Konten dari Pengguna

Mengapa Banyak Orang Terjebak Overthinking?

Siti Febriza

Siti Febriza

Mahasiswa - Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Febriza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Overthinking. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Overthinking. Foto: Shutterstock

Fenomena overthinking atau berpikir secara berlebihan semakin banyak dibahas dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Kondisi ini ditandai dengan kecenderungan memikirkan suatu persoalan secara berulang hingga memunculkan rasa cemas, takut, dan kesulitan dalam mengambil keputusan.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa overthinking merupakan kebiasaan memikirkan suatu masalah secara terus-menerus hingga memengaruhi kondisi emosional dan kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan. Apabila dibiarkan, kebiasaan ini dapat meningkatkan stres dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Selain dipengaruhi oleh kondisi pribadi, overthinking juga dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti tekanan akademik, tuntutan pekerjaan, masalah ekonomi, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Situasi tersebut membuat sebagian orang lebih mudah membayangkan kemungkinan terburuk dibandingkan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi ketika seseorang mampu menyadari potensi dirinya, mengatasi tekanan hidup, bekerja secara produktif, dan berkontribusi kepada lingkungannya. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi overthinking. Foto: Shutter Stock

Rasa takut sebenarnya merupakan respons yang normal ketika seseorang menghadapi tantangan atau situasi baru. Namun, apabila rasa takut muncul secara berlebihan hingga menghambat aktivitas, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian. Seseorang yang mengalami overthinking umumnya lebih sulit mengambil keputusan, sering menyalahkan diri sendiri, serta terus memikirkan kesalahan yang telah terjadi.

Kementerian Kesehatan juga mengingatkan bahwa kebiasaan berpikir berlebihan dapat berdampak pada kualitas tidur, menurunnya konsentrasi, meningkatnya stres, hingga memicu gangguan kecemasan apabila tidak dikelola dengan baik.

Untuk mengurangi overthinking, seseorang dapat mulai membatasi penggunaan media sosial, menjaga pola tidur, berolahraga secara rutin, serta meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan. Apabila keluhan dirasakan semakin berat atau berlangsung dalam waktu lama, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi langkah yang tepat.

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental menjadi langkah positif. Dengan mengenali tanda-tanda overthinking sejak dini dan menerapkan pola hidup yang seimbang, setiap individu diharapkan mampu menjaga kesehatan mental sekaligus meningkatkan kualitas hidup.

Sumber:

World Health Organization (WHO): https://www.who.int/health-topics/mental-health

Kementerian Kesehatan RI: https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3188/mengapa-seseorang-bisa-mengalami-overthinking