruhi oleh kondisi global, seperti pergerakan dolar AS, arus modal asing, dan kebijakan ekonomi negara lain. Yang lebih realistis adalah bagaimana BI menjaga agar pelemahan rupiah tetap terkendali dan tidak menimbulkan masalah yang lebih besar.

Salah satu kekuatan BI adalah cadangan devisa. Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa Indonesia mencapai 146,5 miliar dolar AS, meningkat dari 145,3 miliar dolar AS pada Juli. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor dan berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Menurut saya, angka ini cukup meyakinkan. Cadangan devisa yang besar memberikan ruang bagi BI untuk melakukan stabilisasi ketika pasar valuta asing sedang bergejolak. Artinya, BI memiliki "bekal" untuk menghadapi tekanan terhadap rupiah, meskipun tentu saja cadangan tersebut bukan sesuatu yang bisa digunakan tanpa batas.

Selain menggunakan cadangan devisa dan intervensi pasar, BI juga harus menentukan kebijakan suku bunga dengan hati-hati. Pada 19 Agustus 2026, BI mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen. Keputusan ini menunjukkan bahwa BI tidak hanya memikirkan nilai tukar, tetapi juga berusaha menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Hal yang cukup positif, kondisi ekonomi Indonesia sendiri masih menunjukkan pertumbuhan. BPS mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Sementara itu, inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen, masih berada dalam kisaran sasaran inflasi 2026 sebesar 2,5 persen dengan toleransi ±1 persen.

Dari sini dapat dilihat bahwa kondisi Indonesia sebenarnya tidak bisa hanya dinilai dari rupiah yang melemah. Jika kurs melemah tetapi inflasi masih terkendali, ekonomi tetap tumbuh, dan cadangan devisa cukup kuat, berarti perekonomian masih memiliki daya tahan. Namun, bukan berarti BI tidak memiliki tantangan. Gejolak global tetap bisa memberikan tekanan yang besar, terutama jika dolar semakin kuat atau investor asing menarik dananya dari negara berkembang. BI memang memiliki banyak instrumen, tetapi tidak mungkin mengendalikan semua faktor yang menentukan nilai rupiah.

Jadi, pertanyaan "seberapa kuat BI menjaga rupiah?" bukan berarti apakah BI mampu membuat rupiah selalu menguat. Ukuran yang lebih tepat adalah apakah BI mampu menahan gejolak agar tidak berubah menjadi masalah ekonomi yang lebih besar.

Untuk saat ini, modal BI masih cukup kuat. Cadangan devisa yang mencapai 146,5 miliar dolar AS, inflasi yang masih dalam sasaran, serta pertumbuhan ekonomi 5,29 persen menunjukkan bahwa Indonesia memiliki dasar yang cukup untuk menghadapi tekanan global.

Pada akhirnya, menjaga rupiah bukan hanya tugas BI. Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat juga memiliki peran dalam memperkuat ekonomi dalam negeri. BI bisa menjaga stabilitas, tetapi kekuatan rupiah dalam jangka panjang tetap bergantung pada seberapa kuat fundamental ekonomi Indonesia. Jadi, rupiah yang melemah memang perlu diperhatikan, tetapi tidak selalu berarti ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi buruk.