Bangsa yang Lupa Memerdekakan Ibu: Kemerdekaan yang Belum Sampai ke Rumah
Tulisan dari Siti Aisyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap Agustus kita berbicara tentang kemerdekaan bangsa. Namun, jarang ada yang bertanya: sudahkah seorang ibu benar-benar merdeka?
Merdeka bagi seorang ibu bukan berarti bebas dari tanggung jawab. Merdeka berarti dapat memenuhi kebutuhan keluarga tanpa terus-menerus dihantui kecemasan, memiliki ruang untuk belajar dan bertumbuh, serta diizinkan menjadi lelah tanpa harus merasa bersalah. Sayangnya, kemerdekaan seperti itu masih terasa jauh bagi banyak ibu hari ini.
Dalam beberapa bulan terakhir, banyak keluarga merasakan tekanan biaya hidup. Harga sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Sebagaimana diberitakan Solopos (20/7/2026), harga daging ayam potong negeri di Pasar Gede Solo kembali mengalami kenaikan setelah sempat turun pada masa libur sekolah pada Juni 2026. Pedagang menilai kenaikan harga dipengaruhi kembali berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan dimulainya tahun ajaran baru.
Di saat yang sama, inflasi kembali meningkat menurut Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, tingkat inflasi pada Juni 2026 sebesar 0,44 persen secara bulanan dan 3,34 persen secara tahunan. Angka ini naik, baik dibanding bulan sebelumnya maupun periode yang sama pada tahun lalu. Sementara gejolak ekonomi global ikut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat ke level Rp18.055 per dolar AS. (Solopos, 31/7/2026). Kenaikan harga ayam mungkin tampak sebagai persoalan biasa. Namun, ketika data BPS juga menunjukkan inflasi yang meningkat dan rupiah berada di bawah tekanan, kekhawatiran seorang ibu terhadap uang belanja bukan lagi sekadar perasaan, melainkan realitas ekonomi yang sedang dihadapi banyak keluarga.
Di tengah situasi seperti itu, banyak ibu mengawali awal bulan bukan dengan membuka media sosial, melainkan membuka dompet atau aplikasi perbankan, menghitung saldo. Lalu mulai mencoret daftar belanja: minyak goreng, daging sapi, susu anak dan seterusnya. Yang dicoret bukan karena tidak dibutuhkan, melainkan karena uangnya tidak cukup. Lalu, apa arti kemerdekaan bagi seorang ibu jika setiap bulan ia harus memilih kebutuhan mana yang dikorbankan?
Ketika Ibu Menjadi Pusat Kehidupan Rumah
Namun, persoalan seorang ibu tidak berhenti pada daftar belanja. Di rumah, ia tetap menjadi pusat kehidupan keluarga. Bagaimana seorang ibu menjadi penghubung antara kebutuhan ekonomi, pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan keharmonisan rumah ketika kondisi ekonomi menekan, tuntutan terhadap peran itu justru tidak berkurang?
Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, jika kita bukan ibu berpendidikan tinggi minimal kita adalah ibu yang mau belajar mendidik. Mendidik diri sendiri agar terbuka, mau menerima saran yang membangun, selalu meng-upgrade ilmu tentang apa pun. Bukan hanya anak kita yang selalu bertanya kepada ibu, baik untuk mata pelajaran di sekolah maupun hal yang remeh “Bu mainanku mana?”, tapi suami kita juga sering bertanya hal-hal remeh, seperti “Mana kunci motor aku Bu?” Jika ibu menjawab, “Tidak tahu cari saja sendiri!” Bisa jadi ibu hanya sedang lelah saja karena seharian lelah dengan urusan rumah tangga tapi masih ditanya hal-hal remeh oleh anak pun suami sendiri.
Sering kali ibu sebenarnya tahu. Karena menjadi tempat bertanya bagi seluruh anggota keluarga, seorang ibu juga membutuhkan ruang untuk terus belajar. Ia tidak dituntut mengetahui segalanya, tetapi memiliki kesempatan untuk terus bertumbuh. Beban tersebut bukan sekadar pengalaman pribadi.
UNICEF bersama UN Women juga merilis laporan pada Agustus 2025 mengenai pekerjaan domestik dan pengasuhan yang tidak dibayar. Laporan itu menunjukkan bahwa beban tersebut berdampak pada pendidikan, kesejahteraan emosional, dan kemandirian seorang ibu.
Saat yang Tumpah Bukan Hanya Segelas Air
Baik ibu rumah tangga maupun ibu yang bekerja di luar rumah memiliki tantangan masing-masing. Namun, keduanya sama-sama menghadapi tuntutan untuk selalu kuat. Seolah tidak boleh lelah. Seolah harus sempurna. Tetap melayani suami dan membersamai tumbuh kembang anak. Di tengah tuntutan yang datang dari berbagai arah, tidak mengherankan jika banyak ibu merasa lelah secara mental. Karena itu, membangun keberdayaan ibu bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Tekanan ekonomi sering kali tidak meledak dalam bentuk angka, melainkan dalam emosi sehari-hari. Jika anak menumpahkan air saja ibu kesal setengah mati, mencaci anak dengan kata-kata kasar. Padahal yang tumpah sebenarnya bukan hanya air. Kesabaran ibu pun ikut meluber.
Belum beres membersihkan tumpahan air, suami terus saja menuntut makanannya mana? Padahal sudah tersedia, hanya saja masih berada di atas kompor belum tersaji rapi di meja makan. Maka menjaga kewarasan bagi ibu sangatlah penting, walau terkesan remeh. Tapi momen menumpahkan air dan tuntutan makan oleh suami tadi bisa menjadi bom emosi yang bisa meledak kapan saja.
Memerdekakan Ibu, Memerdekakan Bangsa
Ketika ibu terus hidup dalam kecemasan ekonomi dan kelelahan mental, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Anak-anak tumbuh dalam suasana rumah yang penuh tekanan, sementara kualitas pengasuhan ikut terpengaruh. Dalam jangka panjang, persoalan ini bukan lagi urusan domestik, melainkan persoalan pembangunan manusia. Bangsa yang ingin melahirkan generasi tangguh tidak dapat mengabaikan kesejahteraan para ibu yang setiap hari menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Oleh karena itu, seorang anak pertama kali belajar menghargai, berempati, membaca, berdoa, hingga mengenal benar dan salah dari rumah. Rumah yang sehat lahir dari ibu yang sehat, baik secara mental maupun fisik. Maka, membicarakan kemerdekaan ibu bukan sekadar membahas urusan dapur, melainkan membicarakan masa depan bangsa. Ibu bukan sekadar penghuni rumah. Ia adalah denyut yang menjaga rumah tetap hidup. Bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang mampu mengibarkan bendera setiap Agustus. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang memastikan para ibu tidak lagi hidup dalam kecemasan setiap awal bulan.
Al-Quran mengingatkan, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri" (QS. Ar-Ra'd: 11). Perubahan itu tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Ia juga lahir dari rumah, ketika seorang ibu memperoleh ruang untuk belajar, bertumbuh, dan menjalani hidup dengan lebih bermartabat. Karena, sebelum bangsa ini belajar mencintai tanah air, selalu ada seorang ibu yang lebih dahulu mengajarkan arti mencintai rumah. Maka, memerdekakan ibu bukanlah hadiah bagi perempuan, melainkan investasi bagi masa depan Indonesia.

