Konten dari Pengguna

Mengapa Perempuan Sulit Keluar dari Hubungan Toxic?

Sumber: Ilustrasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi Pribadi

Ada hubungan yang dari luar terlihat jelas tidak sehat. Pasangan sering merendahkan, mengontrol, membuat merasa bersalah, atau memberikan perhatian hanya setelah melakukan sesuatu yang menyakitkan. Orang-orang di sekitarnya mungkin sudah berkali-kali mengatakan, “Kenapa tidak pergi saja?”

Pertanyaan tersebut terdengar sederhana. Namun, bagi orang yang menjalaninya, meninggalkan hubungan yang toxic tidak selalu semudah mengakhiri sebuah hubungan biasa.

Tidak sedikit perempuan yang sebenarnya sudah menyadari bahwa hubungannya tidak baik, tetapi tetap merasa sulit untuk pergi. Bukan karena mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ada perasaan, kenangan, harapan, ketakutan, bahkan ketergantungan yang membuat keputusan untuk berpisah terasa jauh lebih berat.

Ketika Hubungan yang Menyakiti Tidak Selalu Terlihat Buruk

Hubungan yang tidak sehat tidak selalu dipenuhi pertengkaran setiap hari. Kadang, hubungan tersebut justru memiliki banyak momen yang menyenangkan.

Hari ini seseorang bisa merasa sangat disayangi, sementara beberapa hari kemudian ia dibuat merasa tidak berharga. Setelah pertengkaran, pasangan mungkin meminta maaf, kembali bersikap perhatian, lalu hubungan terasa baik-baik saja untuk sementara waktu.

Pola seperti ini dapat membuat seseorang terus berharap bahwa keadaan akan berubah. Ia mungkin berpikir bahwa pasangan sebenarnya baik dan hanya sedang emosi, sedang memiliki masalah, atau membutuhkan waktu untuk berubah.

Di sinilah seseorang bisa mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Apakah masalahnya memang sebesar itu? Apakah dirinya terlalu sensitif? Apakah semua pasangan memang mengalami hal yang sama?

Bukan Hanya Soal Masih Sayang

Salah satu alasan seseorang sulit meninggalkan hubungan yang tidak sehat adalah karena perasaan sayang tidak langsung hilang ketika seseorang menyadari adanya masalah.

Ada kenangan baik yang masih diingat. Ada rencana masa depan yang pernah dibuat bersama. Ada waktu, tenaga, dan emosi yang sudah diberikan selama hubungan berlangsung.

Semakin lama hubungan berjalan, seseorang juga bisa merasa bahwa meninggalkannya berarti menyia-nyiakan semua yang sudah dilalui.

Padahal, lamanya sebuah hubungan tidak selalu menjadi alasan seseorang harus terus bertahan. Hubungan yang sudah berlangsung lama tetap dapat berubah menjadi hubungan yang tidak sehat.

Harapan Bahwa Pasangan Akan Berubah

Harapan sering menjadi alasan lain seseorang bertahan.

Setelah pasangan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan, muncul keyakinan bahwa kali ini semuanya akan berbeda. Ketika pasangan kembali bersikap baik, harapan tersebut semakin kuat.

Masalahnya, perubahan tidak cukup dibuktikan melalui permintaan maaf. Perubahan membutuhkan perilaku yang konsisten.

Jika pola yang sama terus berulang menyakiti, meminta maaf, kembali baik, lalu menyakiti lagi, seseorang dapat terjebak dalam siklus yang membuatnya terus menunggu versi pasangan yang diharapkan.

Takut Memulai Hidup Tanpa Pasangan

Meninggalkan hubungan juga berarti menghadapi kehidupan setelahnya.

Ada yang takut merasa sendirian. Ada yang khawatir tidak akan menemukan pasangan lain. Ada pula yang sudah terlalu terbiasa menceritakan segala sesuatu kepada pasangannya sehingga membayangkan hidup tanpa orang tersebut terasa asing.

Bagi sebagian orang, ketakutan tersebut dapat menjadi lebih besar ketika hubungan sudah melibatkan ketergantungan finansial, lingkungan sosial, tempat tinggal, atau bentuk kontrol lainnya.

Karena itu, mengatakan “tinggalkan saja” tanpa memahami keadaan seseorang terkadang justru membuatnya merasa semakin sendirian.

Ketika Rasa Bersalah Ikut Menahan

Dalam hubungan yang tidak sehat, seseorang juga dapat terbiasa merasa bertanggung jawab atas emosi pasangannya.

Ketika mencoba mengambil jarak, muncul rasa bersalah. Ketika pasangan marah, ia merasa dirinya penyebabnya. Ketika ingin pergi, ia kembali memikirkan bagaimana perasaan pasangan.

Lama-kelamaan, kebutuhan diri sendiri bisa berada di urutan terakhir.

Padahal, menjaga perasaan pasangan bukan berarti seseorang harus terus menerima perlakuan yang membuat dirinya terluka.

Keluar Tidak Harus Selalu Terjadi dalam Satu Hari

Meninggalkan hubungan yang tidak sehat memang membutuhkan keberanian, tetapi keberanian tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk keputusan besar yang dilakukan secara tiba-tiba.

Bagi seseorang yang sedang berada dalam situasi sulit, langkah pertama mungkin hanya berupa mengakui bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Setelah itu, ia bisa mulai berbicara dengan orang yang dipercaya, membangun kembali hubungan dengan keluarga atau teman, dan memikirkan batasan yang ingin dimiliki dalam hubungan.

Jika terdapat ancaman, kekerasan, kontrol ekstrem, atau kondisi yang membuat seseorang merasa tidak aman, mencari bantuan dari orang terpercaya dan layanan profesional menjadi hal yang penting. Keselamatan perlu menjadi pertimbangan utama.

Pergi Bukan Berarti Gagal Mempertahankan Hubungan

Ada anggapan bahwa hubungan yang berakhir berarti seseorang gagal mempertahankannya. Padahal, mempertahankan hubungan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah hubungan.

Hubungan seharusnya memberikan ruang bagi kedua orang untuk merasa aman, dihargai, dan memiliki kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.

Karena itu, perempuan yang membutuhkan waktu untuk meninggalkan hubungan yang menyakitinya tidak seharusnya langsung dianggap lemah. Ada proses emosional yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Yang penting adalah mulai menyadari bahwa rasa sayang kepada seseorang tidak harus membuat seseorang mengabaikan dirinya sendiri.

Pada Akhirnya, Tidak Semua yang Dipertahankan Harus Dipertahankan Selamanya

Keluar dari hubungan toxic bukan sekadar persoalan memiliki keberanian untuk mengatakan selesai. Ada perasaan, kebiasaan, harapan, dan ketakutan yang perlu dihadapi.

Mungkin karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya, “Kenapa dia tidak pergi?”

Tetapi, “Apa yang membuat dia merasa sulit untuk pergi, dan dukungan apa yang bisa membantunya?”

Sebab terkadang, seseorang tidak membutuhkan orang lain untuk menghakimi keputusannya. Ia membutuhkan ruang yang aman untuk menyadari bahwa dirinya juga berhak mendapatkan hubungan yang sehat.

Siti Hawa, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pamulang