Kemerdekaan di Bawah Atap Leuit: Adat Kasepuhan Cirompang Tak Takut Kelaparan?

saya merupakan mahasiswa aktif di universitas pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Siti Haeriyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap bulan Agustus, layar kaca dan panggung publik mendadak dipenuhi riuh pidato tentang kemerdekaan. Kalimat-kalimat megah dilontarkan, bendera dikibarkan di setiap sudut kota. Namun, jika Anda melangkah jauh ke pedalaman Banten Kidul, tepatnya di Adat Kasepuhan Cirompang, makna kemerdekaan akan menyusut menjadi sesuatu yang sangat sederhana, personal, dan jujur: sepiring nasi dan lumbung kayu yang tak pernah kosong.
Aku lahir dan dibesarkan di sini, di tengah persekutuan masyarakat adat yang telah berdiri sejak tahun 1738 M—jauh sebelum garis batas dan peta politik republik ini dirumuskan. Bagi kami, kedaulatan bukanlah teori tata negara yang rumit. Kedaulatan adalah praktik bertahan hidup yang diwariskan secara disiplin dari generasi ke generasi.
FALSAFAH PADI: ADAT YANG MENOLAK KELAPARAN
Di era modern di mana segala hal kerap diukur dengan angka komersial dan kecemasan pasar, Adat Kasepuhan Cirompang memegang teguh sebuah ajaran luhur: adat menolak kelaparan. Fokus utama leluhur kami bukanlah tentang transaksi, melainkan tentang kepastian bahwa tidak boleh ada satu pun warga yang kelaparan di tanahnya sendiri.
Aku tumbuh besar dengan menyantap bulir beras yang kupahami betul silsilahnya. Ditanam oleh jemari tetangga yang kukenal namanya, dipanen lewat ritual penghormatan terhadap alam, dan disimpan rapat di dalam leuit—lumbung kayu beratap ijuk yang kuhitung jumlahnya sejak kecil. Leuit bukan sekadar tempat penyimpanan, melainkan simpul jaminan sosial. Padi yang tersimpan di sana adalah cadangan bersama yang menjamin kelangsungan hidup komunitas dalam jangka panjang.
Prinsip dasar ini menciptakan collective security atau rasa aman bersama yang sangat kuat. Di saat masyarakat perkotaan cemas menghadapi lonjakan harga bahan pokok dan krisis pangan global, warga Adat Kasepuhan Cirompang tidak pernah dihantui ketakutan akan krisis pangan. Leuit adalah benteng pertahanan kami; selama lumbung itu terisi, tidak ada satu pun kepala keluarga di antara kami yang dibiarkan menderita atau kelaparan sendirian.
MENJAGA 306 HEKTAR HUTAN ADAT TANPA KOMANDO
Kedaulatan pangan tidak akan pernah berdiri tanpa kedaulatan atas tanah. Pengakuan resmi negara atas ±306 Hektar Hutan Adat Kasepuhan Cirompang melalui SK KLHK pada tahun 2019 lalu bukanlah awal dari penjagaan kami, melainkan sekadar legitimasi administratif atas apa yang telah kami lakukan selama lebih dari empat abad.
Masyarakat adat kami membagi ruang hidup dengan presisi ekologis: membedakan wilayah yang harus dijaga ketat (leuweung tutupan) dan wilayah yang boleh dikelola (leuweung garapan). Adat kami tidak pernah menunggu perintah atau regulasi resmi hanya untuk melindungi tanah tempat kami bernapas dan minum. Kami menjaganya karena tanah ini adalah ibu yang memberi kami kehidupan dan menopang leuit-leuit kami tetap terisi.
DI MANA KEMERDEKAAN SEJATI BERADA?
Jadi, jika hari ini ada yang bertanya, "Apa artinya merdeka buatmu?"
Jawabannya tak tersirat di lembaran pidato formal. Jawabannya ada di rumah. Ada pada leuit yang tidak pernah dibiarkan kosong, pada tanah adat yang tidak pernah terjual, dan pada hukum adat yang berdiri mandiri untuk bentengi keselamatan warganya tanpa syarat.
Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia. Dari Adat Kasepuhan Cirompang untuk Nusantara—sebuah pengingat bahwa kemerdekaan paling sejati berawal dari kedaulatan sebuah bangsa atas tanah dan pangannya sendiri.
