Konten dari Pengguna

Kenapa Kita Merasa Semua Orang Lebih Sukses di Media Sosial?

Sumber: Ilustrasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi Pribadi

Pernah membuka media sosial hanya untuk melihat teman yang baru lulus, mendapatkan pekerjaan, pergi liburan, membeli barang baru, atau memulai kehidupan baru? Setelah melihat beberapa unggahan seperti itu, kehidupan sendiri tiba-tiba terasa biasa saja. Padahal, beberapa menit sebelumnya tidak ada masalah dengan kehidupan yang sedang dijalani.

Fenomena seperti ini semakin mudah terjadi karena media sosial tidak hanya menjadi tempat berbagi cerita. Media sosial juga menjadi ruang untuk melihat pencapaian orang lain, membentuk pandangan tentang kesuksesan, sekaligus membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan yang terlihat di layar. Masalahnya, apa yang muncul di media sosial bukanlah gambaran lengkap tentang kehidupan seseorang.

Kita Hanya Melihat Bagian yang Dibagikan

Seseorang mungkin mengunggah foto ketika mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak menunjukkan berapa banyak lamaran yang pernah ditolak sebelumnya. Seseorang juga bisa membagikan foto wisuda tanpa memperlihatkan masa-masa ketika harus menyelesaikan banyak tugas, menghadapi kegagalan, atau merasa ingin menyerah.

Hal yang sama berlaku ketika seseorang terlihat sering bepergian, memiliki barang baru, atau menjalani hubungan yang terlihat bahagia. Media sosial biasanya hanya memperlihatkan bagian kehidupan yang memang ingin dibagikan. Kita akhirnya membandingkan kehidupan secara keseluruhan dengan potongan kehidupan orang lain. Akibatnya, kehidupan orang lain terlihat lebih sempurna, sedangkan kehidupan sendiri terasa penuh kekurangan.

Algoritma Ikut Menentukan Apa yang Kita Lihat

Perasaan tersebut semakin kuat karena media sosial tidak menampilkan semua konten secara acak. Algoritma mempelajari berbagai aktivitas pengguna, seperti konten yang disukai, ditonton, dicari, dibagikan, atau dikomentari. Data tersebut kemudian digunakan untuk menentukan konten yang kemungkinan akan kembali menarik perhatian pengguna.

Pada September 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menjelaskan bahwa interaksi pengguna menjadi salah satu data yang digunakan platform untuk menentukan konten yang kembali ditampilkan. Kondisi ketika pengguna terus menerima konten dengan pandangan atau tema yang serupa juga berkaitan dengan istilah echo chamber.

Artinya, ketika seseorang sering melihat konten tentang kesuksesan, produktivitas, gaya hidup, atau pencapaian tertentu, ia dapat semakin sering menemukan konten dengan tema serupa. Lama-kelamaan, dunia yang terlihat di layar bisa terasa seperti gambaran kehidupan semua orang. Padahal, yang terlihat hanyalah bagian dari realitas yang diperkuat oleh sistem rekomendasi.

Ketika Kesuksesan Terlihat Seperti Perlombaan

Media sosial membuat pencapaian seseorang menjadi sesuatu yang mudah dilihat dan dibandingkan. Dulu, seseorang mungkin baru mengetahui temannya mendapatkan pekerjaan setelah bertemu atau mendengar cerita secara langsung. Sekarang, kabar tersebut dapat muncul di layar banyak orang dalam waktu yang hampir bersamaan.

Hal yang sama berlaku untuk berbagai pencapaian lain. Ada yang membagikan kelulusan, mendapatkan beasiswa, mulai bekerja, membuka usaha, menikah, membeli rumah, atau bepergian ke tempat yang selama ini menjadi impian. Ketika berbagai pencapaian tersebut muncul terus-menerus di lini masa, seseorang dapat merasa dirinya tertinggal.

Padahal, setiap orang memiliki waktu dan kondisi kehidupan yang berbeda. Persoalannya bukan pada orang yang membagikan pencapaiannya. Mereka tentu berhak membagikan sesuatu yang membuat mereka bahagia. Persoalannya muncul ketika apa yang terlihat di media sosial dijadikan ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.

Media Sosial Sudah Menjadi Bagian dari Kehidupan Masyarakat

Besarnya fenomena ini tidak terlepas dari tingginya penggunaan media sosial di Indonesia. DataReportal dalam laporan Digital 2026 mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Oktober 2025, setara dengan 62,9 persen dari jumlah penduduk. Angka tersebut merupakan identitas pengguna sehingga tidak dapat dianggap sama persis dengan jumlah individu unik.

Dengan jumlah tersebut, media sosial menjadi ruang yang besar bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dan melihat kehidupan orang lain. Pemerintah juga mulai menyoroti bagaimana algoritma dapat memengaruhi persepsi masyarakat. Pada Juni 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital mengingatkan generasi muda agar lebih kritis terhadap apa yang disebut sebagai ilusi algoritma, yaitu kondisi ketika potongan realitas yang diperkuat algoritma dapat memberikan kesan seolah-olah itulah gambaran keseluruhan keadaan.

Yang Terlihat Tidak Selalu Mewakili Kenyataan

Ketika seseorang melihat puluhan orang sukses di media sosial dalam satu hari, bukan berarti hanya dirinya yang belum berhasil. Bisa jadi, algoritma memang sedang menunjukkan lebih banyak konten yang sesuai dengan hal-hal yang sering ia lihat dan berinteraksi dengannya.

Selain itu, orang cenderung lebih sering membagikan momen yang dianggap menarik daripada hari-hari biasa. Jarang ada orang yang mengunggah, “Hari ini tidak terjadi apa-apa.” Sebaliknya, banyak orang memilih membagikan kabar ketika mendapatkan pekerjaan, lulus kuliah, bepergian, atau mencapai sesuatu yang membanggakan.

Akibatnya, media sosial dipenuhi oleh momen-momen pencapaian yang sebenarnya hanya merupakan sebagian kecil dari kehidupan setiap orang. Jika kita lupa bahwa media sosial adalah kumpulan potongan kehidupan, perbandingan dengan orang lain menjadi semakin mudah terjadi.

Bukan Berarti Harus Berhenti Menggunakan Media Sosial

Media sosial tetap memiliki banyak manfaat. Seseorang dapat memperoleh informasi, menemukan komunitas, membangun pekerjaan, mempromosikan usaha, hingga terhubung dengan orang yang jauh. Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah media sosial harus digunakan atau ditinggalkan.

Yang penting adalah memahami bahwa lini masa setiap orang tidak sama. Apa yang muncul di layar merupakan hasil dari aktivitas pengguna dan sistem rekomendasi platform. Ketika melihat kehidupan orang lain, kita perlu mengingat bahwa yang ditampilkan hanyalah bagian yang mereka pilih untuk dibagikan.

Mencari informasi dari sumber yang berbeda dan melihat konten dengan perspektif yang beragam juga dapat membantu kita tidak terjebak pada satu gambaran kehidupan saja. Dengan begitu, media sosial dapat digunakan sebagai sumber informasi dan inspirasi tanpa harus menjadi ukuran utama untuk menilai kehidupan sendiri.

Tidak Semua Orang Berjalan di Waktu yang Sama

Kesuksesan tidak memiliki satu bentuk dan tidak datang pada waktu yang sama untuk setiap orang. Ada orang yang mendapatkan pekerjaan lebih dulu, ada yang masih mencari, ada yang memilih melanjutkan pendidikan, dan ada pula yang sedang membangun usaha dari awal. Sebagian orang juga sedang menghadapi persoalan pribadi yang tidak pernah mereka tampilkan di media sosial.

Jadi, ketika membuka media sosial dan merasa semua orang terlihat lebih sukses, belum tentu kehidupan mereka memang sesempurna yang terlihat. Bisa jadi, kita hanya sedang melihat terlalu banyak potongan keberhasilan orang lain dalam satu waktu.

Media sosial memperlihatkan apa yang dipilih orang untuk dibagikan, sementara kehidupan nyata memiliki jauh lebih banyak cerita yang tidak pernah masuk ke layar. Pada akhirnya, media sosial boleh menjadi tempat untuk mendapatkan inspirasi, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya alat untuk mengukur apakah kehidupan seseorang sudah cukup berhasil atau belum.

Siti hawa, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pamulang.