Anosmia dan Sunyi Kehidupan Tanpa Aroma

Pengajar. Suka berbagi cerita dan belajar hal-hal baru.
Tulisan dari Siti Fathonah Wijayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ibu tergopoh berlari ke dapur setelah sebelumnya berteriak kencang. Saya yang sedang di kamar segera keluar menyusulnya. Bau gosong menguar ke seluruh penjuru dapur. Tampak Ibu buru-buru memindahkan panci kecil berisi sayur gudeg yang gosong separuh, setelah sebelumnya mematikan api dari tungku sebelahnya. "Untung nggak kenapa-napa ya, Bu," ujar saya sembari mengatur detak jantung yang tiba-tiba lebih kencang dari biasanya.
Saya teringat pernah mengalami kejadian serupa, ketika bau seperti roti panggang yang mendadak berubah bau gosong muncul dari dapur kos saya. Saya lupa jika sedang merebus air dan yang tersisa setelahnya adalah panci yang memutih tanpa setetes pun air di dalamnya. Saya tak bisa dan tak ingin membayangkan apa yang akan terjadi seandainya saya tak membaui apa pun saat itu.
Kemampuan membaui merupakan salah satu hal yang agaknya sering saya sepelekan. Seperti adagium populer yang jamak kita dengar, "Kita baru menyadari pentingnya sesuatu ketika kita kehilangannya", pentingnya kemampuan ini baru saya sadari justru ketika saya kehilangannya.
Saya sering berandai bagaimana dunia tanpa warna atau tanpa suara. Tapi tak pernah sekalipun saya membayangkan dunia tanpa aroma. Hingga suatu pagi, secara tiba-tiba saya tak bisa mencium wangi sabun mandi aroma timun favorit saya.
Aneh, pikir saya. Hidung saya tak dalam kondisi mampet, tak juga sedang pilek. Saya mencoba mengendusnya hingga sabun itu nyaris menempel ke hidung saya, namun tak sedikitpun wanginya dapat saya hirup. Saya bergegas ke kamar mencari minyak kayu putih lalu menghirupnya. Tak saya cium bau apa-apa. Lemas sekali rasanya.
Kehilangan kemampuan membaui tidaklah menyenangkan. Namun mengetahui bahwa ia kini menjadi gejala seseorang terkena COVID-19 membuatnya jauh lebih tidak menyenangkan. Terlebih untuk seorang overthinker dengan rekam medis penuh dengan penyakit dari hampir semua poliklinik, termasuk poli paru, seperti saya.
Saya mencoba untuk tidak panik dan berpikir macam-macam. Saya membaca banyak artikel, berkonsultasi daring dengan dokter, hingga akhirnya memeriksakan diri ke dokter dan membawa setumpuk obat pulang. Saya membatasi interaksi dengan keluarga, rutin meminum obat dan suplemen, berjemur di pagi hari, dan melakukan apa pun yang kiranya dapat membuat tubuh saya kembali fit, sambil mencari cara mengembalikan fungsi indera penciuman saya.
Ketidakmampuan membaui yang kemudian saya kenal sebagai anosmia ini membuat saya menyadari satu hal penting: betapa pentingnya aroma bagi kehidupan. Ketika saya tak lagi bisa mencium aroma jahe dari ramuan wedhang jahe yang Ibu buatkan, ketika susu rasanya tak ubahnya air putih, atau ketika nila goreng juicy olahan Ibu berubah hambar, entah bagaimana saya merasa frustrasi luar biasa. Betapa aroma adalah rahasia di balik banyak cita rasa, juga kebahagiaan sederhana dalam hidup.
Saya lalu menghabiskan setiap hari mencium apa pun yang bisa saya cium demi mengembalikan fungsi indera penciuman ini. Minyak kayu putih, minyak tawon, minyak gosok pijat urut, sabun mandi, parfum, deodoran, rempah-rempah, bau keringat, bahkan yang paling menyedihkan, (maaf) bau feses saya sendiri.
Kehilangan indera penciuman membuat saya sadar, betapa kemampuan membaui, bahkan bau paling busuk sekalipun adalah sebuah anugerah. Belakangan saya juga menyadari, selain rasa frustrasi karena tak lagi bisa menikmati kebahagiaan-kebahagiaan sederhana dalam aroma yang saya hirup tiap hari, anosmia juga bisa membahayakan hidup kita.
Kejadian gudeg gosong dan panci memutih yang dialami Ibu dan saya masih terekam jelas di kepala, dan sulit membayangkan jika itu terjadi pada penderita anosmia, seseorang yang tak bisa membaui bau gosong dan karenanya tak menyadari bahaya kebakaran atau ledakan yang bisa terjadi akibat kelalaiannya mematikan kompor gas. Kenyataannya, setiap hari para penderita anosmia dihadapkan pada banyak situasi berbahaya seperti keracunan makanan akibat tak bisa mencium bau busuk, terjebak kebakaran karena tak mampu membaui asap, atau keracunan gas atau zat kimia berbahaya lainnya.
Anosmia juga menghilangkan banyak sensasi lain dalam hidup, seperti kehilangan kemampuan mengenang suatu memori atau peristiwa dari aroma tertentu. Seseorang dengan anosmia akan sulit membayangkan bagaimana aroma opor ayam bisa membuat seseorang seketika merasakan hangatnya suasana lebaran di kampung halaman. Atau bagaimana bau yang tertinggal di kemeja seseorang yang kita cintai bisa membawa kita pada kenangan indah ketika masih bersamanya.
Saya bukanlah satu-satunya orang yang merasa frustrasi ketika tak mampu membaui dan mengecap rasa. Dalam banyak literatur yang kemudian saya baca, para pasien anosmia banyak mengalami penurunan kualitas hidup, dan tak jarang berujung pada depresi. Sebuah penelitian yang dilakukan Smeets dkk pada sekelompok penderita anosmia di Belanda satu dekade silam menunjukkan bahwa penurunan fungsi indera penciuman dan perasa terkait dengan penurunan kesehatan mental, vitalitas, dan kesehatan secara umum. Yang terbaru, penelitian oleh University of East Anglia di tahun 2020 mengungkap dampak emosional negatif yang dialami pasien anosmia, mulai dari isu higienitas personal sampai renggangnya hubungan interpersonal. Ah, betapa sunyi dunia para penderita anosmia, mendapati satu persatu orang menjauh hanya karena ketidakmampuannya mencium bau, termasuk bau badannya sendiri.
Pengalaman hidup 128 jam bersama anosmia sedikit banyak mengubah hidup saya, cara saya memandang dunia dengan warna-warni aromanya. Saya beruntung menjadi satu di antara para penyintas yang hanya kehilangan indera penciumannya sebelum berhasil mendapatkannya kembali. Beberapa harus menjalani terapi panjang untuk mengembalikan fungsi indera penciumannya sepenuhnya. Beberapa yang lain justru harus kehilangan hidupnya.
Maka bolehlah kita mengucap syukur banyak-banyak ketika masih bisa membuka mata dan mencium bau kecut keringat kita sendiri di pagi hari. Karena itu jauh lebih melegakan daripada terbangun dan mendapati sunyi dunia tanpa aroma apa pun lagi.
