Konten dari Pengguna

Kenapa Kita Merasa Harus Selalu Baik-Baik Saja?

Sumber: Ilustrasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi Pribadi

Ada kalanya seseorang tetap datang ke kampus, bekerja, bertemu teman, mengunggah foto di media sosial, bahkan masih bisa tertawa bersama orang lain, meskipun sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Ketika ditanya bagaimana keadaannya, jawaban yang keluar sering kali sederhana, “Aku baik-baik saja.”

Kalimat tersebut terdengar biasa. Namun, di balik jawaban singkat itu, bisa saja ada seseorang yang sedang berusaha menyembunyikan rasa lelah, kecewa, cemas, atau berbagai persoalan yang sedang dihadapinya. Tidak semua hal yang dirasakan seseorang terlihat dari luar.

Kehidupan yang semakin cepat juga membuat banyak orang terbiasa untuk tetap menjalankan aktivitas meskipun sedang merasa lelah secara emosional. Ada tuntutan untuk tetap produktif, menyelesaikan pekerjaan, mengikuti perkuliahan, bersosialisasi, dan terlihat bahagia. Pada akhirnya, mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja justru dapat terasa seperti sebuah kelemahan.

Padahal, persoalan kesehatan mental tidak selalu dapat dilihat dari penampilan seseorang. Kementerian Kesehatan RI pada September 2026 mengingatkan bahwa seseorang dapat terlihat sehat secara fisik, tetapi sebenarnya sedang mengalami masalah kesehatan jiwa. Kondisi yang tidak terlihat inilah yang membuat persoalan tersebut sering terlambat dikenali.

Ketika Terlihat Baik-Baik Saja Menjadi Tuntutan

Ada perbedaan antara benar-benar merasa baik-baik saja dengan terbiasa mengatakan bahwa diri baik-baik saja.

Seseorang mungkin memilih diam karena tidak ingin membuat orang lain khawatir. Ada pula yang takut dianggap terlalu sensitif, lemah, atau berlebihan ketika menceritakan masalah yang sedang dihadapi. Sebagian lainnya bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

Kondisi tersebut dapat semakin rumit ketika seseorang berada di lingkungan yang menuntut dirinya untuk selalu terlihat kuat. Mahasiswa tetap harus mengikuti perkuliahan meskipun sedang kehilangan semangat. Pekerja tetap harus menyelesaikan tugas ketika pikirannya sedang penuh. Anak muda juga tetap berusaha aktif di media sosial meskipun kehidupan di balik layar tidak selalu sesuai dengan apa yang ditampilkan.

Jika terus dilakukan, menyembunyikan perasaan dapat berubah menjadi sebuah kebiasaan. Seseorang menjadi terbiasa memendam masalah dan merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri.

Padahal, memiliki masalah atau mengalami tekanan emosional bukan berarti seseorang gagal menjalani kehidupannya. Merasa lelah, sedih, cemas, kecewa, atau kewalahan merupakan bagian dari pengalaman manusia yang perlu dikenali, bukan selalu disembunyikan.

Masalah Kesehatan Mental pada Anak Muda Bukan Persoalan Sepele

Persoalan kesehatan mental pada anak muda di Indonesia bukan hanya menjadi pembicaraan di media sosial. Data menunjukkan bahwa perhatian terhadap kesehatan jiwa memang diperlukan.

Kementerian Kesehatan menyebut data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan sekitar satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir. Kemenkes juga menekankan bahwa masalah psikologis sering kali tidak terlihat sehingga orang-orang di sekitar perlu lebih peka terhadap perubahan yang terjadi.

Gambaran lain terlihat dari Program Cek Kesehatan Gratis. Dari sekitar tujuh juta anak yang menjalani skrining pada periode 2025–2026, hampir 10 persen menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa. Sekitar 4,4 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi.

Angka tersebut tidak berarti setiap anak yang menunjukkan gejala otomatis mengalami gangguan mental. Skrining merupakan bagian dari deteksi awal dan tetap membutuhkan penilaian lebih lanjut. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja tidak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang sepele.

Media Sosial dan Kebiasaan Membandingkan Diri

Tekanan untuk terlihat baik-baik saja juga dapat muncul dari media sosial. Setiap hari, seseorang dapat melihat berbagai unggahan mengenai pencapaian, pertemanan, pekerjaan, pendidikan, liburan, hingga kehidupan yang terlihat menyenangkan.

Masalahnya muncul ketika apa yang terlihat di layar dibandingkan dengan kehidupan pribadi secara keseluruhan. Seseorang mungkin melihat temannya sudah memiliki banyak pencapaian, sementara dirinya merasa belum melakukan apa-apa. Ia melihat orang lain tampak bahagia, kemudian bertanya mengapa kehidupannya sendiri terasa lebih berat.

Padahal, media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui masalah yang sedang dihadapi seseorang hanya berdasarkan unggahan yang mereka bagikan.

Orang yang terlihat paling bahagia di media sosial pun tetap dapat memiliki persoalan yang tidak pernah mereka ceritakan. Karena itu, membandingkan kehidupan nyata dengan potongan kehidupan orang lain di media sosial dapat menciptakan tekanan yang tidak perlu.

Tidak Semua Kesedihan Berarti Gangguan Mental

Pembahasan mengenai kesehatan mental juga perlu dilakukan dengan hati-hati. Merasa sedih setelah mengalami kegagalan, kecewa karena suatu masalah, atau merasa lelah setelah menjalani aktivitas yang padat merupakan pengalaman emosional yang wajar. Tidak setiap perubahan suasana hati berarti seseorang mengalami gangguan mental.

Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika kondisi tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari atau berlangsung terus-menerus. Dalam situasi seperti itu, berbicara dengan orang yang dipercaya maupun mencari bantuan dari tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.

Kementerian Kesehatan juga mendorong masyarakat untuk mengenali tanda-tanda masalah kesehatan jiwa sejak dini dan tidak menunggu sampai kondisi berkembang menjadi lebih berat.

Dengan demikian, membicarakan kesehatan mental bukan berarti memberikan diagnosis terhadap setiap orang yang sedang merasa sedih atau lelah. Justru, pemahaman yang baik dapat membantu seseorang mengenali kondisi dirinya dan mengetahui kapan membutuhkan dukungan.

Tidak Harus Selalu Kuat Sendirian

Menjaga kesehatan mental tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, langkah pertama hanya dengan mengakui bahwa diri sedang lelah.

Berbicara kepada teman yang dipercaya, bercerita kepada keluarga, mengambil waktu untuk beristirahat, mengurangi aktivitas yang terlalu membebani, atau mencari bantuan profesional ketika diperlukan merupakan beberapa bentuk perhatian terhadap diri sendiri.

Lingkungan sekitar juga memiliki peran penting. Kita tidak harus menjadi psikolog untuk membantu seseorang yang sedang menghadapi masalah. Terkadang, menjadi orang yang mau mendengarkan tanpa langsung menyalahkan atau menghakimi sudah dapat menjadi bentuk dukungan yang berarti.

Kementerian Kesehatan memperkenalkan prinsip pertolongan psikologis pertama melalui konsep 3M, yaitu memperhatikan, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menghubungkan seseorang dengan bantuan yang tepat.

Artinya, kepedulian terhadap kesehatan mental tidak hanya menjadi tanggung jawab orang yang sedang mengalami masalah. Orang-orang di sekitarnya juga dapat berperan dengan menciptakan lingkungan yang membuat seseorang merasa aman untuk bercerita.

Tidak Semua yang Tersenyum Sedang Baik-Baik Saja

Pada akhirnya, mengatakan “aku baik-baik saja” memang tidak selalu salah. Setiap orang memiliki hak untuk menentukan kapan dan kepada siapa ia ingin bercerita. Namun, seseorang juga tidak seharusnya merasa wajib terlihat kuat setiap saat.

Kesehatan mental bukan hanya persoalan ketika seseorang sudah berada dalam kondisi yang berat. Mengenali perasaan, memberikan ruang untuk beristirahat, berbicara ketika membutuhkan bantuan, serta memperhatikan orang-orang di sekitar merupakan bagian dari menjaga kesehatan jiwa.

Di tengah kehidupan yang menuntut manusia untuk terus bergerak, mungkin kita perlu belajar bahwa berhenti sejenak bukan berarti tertinggal. Meminta bantuan juga bukan berarti lemah.

Sebab, tidak semua orang yang terlihat baik-baik saja benar-benar sedang baik-baik saja. Dan terkadang, pertanyaan sederhana seperti “Kamu benar-benar baik-baik saja?” dapat menjadi awal bagi seseorang untuk merasa bahwa dirinya tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Siti Hawa, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pamulang.