Ekonomi Makro Dua Wajah: Cadev dan PMI Kuat, tetapi Dompet Tertekan

Mahasiswi Universitas Pamulang Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Siti Cahyani Kurniasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ekonomi makro Indonesia sedang menunjukkan dua wajah: kuat di sisi ketahanan eksternal dan industri, tetapi terasa berat di dompet rumah tangga. Berdasarkan data Bank Indonesia, cadangan devisa akhir September 2026 sebesar US$146,3 miliar, turun US$0,2 miliar dari US$146,5 miliar pada Agustus, setara pembiayaan 5,3 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan. Berdasarkan laporan S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia September 2026 naik ke 52,4 dari 49,8 pada Agustus, kembali ke zona ekspansi. Menurut saya, dua angka bagus itu belum otomatis berarti semua orang merasa lebih lega.
Ekonomi makro wajah pertama: ketahanan eksternal dan manufaktur
Menurut BI, posisi cadangan devisa dipengaruhi penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan stabilisasi nilai tukar rupiah. Perlu dicatat, angka ini lebih rendah dari September 2025 yang sebesar US$148,74 miliar, sehingga ketahanan eksternal terjaga tetapi tidak meningkat.
Dari sisi industri, S&P Global mencatat volume pesanan baru meningkat pada laju tercepat sejak Februari, produksi naik, dan pesanan ekspor tumbuh terkuat sejak Mei 2022. Harga output juga naik paling lambat dalam enam bulan. Kemenkeu menambahkan bahwa manufaktur beberapa mitra dagang ikut ekspansif: Thailand 54,3, Tiongkok 52,1, dan Amerika Serikat 57,0. S&P menyebut ini perbaikan kondisi bisnis terkuat sejak Februari, sebelum pecahnya perang di Timur Tengah.
Apakah ekonomi makro yang kuat otomatis berarti dompet keluarga membaik?
Belum tentu.
PMI dihitung dari survei manajer perusahaan manufaktur, bukan dari seluruh pekerja, dan baru memengaruhi penghasilan lewat lapangan kerja dan upah yang memerlukan waktu. Sementara itu, berdasarkan Survei Konsumen BI September 2026, Indeks Penghasilan Saat Ini turun dari 118,0 menjadi 114,6, dan keyakinan konsumen kelompok pengeluaran Rp1 juta sampai Rp2 juta turun ke 107,1, jauh di bawah 123,5 pada kelompok di atas Rp5 juta. Berdasarkan data BPS, inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencapai 4,37 persen secara tahunan. Jadi ekonomi makro bisa terlihat kokoh dari atas, sementara keluarga berpenghasilan rendah masih menanggung harga pangan yang naik.
Teori ekonomi makro: tiga lensa untuk membaca angka
Pertama, Arthur Burns dan Wesley Mitchell (1946) memperkenalkan gagasan indikator utama siklus bisnis. PMI berguna karena sifatnya mendahului data resmi seperti pertumbuhan ekonomi, tetapi ia bersifat survei dan satu bulan belum membentuk tren. Pertumbuhan PMI Agustus ke September, dari kontraksi ke ekspansi, perlu dikonfirmasi bulan-bulan berikutnya.
Kedua, Jeanne dan Rancière (2011) membahas cadangan devisa sebagai asuransi terhadap arus modal keluar mendadak. Sebagai hitungan sederhana, cadangan US$146,3 miliar yang setara 5,3 bulan impor berarti impor sekitar US$27,6 miliar per bulan. Standar tiga bulan setara sekitar US$83 miliar, sehingga ada bantalan sekitar US$63 miliar di atas standar. Ini hanya ilustrasi kasar dari angka BI, bukan data resmi.
Ketiga, trilema kebijakan dari Robert Mundell (1963) dan Marcus Fleming (1962) menyatakan bahwa sebuah negara tidak bisa sekaligus menjaga kurs stabil, arus modal bebas, dan kebijakan suku bunga yang independen. BI menahan BI Rate di 5,75 persen untuk ketiga kalinya berturut-turut sambil menstabilkan rupiah, dan sebagian harganya terlihat pada cadangan devisa yang turun tipis. Itu pilihan sulit, bukan kelalaian.
Yang perlu dijaga dari ekonomi makro dua wajah ini
Menurut saya, ada empat hal yang layak dikawal:
Jangan hanya menatap satu indikator. Cadangan devisa dan PMI menggambarkan ketahanan, tetapi bukan kesejahteraan rumah tangga.
Pastikan ekspansi manufaktur sampai ke tenaga kerja dan upah, supaya pesanan baru menjadi penghasilan.
Jaga harga pangan, karena inilah jalur tercepat tekanan sampai ke dompet.
Komunikasikan kebijakan dengan jelas, termasuk alasan BI menahan bunga dan memakai cadangan untuk stabilisasi.
Tentu satu bulan data tidak cukup untuk menyimpulkan arah. Ketidakpastian global masih tinggi, dan cadangan devisa yang lebih rendah dari tahun lalu menjadi pengingat bahwa bantalan itu perlu dijaga.
Penutup
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting dari “seberapa kuat angka makro kita?” adalah “apakah kekuatan itu terasa di rumah?” Ketahanan eksternal menjaga pintu rumah ekonomi, tetapi dompet menentukan apakah penghuninya merasa aman di dalamnya. Ekonomi makro yang sehat adalah yang angkanya kuat dan rasanya sampai ke keluarga.
