Konten dari Pengguna

Organisasi Kampus: Investasi Masa Depan Atau Buang-Buang Waktu?

Siti Haeriyah

Siti Haeriyah

saya merupakan mahasiswa aktif di universitas pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Haeriyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

himapgsd/universitas pamulang. Foto: Dokumentasi Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
himapgsd/universitas pamulang. Foto: Dokumentasi Pribadi.

Teringat satu malam di sekretariat organisasi, saya duduk melingkar di atas karpet kusam bersama teman-teman panitia sambil memandangi tumpukan berkas proposal yang belum rampung. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, padahal besok pagi ada ujian penting yang menanti.

Di tengah rasa lelah yang menumpuk, pertanyaan itu mendadak hinggap: untuk apa semua kerja keras ini? Apakah waktu yang terkuras habis di kampus memang sepadan, atau kami sekadar membuang masa muda demi validasi sosial yang semu?

Perdebatan antara tipe mahasiswa "kupu-kupu" (kuliah-pulang) dan "kura-kura" (kuliah-rapat) rasanya tak pernah usai mewarnai obrolan di kantin kampus.

Sisi Gelap Ormawa: Dari Drama Rapat Hingga IPK yang Anjlok?

Skeptisisme terhadap organisasi mahasiswa sebenarnya tidak muncul tanpa alasan yang masuk akal. Kita kerap menyaksikan sendiri bagaimana rutinitas rapat yang berlarut-larut hingga larut malam sering kali tak menghasilkan keputusan yang konkret.

Belum lagi fenomena free-rider alias anggota yang tiba-tiba menghilang saat pekerjaan menumpuk, memaksa segelintir orang yang tersisa menanggung seluruh beban acara. Ketika prioritas akademik tergusur, IPK merosot, dan energi terkuras habis hanya demi seremoni formalitas.

Tidak mengherankan jika banyak mahasiswa berpikir bahwa lebih baik fokus magang daripada terjebak dalam drama organisasi. Sebuah survei dari Pemuda Center bahkan sempat menggarisbawahi bahwa "tingginya beban akademis menjadi alasan utama yang membuat mahasiswa enggan terlibat aktif dalam ormawa".

Laboratorium Nyata yang Tak Ada di Buku Teks

Kendati demikian, menyapu bersih peran organisasi sebagai kegiatan yang sepenuhnya sia-sia jelas merupakan penilaian yang terlalu sempit. Di dalam ruang kelas, kita disuapi teori dan pengetahuan teknis, tetapi di organisasilah mental kita ditempa secara nyata.

Keterampilan interpersonal—mulai dari seni bernegosiasi dengan birokrasi kampus yang kaku, manajemen krisis saat dana sponsor mendadak dibatalkan, hingga cara menghadapi beragam karakter manusia—tidak pernah ada padanannya di dalam buku teks.

Pengalaman berjibaku menyukseskan sebuah agenda memberikan ketahanan mental dan soft skills yang menjadi fondasi sangat berharga saat kita melangkah ke dunia kerja kelak.

Sikap Tegas: Organisasi Bukan Sekadar Pelarian

Pada akhirnya, saya menolak pandangan bahwa organisasi secara otomatis menjamin kesuksesan karir, sebagaimana saya juga menentang anggapan bahwa ormawa hanyalah tempat pemborosan waktu. Namun, jika harus mengambil posisi yang tegas, saya meyakini bahwa berorganisasi tetaplah sebuah investasi yang bernilai—dengan satu syarat mutlak.

Wadah tersebut harus difungsikan sebagai sarana pembentukan karakter, bukan sekadar tempat melarikan diri dari kewajiban akademis. Jika suatu organisasi sudah berubah menjadi lingkungan beracun yang hanya menyita waktu tanpa memberikan ruang bertumbuh, pilihan terbaik adalah angkat kaki dan beralih ke jalur lain seperti magang.

Namun, memusuhi wadah organisasi secara keseluruhan hanya karena tata kelolanya yang buruk adalah sebuah kekeliruan. Pilih organisasi secara cermat, tetapkan batas prioritas yang jelas, dan manfaatkan wadah tersebut sebagai batu loncatan yang nyata.