Kita Terlalu Sibuk Menjadi Dewasa sampai Lupa Ibu Juga Semakin Tua

mahasiswa ilmu hukum di universitas pamulang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari siti kamila sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dulu, ketika masih kecil, rasanya ibu selalu punya waktu untuk kita. Ia ada ketika kita pulang sekolah, menyiapkan makanan, mengingatkan untuk belajar, bahkan menunggu sampai kita benar-benar tidur. Waktu itu, semua terasa biasa saja. Kita menganggap kehadiran ibu sebagai sesuatu yang akan selalu ada, seolah-olah hari esok pasti akan sama seperti hari ini.

Namun, semakin bertambah usia, perlahan kita mulai menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar berhenti untuk siapa pun, termasuk ibu. Kita tumbuh menjadi orang dewasa yang memiliki kesibukan sendiri. Ada kuliah yang harus diselesaikan, pekerjaan yang ingin didapatkan, impian yang ingin diwujudkan, serta kehidupan yang perlahan membawa kita ke arah masing-masing. Kita mulai jarang duduk lama bersama ibu, jarang bercerita tentang hal-hal kecil, dan terkadang hanya menghubunginya ketika ada sesuatu yang perlu disampaikan. Bukan karena kita tidak menyayanginya, tetapi karena kita sering merasa masih memiliki banyak waktu. Padahal, mungkin tanpa kita sadari, waktu yang kita anggap masih panjang itu terus berjalan. Dulu Kita yang Selalu Membutuhkan Ibu. Ketika masih kecil, hampir semua hal terasa lebih mudah karena ada ibu. Ketika sakit, kita mencarinya. Ketika takut, kita ingin berada di dekatnya. Ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, ibu sering menjadi orang pertama yang ingin kita beri tahu. Ibu menjadi tempat pulang, bahkan sebelum kita benar-benar memahami arti sebuah rumah.
Namun, ketika mulai dewasa, hubungan itu perlahan berubah. Kita belajar menyelesaikan masalah sendiri, mengambil keputusan, dan menghadapi kehidupan yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Kita mulai merasa mampu berdiri tanpa harus selalu meminta bantuan ibu. Sebenarnya, itu adalah bagian yang wajar dari pertumbuhan. Seorang anak memang perlu belajar mandiri dan membangun kehidupannya sendiri. Tetapi, di tengah proses tersebut, ada satu hal yang sebaiknya tidak ikut berubah: cara kita menghargai kehadiran ibu.
Kita mungkin sudah tidak lagi membutuhkan ibu untuk menyiapkan segala sesuatu seperti ketika masih kecil. Namun, bukan berarti ibu tidak lagi membutuhkan perhatian dari kita. Barangkali sekarang ibu hanya ingin mendengar cerita tentang hari kita. Barangkali ia ingin tahu apakah kita sudah makan, bagaimana kuliah kita, atau apakah pekerjaan yang sedang kita jalani berjalan dengan baik. Pertanyaan-pertanyaan yang terkadang kita anggap berulang itu bisa jadi merupakan caranya untuk tetap merasa dekat dengan anaknya. Dan ketika kita mulai memahami hal tersebut, kita akan menyadari bahwa kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Terkadang, ia bersembunyi di balik pertanyaan sederhana yang sudah kita dengar ratusan kali.
Ibu Juga Manusia yang Bisa Lelah
Ada masa ketika kita menganggap ibu sebagai seseorang yang selalu kuat. Seolah-olah ia tidak boleh lelah, tidak boleh sedih, dan selalu bisa menemukan jalan keluar untuk setiap persoalan keluarga. Ketika masih kecil, kita mungkin tidak terlalu memikirkan bagaimana ibu menjalani hari-harinya. Kita hanya melihat makanan yang tersedia, pakaian yang bersih, rumah yang diurus, dan kebutuhan yang sebisa mungkin dipenuhi. Setelah dewasa, barulah kita mulai memahami bahwa semua itu membutuhkan tenaga, waktu, pikiran, dan pengorbanan. Ibu juga bisa merasa lelah. Ia juga bisa memiliki kekhawatiran yang tidak diceritakan kepada siapa pun. Ia juga memiliki keinginan pribadi, hal-hal yang ingin dicapai, serta hari-hari ketika ia mungkin hanya ingin beristirahat tanpa memikirkan banyak hal. Kesadaran ini membuat kita melihat ibu dengan cara yang berbeda. Ia bukan sekadar sosok yang bertugas menjaga dan membesarkan anak-anaknya, melainkan manusia yang juga sedang menjalani kehidupannya sendiri.
Karena itu, semakin dewasa kita seharusnya semakin belajar memahami ibu. Bukan hanya mengingat semua yang pernah ia lakukan untuk kita, tetapi juga menyadari bahwa ia berhak mendapatkan perhatian, penghargaan, dan waktu yang berkualitas. Kita tidak harus menunggu menjadi orang sukses untuk membahagiakannya. Tidak harus menunggu memiliki banyak uang untuk menunjukkan rasa sayang. Terkadang, meneleponnya lebih dahulu, mendengarkan ceritanya tanpa terburu-buru, atau menemaninya melakukan hal sederhana sudah menjadi bentuk perhatian yang berarti.
Jangan Menunggu Sampai Semuanya Terlambat. Sebagai anak, kita tentu memiliki keinginan untuk membahagiakan ibu. Kita ingin suatu hari nanti bisa memberikan kehidupan yang lebih baik, membelikan sesuatu yang ia inginkan, mengajaknya pergi ke tempat yang belum pernah ia kunjungi, atau membuatnya bangga atas pencapaian kita. Keinginan itu baik. Memiliki cita-cita untuk membalas kebaikan orang tua bisa menjadi salah satu alasan kita terus berusaha. Namun, terkadang kita terlalu fokus pada rencana besar di masa depan sampai lupa bahwa ibu juga hadir dalam kehidupan kita hari ini. Kita berkata akan mengajak ibu jalan-jalan setelah punya pekerjaan tetap. Kita berjanji akan menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya setelah kuliah selesai. Kita berpikir akan membahagiakannya ketika keadaan sudah lebih baik.
Padahal, tidak semua bentuk kasih sayang harus menunggu keadaan menjadi sempurna. Kita bisa mulai dari sekarang, dengan waktu yang kita punya dan kemampuan yang kita miliki. Jika belum mampu memberikan banyak hal, kita masih bisa memberikan perhatian. Jika belum bisa memenuhi semua keinginannya, kita masih bisa mendengarkan ceritanya. Jika sedang sibuk, kita masih bisa menyempatkan diri untuk bertanya bagaimana harinya. Sebab, pada akhirnya, membahagiakan ibu bukan hanya tentang apa yang mampu kita berikan, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir dalam kehidupannya. Kita tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak kesempatan yang masih kita miliki untuk duduk bersama ibu, mendengar suaranya, atau sekadar menikmati waktu tanpa harus terburu-buru pergi ke mana-mana. Kesadaran itu bukan untuk membuat kita terus merasa takut kehilangan, melainkan untuk mengingatkan kita agar tidak menganggap remeh waktu yang masih tersedia.
Menjadi Dewasa, Tanpa Lupa Pulang. Semakin dewasa, kita memang akan semakin sibuk dengan kehidupan sendiri. Akan ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, impian yang perlu diperjuangkan, dan perjalanan yang harus kita tempuh tanpa selalu berada di dekat keluarga.
Itu bukan sesuatu yang salah. Ibu pun mungkin ingin melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berani mengambil keputusan, dan mampu menjalani kehidupannya sendiri. Namun, menjadi dewasa seharusnya juga membuat kita semakin memahami arti kehadiran orang-orang yang menyayangi kita sejak awal. Kita boleh mengejar cita-cita setinggi mungkin. Kita boleh pergi jauh untuk belajar, bekerja, dan membangun masa depan. Tetapi, jangan sampai kesibukan membuat kita lupa memberikan kabar, lupa menanyakan keadaan ibu, atau lupa bahwa ada seseorang yang mungkin masih menunggu cerita sederhana dari anaknya.
Suatu hari nanti, kita mungkin akan merindukan hal-hal yang sekarang terasa biasa: suara ibu dari dapur, pertanyaannya tentang apakah kita sudah makan, atau tegurannya ketika kita pulang terlalu malam. Dan ketika hari itu tiba, mungkin yang paling kita inginkan bukanlah kesempatan untuk memberikan sesuatu yang mahal, melainkan kesempatan untuk mengulang satu hari sederhana bersamanya. Karena itu, selagi masih ada waktu, mari belajar lebih sering hadir untuk ibu. Bukan hanya pada hari ulang tahunnya, bukan hanya ketika Hari Ibu tiba, dan bukan hanya ketika kita sedang membutuhkan pertolongannya. Tanyakan kabarnya. Dengarkan ceritanya. Ucapkan terima kasih untuk hal-hal kecil yang selama ini mungkin kita anggap biasa. Peluklah ia jika memungkinkan, dan jangan merasa malu untuk mengatakan bahwa kita menyayanginya. Kita memang sedang tumbuh dewasa, tetapi ibu juga sedang menjalani fase hidupnya sendiri. Ketika kita melangkah semakin jauh menuju masa depan, usia ibu terus berjalan. Mungkin kita tidak bisa menghentikan waktu. Kita juga tidak bisa membalas seluruh pengorbanannya dengan sempurna. Namun, kita masih bisa memilih untuk tidak menyia-nyiakan kebersamaan yang kita miliki hari ini. Sebab, pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga tentang apakah kita masih ingat orang-orang yang menemani langkah pertama kita.
Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun masa depan sampai lupa menghargai seseorang yang telah menjadi bagian terbesar dari masa lalu dan kehidupan kita hari ini: ibu.
