AI Memudahkan Mahasiswa, Tapi Apakah Membuat Mereka Semakin Pintar?
Tulisan dari Siti hawa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, ketika mendapat tugas kuliah, mahasiswa harus membuka buku, mencari jurnal, mengetik kata kunci di mesin pencarian, kemudian membaca berbagai sumber sebelum menemukan jawaban yang dibutuhkan. Sekarang, proses tersebut dapat berlangsung jauh lebih cepat. Dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), mahasiswa dapat meminta penjelasan materi, mencari ide, membuat rangkuman, hingga membantu menyusun tulisan dalam waktu singkat.
Kemudahan tersebut membuat AI dalam pendidikan semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. AI bukan lagi sekadar teknologi yang dibicarakan sebagai sesuatu yang akan datang, tetapi sudah digunakan dalam aktivitas belajar sehari-hari.
Pemerintah pun mulai memberikan perhatian terhadap penggunaan teknologi tersebut. Pada Maret 2026, tujuh kementerian menyepakati pedoman pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta kecerdasan artifisial dalam pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi. Pedoman tersebut menekankan bahwa pemanfaatan AI perlu disesuaikan dengan usia, kesiapan pengguna, manfaat pembelajaran, dan risiko yang mungkin muncul.
Namun, semakin mudah sebuah teknologi digunakan, semakin penting pula pertanyaan mengenai bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Ketika Tugas Kuliah Bisa Selesai dalam Hitungan Menit
Bagi mahasiswa, salah satu daya tarik utama AI adalah kemampuannya menghemat waktu. Ketika menemukan materi yang sulit dipahami, mahasiswa dapat meminta AI menjelaskannya dengan bahasa yang lebih sederhana. Ketika kehabisan ide untuk memulai tulisan, AI dapat memberikan beberapa alternatif topik.
Masalah muncul ketika kemudahan tersebut membuat proses berpikir perlahan-lahan dilewati.
Ada perbedaan antara menggunakan AI untuk memahami materi dengan menggunakan AI untuk menggantikan proses memahami materi. Pada kondisi pertama, AI menjadi alat bantu. Pada kondisi kedua, mahasiswa hanya menerima hasil tanpa benar-benar mengetahui bagaimana jawaban tersebut diperoleh.
Perbedaannya mungkin tidak terasa ketika tugas hanya membutuhkan jawaban singkat. Namun, dampaknya dapat terlihat ketika mahasiswa harus menjelaskan kembali materi, mempertahankan pendapat dalam diskusi, atau menyelesaikan persoalan tanpa bantuan teknologi.
Di sinilah persoalan penggunaan AI oleh mahasiswa menjadi lebih luas daripada sekadar pertanyaan boleh atau tidak boleh menggunakan AI.
AI Membantu Belajar, Tetapi Ada Hal yang Perlu Diwaspadai
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan pada Juni 2026 mengkaji penggunaan AI oleh mahasiswa Generasi Z di Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Penelitian tersebut menemukan bahwa AI dapat membantu performa tugas, produktivitas akademik, dan kepercayaan diri mahasiswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Namun, penelitian yang sama juga menemukan adanya perubahan perilaku belajar pada penggunaan AI yang intensif. Motivasi belajar dapat bergeser dari rasa ingin tahu menjadi lebih berorientasi pada hasil. Penggunaan AI juga dikaitkan dengan berkurangnya keterlibatan dalam berpikir reflektif, berpikir kritis, dan pembelajaran kolaboratif.
Temuan tersebut tidak berarti AI secara otomatis membuat mahasiswa malas berpikir. Persoalannya lebih terletak pada cara teknologi tersebut digunakan.
AI dapat menjadi seperti kalkulator dalam belajar: membantu menyelesaikan bagian tertentu dari pekerjaan, tetapi tetap membutuhkan kemampuan manusia untuk memahami persoalan dan memeriksa hasilnya.
Bukan Lagi Soal Melarang AI
Perkembangan AI membuat larangan penggunaan teknologi secara keseluruhan semakin sulit menjadi satu-satunya jawaban. Mahasiswa akan tetap berhadapan dengan AI, baik di lingkungan pendidikan maupun ketika memasuki dunia kerja.
Karena itu, kemampuan yang dibutuhkan bukan hanya mengetahui cara menggunakan AI, tetapi juga mengetahui kapan harus menggunakannya dan kapan harus berpikir tanpa bantuan AI.
Pemerintah melalui Kemkomdigi pada Juli 2026 juga menekankan pentingnya meningkatkan kapabilitas AI masyarakat. Menurut pemerintah, kemampuan menggunakan AI saja tidak cukup. Pengguna juga perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya secara produktif dan bertanggung jawab, termasuk dengan tetap memperkuat kemampuan bernalar dan berpikir kritis.
Artinya, literasi AI tidak berhenti pada kemampuan membuat perintah atau prompt yang bagus. Mahasiswa juga perlu mampu mempertanyakan jawaban AI, membandingkannya dengan sumber lain, menemukan kesalahan, dan menentukan apakah informasi tersebut memang dapat dipercaya.
Ketika Jawaban Cepat Tidak Selalu Berarti Pemahaman
Ada satu hal yang sering terlupakan dari penggunaan AI dalam pendidikan, kecepatan mendapatkan jawaban tidak sama dengan kedalaman memahami materi.
Seorang mahasiswa mungkin bisa mendapatkan penjelasan mengenai suatu teori dalam beberapa detik. Namun, memahami teori tersebut tetap membutuhkan proses membaca, membandingkan, menghubungkan dengan materi lain, dan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan.
Jika seluruh proses tersebut langsung diserahkan kepada AI, mahasiswa memang dapat menyelesaikan tugas lebih cepat. Akan tetapi, kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir juga dapat berkurang.
Karena itu, hasil yang diberikan AI sebaiknya diperlakukan sebagai bahan untuk belajar, bukan sebagai jawaban akhir yang langsung disalin.
Mahasiswa dapat menggunakan AI untuk meminta penjelasan, mencari sudut pandang lain, membuat contoh soal, atau menemukan bagian materi yang belum dipahami. Setelah itu, proses membaca, memeriksa, dan menyusun pemahaman tetap dilakukan oleh mahasiswa sendiri.
Tantangan Pendidikan di Tengah Perkembangan AI
Perubahan ini juga menjadi tantangan bagi dosen dan perguruan tinggi. Tugas yang hanya meminta mahasiswa menghasilkan tulisan atau jawaban akhir menjadi lebih mudah dikerjakan dengan bantuan AI.
Karena itu, pola pembelajaran perlu ikut berkembang. Mahasiswa tidak cukup hanya diminta menghasilkan jawaban, tetapi juga dapat diminta menjelaskan proses berpikir, mempertahankan argumen, melakukan presentasi, berdiskusi, atau menghubungkan teori dengan persoalan nyata.
Dengan cara tersebut, AI tetap dapat digunakan sebagai bagian dari proses belajar tanpa menghilangkan peran mahasiswa sebagai orang yang berpikir dan mengambil keputusan.
Tantangan ini kemungkinan tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Teknologi AI justru akan terus berkembang dan menjadi semakin mudah digunakan. Karena itu, kemampuan untuk menggunakan AI secara kritis akan menjadi bagian penting dari keterampilan belajar dan bekerja di masa depan.
AI Seharusnya Menjadi Alat, Bukan Pengganti Cara Berpikir
Kehadiran AI dalam pendidikan bukan semata-mata tentang apakah teknologi ini akan membantu atau merugikan mahasiswa. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Jika digunakan dengan tepat, AI dapat membantu mahasiswa memahami materi yang sulit, menemukan ide, menghemat waktu, dan mengeksplorasi berbagai sumber pembelajaran. Namun, jika digunakan tanpa batas, kemudahan tersebut dapat membuat mahasiswa terlalu bergantung pada jawaban instan dan kehilangan sebagian proses belajar yang justru penting.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan tugas yang selesai. Pendidikan juga bertujuan membentuk kemampuan untuk memahami, mempertanyakan, menganalisis, dan mengambil keputusan.
AI boleh membantu mahasiswa menemukan jawaban. Tetapi kemampuan untuk memahami apakah jawaban tersebut benar, masuk akal, dan dapat dipertanggungjawabkan tetap berada di tangan manusia.
Di tengah perkembangan AI dalam pendidikan, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, “Bolehkah mahasiswa menggunakan AI?” Melainkan, “Apakah kita masih berpikir setelah menggunakan AI?”
Siti Hawa, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pamulang.

