kumplus- Opini Siti Aminah Tardi- Ilustrasi KDRT
15 Juli 2021 16:55
ยท
waktu baca 5 menit

Rumah Tangga (Jangan) Hancur karena Pandemi

Dalam masyarakat kita, lelaki dan perempuan sering kali dikonstruksikan dengan peran sosial berbeda. Laki-laki masih ditempatkan sebagai pemimpin, pencari nafkah utama, dan utusan keluarga di ranah publik; sedangkan perempuan dikonstruksikan sebagai ibu rumah tangga, fokus pada peran reproduktif, dan ruang geraknya terbatas di ranah domestik.
Pembagian peran sosial ini banyak dipercaya, baik oleh laki-laki maupun perempuan sebagai "kodrat" yang harus dijalani sekaligus bangunan ideal sebuah rumah tangga. Buat saya, pembagian peran ini tidak masalah asalkan disepakati bersama dan tidak menimbulkan subordinasi, stereotip, marginalisasi, kekerasan, atau beban kerja berlebih pada salah satu pihak.
Secara umum, pekerjaan ibu rumah tangga diarahkan ke enam aktivitas utama. Mulai dari "melayani" suami, mengasuh dan mendidik anak, membersihkan dan merapikan rumah, menyediakan makanan siap santap, merawat kesehatan seluruh anggota keluarga, sampai peran sosial di komunitas dan keluarga besar, khususnya dalam siklus kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian.
Keuntungan berlangganan kumparan+
  • Ratusan konten premium dari pakar dan kreator terbaik Indonesia
  • Bahasan mendalam dengan kemasan memikat
  • Pengetahuan, hiburan, dan panduan yang solutif untuk hidupmu
Berat sekali menjadi perempuan di masa pandemi. Tak hanya melawan virus, perempuan juga terancam oleh kekerasan rumah tangga. Bagaimana cara menghadapinya? Apa yang harus dilakukan laki-laki? Simak opini Siti Aminah dari Komnas Perempuan berikut.