Baca Cepat, Lupa Cepat: Jangan-Jangan Kita Salah Cara Membaca
Tulisan dari Siti Aisyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kita merasa sudah membaca banyak. Tapi jujur saja, berapa banyak yang benar-benar kita pahami?
Kita scroll, kita baca, kita merasa, “Oh iya.” Lalu beberapa menit kemudian, hilang.
Selesai.
Anehnya, kita tetap merasa sudah cukup tahu. Jangan-jangan selama ini kita hanya sibuk mengumpulkan bacaan, bukan benar-benar memahaminya. Jangan-jangan yang kita sebut “membaca” sebenarnya cuma lewat.
Setiap hari, kita dikelilingi oleh bacaan. Dari layar ponsel, potongan informasi yang datang tanpa henti, sampai hal-hal yang terasa penting saat itu, lalu menguap begitu saja beberapa saat kemudian.
Semua terasa cepat. Terlalu cepat. Dan mungkin, diam-diam kita mulai kehilangan sesuatu. Bukan kebiasaan membaca. Itu justru semakin sering. Tetapi kemampuan untuk benar-benar memahami.
Data pemerintah menunjukkan Indeks Masyarakat Digital Indonesia 2024 berada di angka 43,34 dari 100. Angka tersebut menunjukkan bahwa kemampuan masyarakat untuk hidup di ruang digital terus berkembang. Namun, kemampuan menggunakan teknologi tentu tidak otomatis berarti kemampuan memahami seluruh informasi yang kita temui di dalamnya.
Saya menyadarinya dari kebiasaan sendiri.
Banyak bacaan terasa hanya lewat: sempat mengusik, tetapi tidak pernah benar-benar mengubah apa-apa. Seolah membaca hanya selesai di kepala, tidak pernah sampai ke dalam. Mata bergerak cepat. Jari terus menggulir. Kita terbiasa menangkap inti secara instan, lalu berpindah ke informasi berikutnya.
Kita Merasa Tahu, Padahal Belum Tentu Memahami
Layar membuat kita terbiasa dengan ritme seperti itu. Satu informasi belum selesai dipikirkan, informasi lain sudah muncul. Satu berita belum sempat direnungkan, video berikutnya sudah menunggu. Kita mengangguk, merasa “iya ya”, lalu lanjut scroll.
Bacaan datang cepat dan pergi cepat. Tidak selalu ada ruang untuk berhenti cukup lama agar makna itu benar-benar masuk. Mungkin itu sebabnya ada bacaan yang kita ingat hanya beberapa menit, tetapi ada juga bacaan yang bertahun-tahun kemudian masih tinggal di kepala.
Apa yang membedakannya?
Barangkali bukan hanya isi bacaannya.
Barangkali juga cara kita membacanya.
Buku, misalnya, punya ritme yang berbeda.
Ia tidak bisa di-scroll seenaknya. Kita membuka halaman demi halaman. Berhenti pada kalimat tertentu. Membaca ulang paragraf yang belum dipahami. Sesekali menutup buku hanya untuk memikirkan satu kalimat. Di situlah sesuatu mulai mengendap.
Saya pernah membaca buku sambil menemani anak bermain, dan tanpa sadar menangis. Momen itu sederhana. Tidak ada suasana khusus. Hanya saya, buku, dan anak yang sedang bermain. Tetapi entah mengapa, sebuah bacaan bisa menyentuh sesuatu yang selama ini tersimpan di dalam diri.
Buku Tidak Hanya Memberi Tahu
Ia menyentuh. Dari situ saya semakin merasa bahwa membaca bukan sekadar kegiatan menerima informasi. Membaca juga bisa menjadi cara untuk bertemu dengan diri sendiri.
Saya pernah merasakannya ketika membaca ulang tulisan sendiri di sebuah buku antologi. Rasanya seperti bercermin, tetapi dari jarak yang asing. Saya membaca kalimat yang pernah saya tulis, tetapi saya bukan lagi orang yang sama ketika kalimat itu pertama kali dibuat. Ada bagian yang membuat saya tersenyum. Ada yang membuat saya berpikir ulang. Ada pula yang membuat saya bertanya, mengapa dulu saya bisa berpikir seperti itu?
Di situlah saya sadar: membaca tidak selalu membawa kita keluar untuk mengenal dunia. Kadang-kadang, membaca justru membawa kita kembali kepada diri sendiri. Kita membaca apa yang pernah kita pikirkan, rasakan, atau lewatkan.
Karena itu, mungkin persoalannya bukan apakah kita membaca atau tidak.
Kita jelas membaca. Persoalannya adalah apakah kita memberi kesempatan kepada bacaan itu untuk tinggal lebih lama.
Kita Terlalu Terbiasa dengan yang Instan
Ingin cepat tahu, cepat paham, lalu cepat pindah. Padahal, tidak semua hal bisa dipahami dengan cepat. Ada gagasan yang harus dibaca ulang. Ada cerita yang baru terasa maknanya setelah kita mengalami sesuatu.
Ada kalimat yang ketika pertama dibaca terasa biasa saja, tetapi beberapa tahun kemudian tiba-tiba terasa begitu dekat. Dan proses seperti itu tidak bisa dipercepat. Ada pula bacaan yang tidak hanya ingin dipahami, tetapi juga menuntun.
Saya merasakannya ketika membaca Al-Qur’an. Bahkan sebelum sepenuhnya memahami maknanya, ada rasa tenang yang kadang datang lebih dahulu. Seolah hati diajak berhenti, dan ketika maknanya mulai terbuka, ada semacam jeda yang membuat kita tidak tergesa-gesa melihat diri sendiri.
Salah satu ayat yang terus teringat adalah QS. Ar-Ra’d ayat 11, tentang perubahan keadaan suatu kaum yang berkaitan dengan perubahan apa yang ada dalam diri mereka sendiri. Ayat itu tidak hanya dibaca.
Ia terasa seperti cermin.
Kita bisa membaca satu ayat berkali-kali, tetapi pertanyaannya kemudian bukan lagi, “Apa yang saya tahu dari ayat ini?”
Melainkan, “Apa yang berubah dalam diri saya setelah membacanya?”
Mungkin di situlah perbedaan antara membaca untuk sekadar tahu dan membaca untuk memahami. Yang pertama membuat kita memiliki lebih banyak informasi. Yang kedua mungkin membuat kita menjadi manusia yang sedikit berbeda.
Di tengah derasnya informasi hari ini, mungkin kita tidak selalu membutuhkan lebih banyak bacaan. Kita membutuhkan ruang untuk mengendapkan bacaan yang sudah kita punya. Kita boleh membaca dari layar. Membaca artikel. Membaca buku. Membaca berbagai informasi yang datang setiap hari.
Namun, jangan sampai kecepatan membuat kita kehilangan kedalaman. Sebab pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan seberapa banyak yang kita baca. Bukan pula seberapa cepat kita menyelesaikan sebuah buku atau berapa banyak informasi yang berhasil kita simpan dalam kepala.
Tetapi:
Setelah semua bacaan itu selesai, apa yang masih tinggal dalam diri kita?
Sebab membaca yang sesungguhnya mungkin bukan hanya tentang seberapa banyak kata yang berhasil kita lewati. Melainkan seberapa dalam kita membiarkan sebuah bacaan tinggal, dipikirkan, dirasakan, lalu—jika memang perlu—mengubah kita.

