Pertentangan Adat dan Cinta: Novel Dian Yang Tak Kunjung Padam

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Siti Kholila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sinopsis
Novel Dian Yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana (1932) mengisahkan perjalanan cinta antara Yasin dengan Molek yang terhalang tembok kelas sosial serta adat istiadat yang berlaku pada masa 1930-an di Palembang, Sumatera Selatan. Yasin seorang pemuda uluan memiliki budi pekerti yang baik, hal itu yang membuat dirinya spesial dari pemuda lainnya. Yasin tidak mudah terpikat dengan gadis-gadis yang dilihatnya, sampai-sampai belum pernah ada yang dapat memikat hatinya namun, Molek berhasil mencuri perhatian serta cinta Yasin. Pemuda itu sangat mencintai gadis bangsawan yang merupakan anak Raden Mahmud, seorang saudagar kaya raya di Palembang. Begitupun Molek yang terpikat dan cinta kepada Yasin sejak sepasang mata keduanya bertemu.
Karena adat dan agama yang kuno dan keras di Palembang saat itu, membuat Yasin dan Molek harus bersusah payah menyatukan cinta mereka. Bertukar surat dengan sembunyi-sembunyi adalah cara mereka berkomunikasi, di dalamnya berisi curahan keluh kesah yang mereka rasakan. Pergolakan cinta semakin membara hingga setahun kemudian sejak mereka berhubungan terjadilah suatu kondisi dimana orang tua Molek harus berangkat haji sehingga Raden Mahmud dan Cek Sitti mencarikan anaknya calon suami untuk menemaninya di rumah ketika mereka pergi Haji. Mendengar kabar tersebut, tergeraklah niat Yasin melamar Molek dengan membawa Ibu dan kerabatnya secara terang-terangan ke rumah Raden Mahmud. Sayangnya perbedaan adat dan kelas sosial menjadi alasan orang tua Molek untuk menolak pinangan dari Yasin, karena menerima lamaran dari orang uluan adalah aib bagi adat mereka. Sejak itu Molek dengan orang tuanya memiliki hubungan yang tidak baik, Molek pun sakit-sakitan, bentuk tubuh yang indah dahulu telah layu dan kurus, sehingga orang yang melihatnya pun bisa tidak mengenalinya.
Suatu hari Molek dilamar oleh seorang saudagar kaya keturunan Arab ternama di Palembang bernama Sayid Mustafa dengan niat busuk ingin menguasai semua harta orang tua Molek. Dipinanglah Molek melalui kedua orang tuanya dan disetujuinya pinangan dari saudagar Arab itu tanpa sepengetahuan anaknya. Sangat terluka hati dan batin Molek, ia sangat mencintai Yasin dan cinta itu akan selalu tertanam sampai akhir penghidupannya. Setelah kejadian tersebut keduanya berusaha menghalalkan berbagai cara agar cinta mereka dapat bersatu. Sayangnya usaha mereka gagal hingga akhirnya Molek resmi menjadi istri Sayid Mustafa. Tinggalah Molek dengan suaminya di rumah besar itu yang membuatnya sangat tidak betah.
Cinta suci keduanya tetap membara di hati Molek dan Yasin namun, Molek memilih untuk mengakhiri hidupnya dibanding harus hidup dengan seseorang yang tidak dicintai dan dia benci. Betapa hancurnya Yasin ketika mengetahui Molek telah mengakhiri hidupnya, ia sangat terpukul bahwa belahan jiwanya telah tiada. Yasin menghantarkan jasad Molek dengan perasaan hancur dan berusaha ikhlas menerima kenyataan. Tak lama, sang Ibu pun turut pulang ke pangkuan Sang Pencipta. Remuk sekali hati Yasin mendapatkan musibah bahwa kedua orang yang dicintainya pergi dengan waktu yang bersamaan. Akhirnya, Yasin memutuskan untuk membujang seumur hidup. Sampai kapan pun cintanya tidak akan tergantikan, hanya Molek yang layak menduduki hati Yasin sampai akhir hayat kelak.
Pertentangan Budaya dan Cinta
Novel Dian Yang Tak Kunjung Padam di dalamnya terdapat pertentangan antara adat dan hubungan percintaan yang dialami oleh tokoh Yasin dan Molek, dijelaskan sebagai berikut:
Molek seorang gadis keturunan bangsawan asal kota Palembang memiliki adat lingkungan yang cukup ketat, dimana seorang perempuan dilarang memperlihatkan dirinya keluar rumah, kecuali dalam keadaan terdesak seperti hendak pergi ziarah kubur, atau mengunjungi sanak saudara. Ketika mereka keluar dari rumahnya, maka gadis itupun seolah-olah terbungkus dengan berbagai macam kain yang indah-indah sampai ke kepalanya. Hanya kaki dan ujung tangannya yang kelihatan.
Molek mendapat petuah dari sang Ibu, bahwa tidak diperbolehkan seorang gadis berpandang-pandangan dengan laki-laki, sebab dilarang menurut adat dan agamanya. Tetapi ketika itu juga terpikir olehnya, bahwa ia berbuat demikian itu tidak dengan sengaja, ketika ia hendak memandang ke bawah, ke air sungai Musi secara kebetulan terlihat olehnya seorang laki-laki. Maka ia merasa bahwa perbuatannya tidak berdosa.
Orang Palembang saat itu, terutama bagi kaum bangsawan terbilang benci kepada orang yang datang dari Uluan. Maka dari itu, Yasin sudah mengetahui bahwa harapannya akan sia-sia, sebab terdapat jurang yang menceraikan dia dengan perawan bangsawan itu. Namun, menurutnya cinta adalah kekuatan yang Mahakuasa, tidak dapat dimusnahkan apalagi ditahan maka, cinta itu akan terus menurut jalannya.
Ketika ada sebuah acara pernikahan di dusun gadis dan bujang menari dengan berhadap-hadapan menuruti iringan musik. Dalam keramaian besar itu tidak ada yang berlebih-lebihan, seakan-akan telah diukur menurut ukuran yang sempurna. Tidak ada yang menyinggung perasaan kesopanan, tidak ada yang melanggar ketertiban adat baik yang muda maupun yang tua.
Ketika di dusun setiap saat anak bujang dapat pergi ke rumah seorang gadis untuk bercakap-cakap. Hal itu sangat mudah dilakukan dan tidak seorang pun akan menegur atau menengahi keduanya asalkan tau batasan. Tetapi di Palembang sangat berbeda, kalau anak bujang kelihatan memandangi seorang anak gadis apalagi bercakap dengan seorang gadis, maka anak bujang itu sekurang-kurangnya akan mendapat caci-maki dan bisa saja anak bujang itu di tikam orang yang melihatnya.
Analisis Unsur Intrinsik
Tema
Perjalanan cinta yang tak kunjung padam meski rintangan terus menerjang Yasin dan Molek. Adat, keturunan, dan kekayaan bukan halangan bagi mereka, sebab cinta adalah ilham pemberian Allah yang seumur hidup akan terus dilawan, meskipun di dunia yang fana ini cintanya tak sampai, tetapi cinta itu akan terus bernyala-nyala, sebab dibalik dunia yang terbatas ini terbentang akhirat yang kekal dan tiada terhingga.
Tokoh
Molek: Gadis cantik yang memiliki perangai sangat baik, berpegang teguh pada suatu janji, rendah hati, ceria, bertekad kuat, penyayang, tulus, penyabar, setia, taat beribadah, dan tertanam bibit belas-kasihan sejak kecil kepada sesama makhluk di dalam hatinya.
Yasin: Pemuda tampan, gagah, pemberani, penyabar, bertekad kuat, pekerja keras, ikhlas, pemaaf, taat beribadah, sayang kepada orang tua, tidak mudah terpikat hati dengan anak gadis, baik pula perangainya, dan tulus serta setia kepada pasangan yang dicintainya.
Raden Mahmud: Saudagar kaya raya yang angkuh, sombong, haus pujian, pemarah, taat beribadah, dan keras perangainya.
Cek Sitti: Istri Raden Mahmud yang lemah lembut namun, keras perangainya jika ada yang tidak sesuai dengan kehendaknya, sombong, angkuh, pemarah, tetapi juga taat beribadah.
Ibu Yasin: Ibu yang penyayang, perhatian dengan perasaan orang lain, berempati, bijaksana, tegas, bertekad kuat, rendah hati, ikhlas, taat beribadah, dan penyabar, bertanggung jawab.
Sayid Mustafa: Suami yang jahat, tamak, hasud, kikir, dan tidak bertanggung jawab atas kewajibannya sebagai suami.
Kak Muluk: Saudara yang memahami perasaan orang lain, baik hati, rendah hati, lembut, dan peduli.
Pesirah Talib: Paman yang rendah hati dan peduli, tidak pernah memamerkan harta kekayaannya namun, ketika ada sesuatu yang berada di luar nalarnya dia akan merasa kesal.
Latar
Tempat: Palembang, Sungai Musi, Dusun Gunung Megang, Kebun Para tepi Sungai, Penanggiran, Pasar Enam Belas Ilir, Sungai Sekanak, Pelabuhan, Lematang, Stasiun Kereta Api, Rumah Poyang Yasin, Rumah Raden Mahmud, Perahu, Dusun Muara Enim, Balai, Kamar Molek, Jendela Dapur, Kapal, Kamar Mandi, Rumah Pesirah Talib, Kuburan, Lereng Gunung Seminung, Pondok.
Waktu: Pagi, siang, malam, tiga bulan lalu, esok hari, pukul lima, petang, empat bulan lalu, sembilan hari lagi, lima hari lima malam, lusa, hampir senja, tengah malam, dua bulan lagi, sembilan tahun, semalaman, matahari terbenam.
Suasana: Bulan memancar amat terang, kusut pikirannya, kesunyian malam, sekelilingnya sibuk, tergesa-gesa, amat heran memikirkan apa yang terjadi, jantungnya berdebar-debar, terkejut, orang-orang sibuk memperebutkan layangan, perasaan aman sentosa, rindu berahi, tercengang-cengang, lenyaplah lemas mereka, tenang, merdu, amat bahagia, bimbang, reda gelora cinta, sedih, hancur hatinya, hampa.
Alur
Novel Dian Yang Tak Kunjung Padam memiliki alur maju, sebab cerita disajikan secara runut mengikuti perkembangan waktu kedepan. Menceritakan awal mula cinta suci Molek dan Yasin tumbuh kemudian keduanya memiliki ikatan janji suci percintaan, sampai kepada akhir cerita yang bernuansa kesedihan yang terjadi kepada kedua tokoh.
Sudut Pandang
Novel Dian Yang Tak Kunjung Padam memiliki sudut pandang orang ketiga serba tahu, sebab pengarang seakan-akan mengetahui segala hal terkait pengalaman tokoh, tindakan, peristiwa, serta segala hal yang berkaitan dengan tokoh utama yaitu Yasin dan Molek.
Gaya Bahasa
Bahasa melayu digunakan dalam menyajikan alur cerita novel Dian Yang Tak Kunjung Padam sehingga butuh pemahaman dan pemaknaan kata yang cukup dalam untuk mengartikan beberapa katanya. Gaya bahasa/majas disebutkan sebagai berikut:
Personifikasi
"Lampu di rumah dan di perahu terbayang, gelisah seperti ular melata di tempat yang licin."
"Jauh sedikit berbaris-baris awan yang kemerah-merahan."
" Pohon dan rumah telah diselubungi oleh senja, sudah kabur dan tak tentu lagi rupanya."
Metafora
"Batinnya yang kacau-bilau itu laksana hutan sesudah topan yang dahsyat."
"Laksana sekejap itu menggulung ombak dendam berahi datang kepadanya."
"Melihat Ibunya marah laksana ular berbelit-belit itu."
Hiperbola
"Diantara dia dengan bujang yang dicintainya itu adalah terbentang suatu jurang yang dalam, yang tak mungkin dapat ditimbun."
"Darahnya seakan-akan naik ke lehernya, sehingga terang terasa berdenyut-denyut urat nadi pada kerongkongannya."
" Seakan-akan matanya tertarik oleh besi berani yang tiada terkira-kira kuatnya."
Simile
"Bunyi kaki yang halus dan ringan turun di tangga. Seperti rusa yang liar melihat pemburu."
"Mata gadis berbangsa itu yang hitam gemerlapan laksana permata yang mulia."
"Tiap-tiap usahanya, tiap-tiap geraknya, bahkan tiap-tiap tutur katanya seakan-akan terbayang sifat rimba yang sunyi-senyap itu."
Retorika
"Ia memandang ke bawah, ke air, seperti senantiasa dan kalau kebetulan terlihat olehnya seorang lai-laki, salahnyakah itu? Tidak! ia tak hendak memikul dosa yang serupa itu."
"Habis bulan ini umurnya tujuh belas tahun dan siapa pulakah akan jadi jodohnya nanti?"
"Siapakah anak muda itu gerangan? Mengapakah tak putus-putus ia memandang kepadanya?"
Amanat
Tersurat
Tak boleh berpandang-pandangan dengan laki-laki, sebab terlarang menurut adat dan agama.
Tak ada yang menyinggung perasaan kseopanan, tak ada yang melanggar ketertiban adat baik muda maupun tua.
Ibu seolah-olah memiliki tali batin yang halus, yang menghubungkan dirinya dengan anaknya, sehingga tiap-tiap saat ia tahu, terasa kepadanya apa yang terjadi dan berubah pada anaknya.
Baiklah ia awas-awas dahulu, sebab hati seorang perempuan adalah seperti karangan bunga yang amat rapuh. Tersinggung sedikit sajapun karangan itu boleh retak, rusak binasa selama-lamanya.
Manusia memelihara anaknya ialah karena berharapkan kesenangan daripadanya, dan anaknya yang seorang itu usahakan membalas guna.
Karena ia tiada dapat kemujuran dunia disebabkan oleh perbuatan manusia, maka tercurahlah kepadanya nikmat akhirat yang kekal dan tiada batas yang hanya teruntuk bagi orang yang dapat melepaskan dirinya dari segala ikatan dan kongkongan dunia.
Cinta yang suci seperti cinta kali ini, ialah pemberian Allah tiada dapat dirusak oleh perbuatan manusia. Kebangsawanan adalah perbuatan manusia belaka, manusia angkuh dan sombong.
Dengan segala tenaga diusahakannya, supaya Ibunya selamat dan sentosa hidupnya.
Tersirat
Keturunan bangsawan dan berharta bukanlah apa-apa jika tidak dibarengi oleh sifat tawadhu dan rendah hati.
Tidaklah baik memaksa kehendak orang lain dengan kehendak diri sendiri yang belum tentu baik bagi diri orang lain.
Sejahat apapun yang orang tuamu lakukan mereka hanya mengharapkan yang terbaik untuk masa depan anaknya.
Sebejat apapun orang tuamu sayangilah mereka dan hormati mereka.
Cinta yang tulus tak ternilai oleh apapun.
Keteguhan janji amatlah mahal jika tertanam di dalam diri manusia.
Dilarang oleh agama jika laki-laki dan perempuan berpandang-pandangan apalagi berjumpa dan bersentuhan fisik jika keduanya belum memiliki ikatan yang halal.
Kasih orang tua tiada batas kepada anaknya, dan anak haruslah berbakti kepada keduanya.
Daftar Pustaka
Takdir Alisjahbana, Sutan. (1932). Dian Yang Tak Kunjung Padam. Jakarta: PT Dian Rakyat.
