Konten dari Pengguna

Marriage Is Scary, Mengapa Sebagian Gen Z Menunda Pernikahan?

Sumber: Ilustrasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi Pribadi

Bagi sebagian anak muda, menikah tidak lagi sekadar tentang menemukan pasangan lalu membangun keluarga. Ada banyak pertanyaan yang muncul sebelum sampai pada tahap tersebut, mulai dari kesiapan finansial, pekerjaan, kondisi emosional, hingga keyakinan bahwa orang yang dipilih benar-benar merupakan pasangan yang tepat. Pernikahan akhirnya dipandang sebagai keputusan besar yang membutuhkan persiapan, bukan sekadar sesuatu yang harus dilakukan karena sudah mencapai usia tertentu.

Pandangan tersebut semakin terlihat di kalangan Gen Z. Di media sosial, istilah “Marriage Is Scary” sering digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran anak muda terhadap kehidupan setelah menikah. Pernikahan tidak hanya dilihat dari sisi romantisnya, tetapi juga dari berbagai tanggung jawab yang menyertainya, seperti kondisi ekonomi, hubungan dengan keluarga, pembagian peran, hingga kemungkinan menghadapi konflik rumah tangga.

Di sisi lain, muncul fenomena living together atau cohabitation, yaitu pasangan yang memilih tinggal bersama tanpa menikah. Fenomena ini mulai menjadi bagian dari pembicaraan mengenai perubahan cara sebagian anak muda memandang hubungan dan komitmen. Dua hal tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan menarik: mengapa pernikahan terasa semakin menakutkan, sementara tinggal bersama justru mulai dipertimbangkan oleh sebagian pasangan?

Menikah Tidak Lagi Sekadar Soal Umur

Dulu, pertanyaan seperti “Kapan menikah?” mungkin terdengar biasa. Namun, bagi sebagian anak muda sekarang, pertanyaan tersebut justru dapat terasa sebagai tekanan. Banyak Gen Z memilih menyelesaikan pendidikan, membangun karier, memiliki penghasilan yang stabil, atau menyiapkan kondisi finansial terlebih dahulu sebelum memikirkan pernikahan.

Data BPS menunjukkan bahwa pada 2024 sebagian besar pemuda usia 19–24 tahun masih berstatus belum kawin. Pada kelompok usia 25–30 tahun pun lebih dari separuh pemuda tercatat belum kawin. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pernikahan di usia muda bukan lagi sesuatu yang otomatis terjadi pada semua pemuda. Namun, belum menikah tentu tidak dapat langsung diartikan sebagai tidak ingin menikah.

Sebagian orang mungkin hanya merasa belum menemukan waktu yang tepat. Ada pula yang ingin memastikan bahwa keputusan menikah tidak dilakukan hanya karena tuntutan usia, keluarga, atau lingkungan. Bagi mereka, kesiapan menjadi pertimbangan yang lebih penting daripada sekadar memenuhi ekspektasi sosial.

Ketika Pernikahan Terlihat Menakutkan

Istilah Marriage Is Scary menjadi menarik karena menggambarkan sisi lain dari pernikahan yang sering kali tidak terlihat dalam gambaran romantis. Media sosial membuat anak muda dapat melihat berbagai cerita rumah tangga dalam waktu yang bersamaan. Ada pasangan yang terlihat bahagia, tetapi ada pula cerita mengenai konflik, perselingkuhan, perceraian, masalah ekonomi, hingga seseorang yang merasa kehilangan dirinya setelah menikah.

Paparan cerita tersebut tentu tidak otomatis membuat seseorang takut menikah. Namun, pengalaman orang lain dapat membuat seseorang semakin banyak mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan. Penelitian yang terbit pada 2026 mengenai fenomena Marriage Is Scary pada Gen Z juga membahas bagaimana faktor ekonomi, pengalaman hubungan, media sosial, dan perubahan nilai dapat memengaruhi cara anak muda memandang pernikahan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul bukan lagi hanya “Siapa yang akan saya nikahi?”, tetapi juga “Kehidupan seperti apa yang akan saya jalani setelah menikah?”. Bagi sebagian Gen Z, pernikahan bukan sesuatu yang harus ditolak, tetapi keputusan yang perlu dipikirkan dengan lebih matang.

Living Together Mulai Masuk dalam Perbincangan

Di tengah kecenderungan sebagian anak muda menunda pernikahan, living together menjadi fenomena yang menarik untuk dilihat. Secara sederhana, living together berarti pasangan tinggal dalam satu rumah tanpa ikatan pernikahan. Fenomena ini tentu memiliki konteks yang berbeda di setiap negara dan masyarakat.

Di Indonesia, living together masih menjadi persoalan yang sensitif karena berkaitan dengan nilai agama, budaya, keluarga, dan norma sosial. Karena itu, fenomena tersebut tidak dapat disamakan begitu saja dengan kondisi di negara yang lebih terbuka terhadap cohabitation. Namun, keberadaannya tetap menarik untuk diperhatikan karena mulai muncul dalam pembicaraan mengenai perubahan nilai hubungan di kalangan anak muda.

Sebuah penelitian pada 2026 yang membahas cohabitation pada Gen Z Indonesia menemukan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan perubahan nilai sosial, kondisi ekonomi, pengaruh media sosial, dan perubahan pandangan mengenai pernikahan. Hal ini bukan berarti mayoritas Gen Z memilih tinggal bersama, karena data nasional belum dapat digunakan untuk menyimpulkan hal tersebut. Yang terlihat adalah living together mulai menjadi salah satu fenomena yang ikut dibicarakan ketika membahas perubahan hubungan di kalangan anak muda.

Mengapa Tinggal Bersama Bisa Terlihat Lebih Mudah?

Salah satu alasan yang mungkin membuat living together menarik bagi sebagian pasangan adalah keinginan untuk mengenal pasangan lebih dekat sebelum mengambil keputusan yang lebih besar. Tinggal bersama memungkinkan pasangan melihat kebiasaan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara mengatur keuangan, membagi pekerjaan rumah, menghabiskan waktu, sampai menghadapi persoalan bersama.

Namun, tinggal bersama bukan berarti hubungan otomatis menjadi lebih mudah. Kehidupan dalam satu rumah juga dapat menghadirkan persoalan baru, seperti perbedaan kebiasaan, pengelolaan uang, pembagian tanggung jawab, batas pribadi, hingga ketidakjelasan mengenai arah hubungan. Karena itu, living together tidak bisa begitu saja dianggap sebagai versi yang lebih sederhana dari pernikahan.

Keduanya memiliki bentuk komitmen dan konsekuensi yang berbeda. Yang berubah adalah cara sebagian anak muda memaknai hubungan tersebut dan bagaimana mereka menentukan bentuk komitmen yang dianggap sesuai dengan kondisi kehidupannya.

Gen Z Bukan Berarti Tidak Percaya Pernikahan

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap Gen Z yang menunda pernikahan sebagai generasi yang tidak percaya pada pernikahan. Padahal, menunda bukan berarti menolak. Seseorang yang belum ingin menikah pada usia 23 atau 25 tahun belum tentu tidak ingin menikah selamanya.

The Jakarta Post pada 2026 menyoroti kecenderungan sebagian Gen Z Indonesia menempatkan pernikahan sebagai sesuatu yang dapat ditunda karena pertimbangan finansial, pekerjaan, dan perubahan nilai pribadi.

Dengan demikian, perubahan yang terjadi mungkin bukan hilangnya keinginan untuk menikah, melainkan perubahan standar mengenai kapan seseorang merasa siap untuk menikah. Bagi sebagian anak muda, pernikahan justru dianggap terlalu penting untuk dilakukan hanya karena tuntutan usia atau tekanan lingkungan.

Pernikahan dan Hubungan Kini Dipandang Lebih Personal

Gen Z tumbuh dalam lingkungan digital yang membuat pengalaman orang lain mudah terlihat. Mereka dapat menyaksikan berbagai cerita mengenai hubungan, pernikahan, perceraian, maupun kehidupan setelah menikah hanya melalui media sosial. Kondisi tersebut membuat gambaran mengenai pernikahan menjadi semakin beragam dan tidak lagi hanya berasal dari keluarga atau lingkungan terdekat.

Hal tersebut dapat membuat keputusan mengenai hubungan terasa semakin personal. Ada yang ingin mengejar pendidikan, membangun karier, memperbaiki kondisi ekonomi, atau menunggu sampai menemukan pasangan yang benar-benar dianggap sesuai. Ada pula yang memang belum menjadikan pernikahan sebagai prioritas. Karena itu, keputusan menikah tidak bisa hanya dilihat dari usia seseorang.

Ketika Pertanyaan “Kapan Menikah?” Mulai Berubah

Fenomena Marriage Is Scary dan living together menunjukkan satu perubahan yang lebih besar. hubungan romantis tidak lagi selalu dipandang sebagai jalan lurus dari pacaran menuju pernikahan. Bagi sebagian Gen Z, ada banyak pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu, seperti apakah hubungan tersebut sehat, apakah pasangan mampu menyelesaikan konflik, apakah kondisi finansial sudah cukup, dan apakah keduanya benar-benar siap berbagi tanggung jawab.

Pada akhirnya, menikah maupun menunda pernikahan sama-sama merupakan keputusan yang membawa konsekuensi. Yang berubah mungkin bukan nilai pernikahannya, melainkan cara generasi muda menentukan kapan mereka siap mengambil keputusan tersebut.

Di tengah semakin banyaknya pilihan dalam hubungan, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar “Kapan kamu menikah?”, tetapi “Sudah siapkah kamu menjalani kehidupan setelah memilih untuk bersama?”

Siti Hawa, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pamulang.