PHK di Tengah Kebutuhan Hidup: Ketika Mencari Kerja Semakin Sulit di Indonesia

Mahasiswa - Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Siti Febriza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PHK semakin sering terjadi di berbagai sektor pekerjaan. Saya masih ingat ketika seorang teman mengirim pesan singkat, "Aku kena PHK." Sejak saat itu, saya menyadari bahwa kehilangan pekerjaan bukan hanya soal berhenti bekerja, tetapi juga menghadapi ketidakpastian hidup.
Tidak ada pertengkaran dengan atasan. Tidak ada pelanggaran aturan perusahaan. Ia hanya menjadi salah satu dari sekian banyak karyawan yang harus dilepas karena perusahaan melakukan efisiensi. Ironisnya, keputusan itu datang ketika harga kebutuhan pokok terus naik, cicilan masih berjalan, dan anaknya baru saja masuk sekolah.
Cerita seperti ini ternyata bukan lagi sesuatu yang asing. Dalam beberapa tahun terakhir, kabar mengenai PHK semakin sering terdengar, baik dari perusahaan teknologi, manufaktur, media, maupun sektor lainnya. Bukan hanya pekerja baru, bahkan mereka yang sudah mengabdi bertahun-tahun pun tidak luput dari risiko kehilangan pekerjaan.
PHK memang menjadi hak perusahaan dalam kondisi tertentu. Namun, bagi pekerja, kehilangan pekerjaan berarti kehilangan sumber penghasilan utama. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara finansial, tetapi juga secara psikologis.
Banyak orang menganggap mencari pekerjaan baru hanyalah soal mengirim CV ke berbagai perusahaan. Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Saat ini persaingan kerja semakin ketat. Satu lowongan pekerjaan dapat diperebutkan oleh ratusan bahkan ribuan pelamar. Perusahaan pun semakin selektif dalam memilih kandidat. Tidak sedikit yang mensyaratkan kemampuan digital, pengalaman kerja tertentu, hingga kemampuan menggunakan teknologi terbaru seperti Artificial Intelligence.
Fenomena tersebut membuat banyak pekerja yang terkena PHK merasa kehilangan arah. Di satu sisi mereka harus segera mendapatkan penghasilan baru, tetapi di sisi lain kesempatan kerja tidak sebanyak jumlah pelamar.
Padahal kebutuhan hidup tidak pernah ikut berhenti.
Tagihan listrik tetap datang setiap bulan. Cicilan rumah tidak mengenal kata toleransi. Biaya sekolah anak juga tetap harus dibayarkan. Semua kebutuhan itu tetap berjalan meskipun seseorang sudah tidak lagi menerima gaji.
Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, peningkatan kompetensi menjadi salah satu cara agar tenaga kerja Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan industri yang semakin cepat.
Saya melihat PHK seharusnya tidak hanya dipandang sebagai persoalan antara perusahaan dan karyawan. Ini adalah persoalan yang menyangkut kesiapan sumber daya manusia menghadapi perubahan dunia kerja.
Saat ini banyak pekerjaan mulai berubah karena otomatisasi dan perkembangan teknologi. Beberapa pekerjaan bahkan mulai digantikan oleh sistem digital yang mampu bekerja lebih cepat dan lebih efisien.
Laporan World Economic Forum Future of Jobs Report menjelaskan bahwa jutaan pekerjaan akan berubah dalam beberapa tahun ke depan akibat perkembangan teknologi, namun pada saat yang sama juga akan muncul jenis pekerjaan baru yang membutuhkan keterampilan berbeda.
Artinya, tantangan terbesar bukan sekadar PHK, melainkan bagaimana pekerja mampu terus belajar.
Memiliki satu keterampilan saja mungkin sudah tidak cukup. Kemampuan menggunakan komputer, mengoperasikan aplikasi digital, memahami AI, mengelola media sosial, hingga berkomunikasi dengan baik kini menjadi nilai tambah yang semakin dicari perusahaan.
Saya juga melihat bahwa banyak orang mulai mencari alternatif penghasilan. Ada yang membuka usaha kecil-kecilan, menjadi freelancer, hingga mencoba menjadi content creator. Memang tidak semua langsung berhasil, tetapi setidaknya ada upaya untuk tetap bertahan.
Di sisi lain, perusahaan juga memiliki tanggung jawab moral. Ketika PHK memang tidak dapat dihindari, prosesnya sebaiknya dilakukan secara transparan, memberikan hak-hak pekerja sesuai aturan, serta membantu proses transisi melalui pelatihan atau program penempatan kerja jika memungkinkan.
Pemerintah pun memiliki peran penting dalam memperluas kesempatan kerja. Dukungan terhadap UMKM, investasi, pelatihan vokasi, dan peningkatan kualitas pendidikan menjadi langkah yang dapat membantu mengurangi angka pengangguran dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar siap kehilangan pekerjaan. Namun dunia kerja memang terus berubah. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri agar tetap relevan dengan kebutuhan industri.
PHK mungkin menutup satu pintu, tetapi kemampuan untuk terus belajar dapat membuka pintu lainnya.
Karena pada akhirnya, pekerjaan bisa hilang kapan saja. Namun ilmu, pengalaman, dan kemauan untuk berkembang akan selalu menjadi bekal yang tidak mudah tergantikan.
