Konten dari Pengguna

Kami Bukan Sekadar Angka: Manifesto Politik Gen Z di Tengah Dunia yang Berubah

Siti Aisyah

Siti Aisyah

Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Aisyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Foto demonstrasi anak muda dalam menyampaikan aspirasi demokrasi. Dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Foto demonstrasi anak muda dalam menyampaikan aspirasi demokrasi. Dibuat menggunakan AI.

Kami Bukan Sekadar Angka: Manifesto Politik Gen Z di Tengah Dunia yang Berubah Oleh: Siti Aisyah Kalau membicarakan Gen Z, hal yang sering muncul adalah soal jumlah. Berapa banyak Gen Z yang menjadi pemilih? Berapa persen dari jumlah penduduk Indonesia? Berapa banyak yang aktif di media sosial? Saya sendiri kadang merasa lucu. Kami sering sekali dibicarakan, tetapi belum tentu benar-benar diajak bicara. Gen Z tumbuh di masa ketika informasi bisa datang hanya dalam hitungan detik. Bangun tidur, membuka media sosial, sudah ada berita baru. Ada video tentang politik, potongan pernyataan pejabat, isu sosial, sampai pendapat orang yang bahkan tidak kita kenal. Dari situ saya merasa bahwa politik bagi Gen Z sebenarnya tidak pernah benar-benar jauh. Mungkin dulu politik lebih sering dibayangkan sebagai sesuatu yang serius, penuh rapat, gedung pemerintahan, dan pidato panjang. Sekarang bentuknya bisa berbeda. Politik bisa muncul di TikTok, Instagram, X, YouTube, bahkan dari obrolan sederhana di kolom komentar. Tetapi menurut saya, dekat dengan politik di media sosial bukan berarti Gen Z otomatis memahami politik. Justru di sinilah tantangannya. Kita bisa menemukan banyak informasi dalam waktu yang bersamaan, tetapi tidak semuanya benar. Kadang satu video berdurasi kurang dari satu menit sudah cukup untuk membuat seseorang percaya pada suatu isu. Setelah itu dibagikan, dikomentari, lalu menjadi ramai. Saya pun pernah berada di posisi hanya melihat judul atau potongan video sebelum akhirnya ikut mempunyai pendapat. Setelah dipikir lagi, ternyata kita belum tentu tahu cerita lengkapnya. Karena itu, menurut saya, Gen Z tidak cukup hanya menjadi generasi yang cepat menerima informasi. Kita juga perlu menjadi generasi yang mau berhenti sebentar, membaca, membandingkan, dan berpikir sebelum ikut menyebarkan sesuatu. Bagi saya, politik bukan hanya tentang siapa yang dipilih ketika pemilu datang. Politik juga tentang bagaimana kita melihat harga kebutuhan sehari-hari, pendidikan, lapangan pekerjaan, lingkungan, transportasi, sampai kesempatan anak muda untuk berkembang. Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi justru dekat dengan kehidupan kita. Saya juga tidak ingin Gen Z hanya dianggap sebagai target suara ketika pemilu. Setelah suara diberikan, jangan sampai perhatian terhadap anak muda ikut berhenti. Kami punya banyak pertanyaan tentang masa depan. Tentang pekerjaan setelah lulus. Tentang biaya pendidikan. Tentang lingkungan yang semakin berubah. Tentang ruang bagi anak muda untuk menyampaikan pendapat tanpa langsung dianggap tidak tahu apa-apa hanya karena usia. Bukan berarti semua pendapat Gen Z harus selalu benar. Saya rasa tidak ada generasi yang selalu benar. Tetapi setidaknya, beri kami ruang untuk belajar dan ikut terlibat. Bagi saya, manifesto politik Gen Z bukan berarti semua anak muda harus masuk partai politik atau menjadi aktivis. Tidak sesederhana itu. Manifesto ini lebih sederhana: kami ingin didengar, ingin memahami, dan ingin ikut menentukan arah masa depan yang nantinya juga akan kami jalani. Saya percaya perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari satu orang yang mau mencari tahu sebelum percaya. Dari satu orang yang berani bertanya. Dari satu orang yang tidak ikut menyebarkan informasi hanya karena sedang viral. Kemudian dari satu orang menjadi beberapa orang. Dari beberapa orang menjadi gerakan. Dan dari gerakan, mungkin muncul perubahan. Karena itu, kalau Gen Z sering disebut sebagai generasi masa depan, menurut saya jangan hanya menunggu masa depan itu datang. Kami juga ingin ikut membentuknya. Bukan sekadar angka dalam data pemilih. Bukan sekadar angka dalam statistik penduduk. Bukan sekadar pengguna media sosial. Kami adalah generasi yang sedang belajar memahami dunia, sekaligus menentukan seperti apa dunia yang ingin kami tinggali. Dan mungkin, dari situlah politik seharusnya dimulai: dari suara yang mau didengar, langkah kecil yang mau dilakukan, dan perubahan yang ingin benar-benar dirasakan.