Doa yang Kehilangan Makna

Mahasiswa UIN JKT selalu sukses
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Siti Ayu Wardana Nururrahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada yang mengganjal ketika membaca cerpen "Gadis Pendoa" karya Tara Febriani Khaerunnisa. Bukan sekadar kisah seorang anak perempuan yang dipaksa duduk di dalam kotak pengap dan berdoa demi kepentingan orang lain. Lebih dari itu, cerpen ini menyeret pembaca ke dalam ruang yang jauh lebih sempit dari Kotak itu sendiri: ruang keyakinan yang telah kehilangan esensinya.
Lalu, apa sebenarnya yang ingin disampaikan Tara lewat cerpen ini? Untuk menjawabnya, kita bisa menggunakan pendekatan Burhan Nurgiyantoro dalam " Teori Pengkajian Fiksi" (2018). Menurut Burhan, tema adalah makna yang dikandung sebuah cerita, gagasan dasar yang menjadi landasan dibangunnya seluruh struktur naratif. Tema bukan sekadar "topik" cerita, melainkan sikap atau pandangan hidup yang dibangun pengarang secara sadar maupun tidak sadar melalui keseluruhan unsur fiksi.
Ketika Iman Menutup Mata pada Kenyataan
Burhan membedakan tema menjadi tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah makna pokok yang menjadi inti cerita, sementara tema minor adalah makna-makna pendukung yang memperkaya kedalaman naratif.
Tema mayor cerpen ini adalah benturan antara kemanusiaan yang konkret dan fanatisme religius yang dogmatis.
Benturan itu hadir paling telanjang dalam percakapan Mila dengan ibunya. Ketika Mila bersikukuh ingin kembali merawat warga desa seberang, sang Ibu memotong dengan keyakinan yang keras:
"Manusia tidak bisa merawat manusia lain untuk sembuh. Hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan manusia. Kau tidak harus mengikuti kegiatan organisasi konyol itu lagi untuk merasa berguna. Jadilah gadis pendoa agar kau bisa menyembuhkan orang-orang."
Kata "konyol" dalam kalimat itu bukan sekadar ekspresi kekecewaan seorang ibu. Ia adalah peta dari seluruh sistem kepercayaan yang dibangun keluarga Mila: bahwa tindakan nyata manusia untuk menolong sesama adalah hal yang sia-sia, bahkan memalukan, dibandingkan ritual doa yang dianggap langsung terhubung ke kuasa ilahi.
Namun Mila punya argumen yang tidak kalah kuat. Ia datang bukan dengan retorika, melainkan dengan bukti:
"Saat pelatihan aku berhasil merawat hingga sembuh anak-anak yang terkena kudis. Aku memiliki keahlian menyembuhkan orang-orang. Percayalah."
Ketegangan antara Mila yang empiris dan Ibu yang dogmatis inilah yang menjadi tulang punggung tema mayor cerpen ini.
Agama sebagai Komoditas, Doa sebagai Transaksi
Burhan juga mengingatkan bahwa tema lahir dari konteks sosial yang melingkupi cerita. Dalam "Gadis Pendoa", konteks itu adalah masyarakat desa yang terjepit secara ekonomi, dan menemukan semacam "jalan keluar" dalam ritual keagamaan yang justru makin mempererat jerat kemiskinan mereka.
Satu kutipan dalam cerpen ini cukup untuk membongkar ironi itu sekaligus:
"Setiap Mila selesai berdoa, jemaah yang datang akan memasukkan uang ke kotak kecil di bawah kaki mereka. Ada sekitar sepuluh atau lebih jemaah yang masuk ke Kotak pada hari itu, dan hampir semua meminta hal yang serupa; panen yang baik dari ladang yang mereka jual ke orang taat kaya raya yang lebih pandai mengelola lahan."
Baca kalimat itu sekali lagi, pelan-pelan. Para jemaah itu membayar gadis pendoa untuk mendoakan keberhasilan panen dari ladang yang sudah tidak lagi milik mereka sendiri. Mereka datang bukan untuk melawan ketidakadilan, melainkan untuk mendoakan agar ketidakadilan itu berjalan lebih lancar.
Inilah yang oleh Burhan disebut sebagai tema dengan muatan sosial-ideologis: pengarang tidak hanya bercerita, tetapi secara diam-diam menawarkan kritik terhadap struktur sosial yang sedang berlangsung. Tara menempatkan agama bukan sebagai musuh, tetapi sebagai institusi yang telah dibajak oleh ketimpangan ekonomi hingga berubah fungsi menjadi mekanisme penjinak massa.
Keputusasaan yang Menjelma Kutukan
Tema minor yang paling menggigit dalam cerpen ini adalah keputusasaan yang akhirnya berubah menjadi sinisme dan amarah yang disalurkan lewat doa.
Jika di awal cerpen doa masih menjadi ruang harapan, maka menjelang akhir cerita doa telah menjelma menjadi wadah kemarahan kolektif yang tidak tahu harus pergi ke mana. Seorang jemaah, alih-alih meminta berkah, justru melantunkan kutukan:
"Doakan juga agar seluruh ladang yang diambil alih oleh orang taat kaya raya itu mengalami kegagalan panen karena memonopoli air. Doakan agar kemarau tahun ini lebih panas dan ganas, sehingga awan-awan enggan berkumpul di atas kepala kita."
Ini bukan doa. Ini adalah jeritan orang yang sudah tidak percaya lagi pada jalan lain. Dalam kerangka Burhan, momen seperti ini adalah puncak dari pengembangan tema: ketika situasi tokoh-tokoh dalam cerita telah mencapai titik paling ekstrem dari gagasan yang ingin disampaikan pengarang.
Dan Mila? Ia tidak menolak. Ia tidak memprotes. Ia hanya melakukan apa yang diminta:
"Mila memejamkan mata, menundukkan kepala, dan mengulang seluruh doa yang diminta lelaki tadi. Setelah rampung, dia membuka mata, dan tertawa. Lelaki itu juga tertawa."
Tawa itu adalah penutup yang paling menyedihkan. Bukan tawa kemenangan, bukan tawa kegembiraan. Ia adalah tawa orang-orang yang tahu bahwa semua ini sudah tidak lagi masuk akal, tetapi tidak punya cukup tenaga untuk berhenti.
Cerpen ini tidak hanya bercerita tentang satu keluarga di satu desa. Ia berbicara tentang kondisi di mana kemiskinan membuat orang tidak punya pilihan selain menyerahkan nasibnya pada ritual, di mana doktrin digunakan untuk meredam pertanyaan, dan di mana anak-anak perempuan dijadikan alat produksi spiritual demi menghidupi keluarga yang terjepit. ketika manusia tidak lagi bisa mempercayai tangan mereka sendiri untuk mengubah keadaan, mereka akan menyerahkan segalanya pada doa, bahkan jika doa itu sudah lama kehilangan kepercayaannya sendiri.
