Konten dari Pengguna

Malem Songo: Harmoni Cinta dan Tradisi di Penghujung Ramadhan Bojonegoro

Siti lina Lutfiana
Mahasiswa hukum UIN sunan Ampel Surabaya
31 Maret 2025 9:07 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Siti lina Lutfiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
hasil jepretan sendiri: prosesi foto bersama keluarga saat menghadiri pernikahan di kabupaten Bojonegoro
zoom-in-whitePerbesar
hasil jepretan sendiri: prosesi foto bersama keluarga saat menghadiri pernikahan di kabupaten Bojonegoro
ADVERTISEMENT
Malem Songo, atau dikenal sebagai "Malam Kesembilan" dalam bahasa Jawa, merupakan tradisi yang kaya akan nilai religius dan budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Bojonegoro sejak dahulu kala. Malam yang berlangsung pada akhir bulan suci Ramadan ini diyakini sebagai waktu penuh rahmat, ketika doa-doa dikabulkan dan berkah tercurah. Tradisi ini bukan sekadar perayaan penutup Ramadan, tetapi juga menjadi momen sakral bagi pasangan yang ingin mengikat janji suci dalam suasana yang penuh kesyahduan dan keberkahan.
ADVERTISEMENT
Bagi masyarakat Bojonegoro, Malem Songo mencerminkan keselarasan antara ajaran Islam dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Pernikahan yang dilaksanakan pada malam ini dipercaya membawa keberkahan yang berlimpah, tidak hanya bagi pasangan pengantin tetapi juga bagi keluarga besar. Tradisi ini menjadi wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus mempererat ikatan keluarga dalam suasana yang penuh doa dan kekhidmatan.
Selain aspek religius, Malem Songo juga mengandung makna budaya yang mendalam. Dalam tradisi Jawa, angka sembilan dianggap sakral dan melambangkan kesempurnaan serta keseimbangan hidup. Oleh karena itu, menikah pada Malem Songo diyakini dapat membawa kehidupan rumah tangga yang harmonis, penuh cinta, dan berkah yang tiada tara. Keyakinan ini semakin memperkukuh posisi Malem Songo sebagai bagian dari warisan budaya yang bernilai tinggi dan perlu dijaga kelestariannya.
ADVERTISEMENT
Makna Religius dan Budaya Malem Songo di Bojonegoro
Malem Songo di Bojonegoro mencerminkan perpaduan harmonis antara ajaran Islam dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Menyelenggarakan pernikahan pada malam ini diyakini membawa keberkahan yang melimpah, tidak hanya bagi pasangan pengantin, tetapi juga untuk keluarga besar. Tradisi ini menjadi wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus mempererat ikatan kekeluargaan dalam suasana yang penuh doa dan kesakralan.
Lebih dari sekadar momen sakral, Malem Songo merepresentasikan kolaborasi nilai-nilai religius dan budaya yang saling menguatkan. Dalam tradisi Jawa, angka sembilan memiliki makna sakral yang melambangkan kesempurnaan dan keseimbangan hidup. Oleh karena itu, menikah pada Malem Songo di Bojonegoro diyakini akan mengantarkan pasangan pada kehidupan rumah tangga yang harmonis, penuh cinta, dan berlimpah berkah.
ADVERTISEMENT
Sebagai salah satu daerah di Jawa Timur yang kaya budaya, Bojonegoro mempertahankan pelaksanaan tradisi ini dengan penuh kehormatan. Bagi masyarakat setempat, Malem Songo bukan sekadar waktu yang dipilih sembarangan, melainkan malam yang dianggap penuh kekuatan spiritual dan keberkahan. Pasangan yang menikah pada malam ini diyakini akan menikmati kehidupan rumah tangga yang bahagia, damai, dan terlindungi dari marabahaya. Oleh karena itulah, banyak pasangan di Bojonegoro secara khusus menanti momen Malem Songo untuk melangsungkan pernikahan.
Prosesi Pernikahan Malem Songo di Bojonegoro
Pernikahan pada Malem Songo di Bojonegoro diawali dengan prosesi adat yang sarat nuansa Jawa. Rangkaian upacara dimulai dengan pembacaan doa-doa khusus dan kultum yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. kultum ini bertujuan untuk memohon keberkahan serta perlindungan agar rumah tangga yang dibangun senantiasa berada dalam lindungan Allah Swt. Kegiatan ini mencerminkan kuatnya nilai-nilai religius dalam setiap tahapan prosesi.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya, ritual adat seperti siraman, midodareni, dan ijab kabul dilaksanakan dalam suasana penuh kesakralan. Siraman dilakukan sebagai simbol penyucian diri calon pengantin dari segala hal buruk, baik lahir maupun batin. Air siraman biasanya berasal dari tujuh sumber mata air yang dianggap suci, dan prosesi ini diiringi doa-doa yang dipanjatkan oleh keluarga dan kerabat terdekat. Setelah siraman, calon pengantin dipakaikan busana adat khas Jawa yang anggun dan elegan sebagai tanda kesiapan menjalani kehidupan baru.
Midodareni, yang dilaksanakan pada malam sebelum akad nikah, merupakan momen sakral penuh doa dan pengharapan. Calon pengantin wanita diperlakukan layaknya bidadari yang turun dari kayangan. Keluarga besar berkumpul untuk memanjatkan doa agar rumah tangga yang terbentuk menjadi harmonis dan bahagia. Dalam tradisi ini, calon pengantin wanita tidak diperbolehkan keluar kamar, melambangkan kesucian dan kehormatan yang dijaga hingga malam pengantin. Pengantaran seserahan berupa pakaian, perhiasan, dan kebutuhan pribadi lainnya juga dilakukan sebagai simbol tanggung jawab calon suami terhadap istri.
ADVERTISEMENT
Setelah prosesi adat selesai, acara berlanjut ke akad nikah yang menjadi puncak kegiatan. Dalam suasana yang penuh khidmat, kedua mempelai mengucapkan janji suci di hadapan keluarga besar dan tamu undangan. Pembacaan doa serta nasihat pernikahan mengiringi prosesi ini, memperkuat makna religius dalam setiap langkahnya. Mempelai pria mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan penuh keyakinan, dilanjutkan dengan penyerahan mahar sebagai tanda kesungguhan dalam membina rumah tangga.
Acara ditutup dengan syukuran dan kenduri sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. atas limpahan berkah pada malam istimewa ini. Hidangan khas Jawa disajikan sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan. Para tamu menikmati sajian dalam suasana penuh kebahagiaan, diiringi lantunan doa-doa untuk kebaikan pasangan pengantin. Kenduri juga menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi antara keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar. Kenduri dalam tradisi Malem Songo juga berfungsi sebagai wujud terima kasih kepada Sang Pencipta serta doa agar rumah tangga yang dibangun menjadi sakinah, mawaddah, dan rahmah.
ADVERTISEMENT
Eksistensi Pernikahan Malem Songo Hingga Saat Ini di Bojonegoro
Tradisi Malem Songo di Bojonegoro terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Keyakinan masyarakat akan keberkahan malam ke-29 Ramadan menjadikan tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi bagian integral dari identitas budaya masyarakat Bojonegoro. Meskipun zaman berubah, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pernikahan Malem Songo tetap relevan sebagai pengingat pentingnya menjaga warisan adat dan budaya lokal.
Masyarakat Bojonegoro secara aktif mengenalkan tradisi Malem Songo kepada generasi muda agar nilai-nilai agama, budaya, dan kearifan lokal tetap terjaga. Hal ini dilakukan melalui kegiatan lokal seperti pengajian, acara adat, dan pendidikan budaya di sekolah-sekolah. Dengan cara ini, makna religius dan budaya Malem Songo tetap hidup dalam dinamika kehidupan modern.
ADVERTISEMENT
Menurut data yang dikumpulkan pada Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Bojonegoro per tanggal 18 Maret 2025, tercatat sebanyak 487 pasangan calon pengantin akan melangsungkan akad nikah pada Malem Songo tahun ini. Angka ini menunjukkan antusiasme masyarakat dalam menjaga dan melestarikan tradisi Malem Songo, sekaligus menjadi bukti bahwa nilai-nilai religius dan budaya lokal masih dihormati di tengah arus modernisasi. Setiap tahun, jumlah pasangan yang memilih Malem Songo sebagai waktu pernikahan cenderung stabil bahkan meningkat, memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh tradisi ini dalam kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Peran tokoh agama, budayawan, dan pemerintah daerah dalam mengedukasi generasi muda serta mengadakan kegiatan kebudayaan turut menjaga eksistensi tradisi ini. Pendidikan budaya lokal di sekolah-sekolah serta acara-acara adat juga menjadi media efektif untuk meneruskan nilai-nilai luhur Malem Songo kepada generasi penerus. Kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya juga tercermin dalam berbagai kegiatan komunitas yang terus mempromosikan tradisi ini sebagai aset budaya yang patut dijaga.
ADVERTISEMENT
Kasi Bimas Islam Kemenag Bojonegoro, H. Moh. Zainal Arifin, menjelaskan bahwa pernikahan pada Malem Songo bukan sekadar kebetulan, melainkan telah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. "Dalam keyakinan masyarakat, menikah pada malam ke-29 Ramadan dipercaya membawa berkah. Banyak yang meyakini bahwa pernikahan yang dilangsungkan pada bulan suci ini akan memperoleh rida Allah dan menciptakan kehidupan rumah tangga yang sakinah," ujarnya.
Selain alasan religius, Malem Songo juga populer karena bertepatan dengan momen menjelang Idulfitri. Banyak pasangan menganggap waktu ini tepat untuk menikah karena keluarga besar berkumpul, memungkinkan perayaan pernikahan berlangsung lebih meriah dan efisien. Kebiasaan ini tidak hanya memperkuat ikatan keluarga tetapi juga mengeratkan tali silaturahmi dalam komunitas Bojonegoro.
Dengan upaya pelestarian yang konsisten, tradisi Malem Songo di Bojonegoro diyakini akan terus berkembang dan bertahan dalam menghadapi perubahan zaman. Kolaborasi antara pemerintah daerah, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan masyarakat umum memastikan agar nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. Masyarakat Bojonegoro terus menjaga kekayaan budaya yang sarat makna religius dan sosial, menjadikan Malem Songo lebih dari sekadar tradisi, tetapi juga sebuah identitas budaya yang mengakar kuat.
ADVERTISEMENT