Konten dari Pengguna

Sinergi KKN Jemur Wonosari RW 08 UINSA dan KSH: Aksi Nyata Pemeriksaan Jentik

Siti lina Lutfiana

Siti lina Lutfiana

Mahasiswa hukum UIN sunan Ampel Surabaya

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti lina Lutfiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumentasi kegiatan pemeriksaan jentik
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi kegiatan pemeriksaan jentik

Pencegahan penyakit sering kali diposisikan sebagai tanggung jawab utama tenaga kesehatan atau institusi pemerintah. Namun, jika ditarik lebih dalam, keberhasilan upaya pencegahan justru sangat bergantung pada kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat itu sendiri. Lingkungan tempat tinggal menjadi garis pertahanan pertama dalam menjaga kesehatan, dan dari sanalah perubahan nyata dapat dimulai. Gambaran ini terlihat jelas dalam kegiatan pemeriksaan jentik nyamuk yang dilaksanakan di RT 03 Jemur Wonosari.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari warga setempat, Kader Surabaya Hebat (KSH), petugas kesehatan dari Puskesmas Jemur Wonosari yang memimpin langsung jalannya kegiatan, hingga mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Jemur Wonosari RW 08 dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Kolaborasi lintas elemen ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan bukanlah isu sektoral, melainkan tanggung jawab kolektif yang memerlukan kerja sama berkelanjutan.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan apel bersama yang menjadi titik awal koordinasi. Apel ini bukan sekadar formalitas, melainkan ruang strategis untuk menyamakan persepsi, membagi peran, serta memperkuat pemahaman seluruh peserta sebelum turun langsung ke lapangan. Dalam kesempatan tersebut, petugas kesehatan dari Puskesmas Jemur Wonosari memberikan arahan teknis terkait metode pemeriksaan jentik yang tepat, sekaligus menekankan pentingnya ketelitian dalam mengidentifikasi potensi sarang nyamuk.

Menariknya, apel tersebut juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi tambahan, khususnya bagi anggota KSH. Petugas kesehatan dari Puskesmas Jemur Wonosari menyampaikan informasi mengenai program jaminan kesehatan, yaitu BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) serta layanan BPJS khusus bagi warga Surabaya. Penyampaian ini memiliki arti penting, karena anggota KSH berperan sebagai penghubung antara sistem layanan kesehatan dengan masyarakat. Dengan pemahaman yang memadai, mereka diharapkan mampu membantu warga dalam mengakses layanan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan yang sering kali terkendala informasi maupun administrasi.

Setelah apel selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan jentik dari rumah ke rumah. Metode door to door ini memberikan pendekatan yang lebih personal dan efektif, karena langsung menyentuh kehidupan sehari-hari warga. Tim yang terdiri dari warga, KSH, dan mahasiswa KKN menyisir setiap sudut rumah, mulai dari bak mandi, ember penampungan air, talang, pot tanaman, hingga barang-barang bekas yang berpotensi menampung air. Setiap temuan jentik langsung ditindaklanjuti dengan edukasi dan arahan kepada pemilik rumah untuk segera melakukan pembersihan.

Kegiatan ini sesungguhnya bukan hanya tentang menemukan jentik nyamuk, melainkan juga tentang membangun kesadaran kritis masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya. Banyak warga yang sebelumnya tidak menyadari bahwa genangan air kecil dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD). Melalui interaksi langsung, kesadaran tersebut tumbuh secara alami, bukan karena paksaan, melainkan karena pemahaman.

Peran petugas kesehatan dalam kegiatan ini sangat krusial. Selain memastikan kegiatan berjalan sesuai prosedur, mereka juga menjadi sumber informasi yang kredibel bagi masyarakat. Edukasi yang diberikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis dan kontekstual, sehingga mudah dipahami dan diterapkan. Di sisi lain, kehadiran mahasiswa KKN memberikan dinamika tersendiri melalui pendekatan komunikasi yang lebih segar dan adaptif terhadap masyarakat.

Sinergi antara warga, KSH, petugas kesehatan, dan mahasiswa KKN mencerminkan model kolaborasi ideal dalam pembangunan kesehatan berbasis masyarakat. Tidak ada dominasi satu pihak, melainkan kerja sama yang saling melengkapi. Inilah bentuk nyata dari pemberdayaan masyarakat, di mana warga tidak hanya menjadi objek program, tetapi juga subjek yang aktif berperan dalam menjaga lingkungannya.

Lebih jauh lagi, kegiatan ini mengingatkan bahwa pencegahan penyakit tidak selalu membutuhkan intervensi besar atau teknologi canggih. Justru, langkah-langkah sederhana seperti menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang dikenal dengan gerakan 3M masih menjadi strategi paling efektif dalam mencegah perkembangbiakan nyamuk. Tantangannya bukan pada kompleksitas tindakan, melainkan pada konsistensi pelaksanaannya.

Dari perspektif sosial, kegiatan ini juga memperkuat nilai gotong royong yang mulai tergerus di tengah kehidupan perkotaan yang individualistik. Interaksi antarwarga saat kegiatan berlangsung menciptakan kembali ruang kebersamaan yang hangat. Ada dialog, ada saling mengingatkan, dan ada rasa tanggung jawab bersama yang tumbuh. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan lingkungan tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi juga memperkuat kohesi sosial masyarakat.

Namun, keberhasilan kegiatan seperti ini sangat bergantung pada keberlanjutan. Tanpa komitmen jangka panjang, kegiatan pemeriksaan jentik berisiko menjadi sekadar agenda sesaat yang tidak memberikan dampak signifikan. Oleh karena itu, perlu adanya penguatan sistem, baik melalui penjadwalan rutin, monitoring, maupun dukungan kebijakan dari pemerintah setempat.

Selain itu, integrasi antara kegiatan pemeriksaan jentik dengan edukasi layanan kesehatan seperti BPJS menjadi langkah yang patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan kesehatan masyarakat tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus terhubung dengan sistem layanan kesehatan yang lebih luas. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mampu mencegah penyakit, tetapi juga memiliki akses yang memadai ketika membutuhkan layanan pengobatan.

Kegiatan di RT 03 Jemur Wonosari memberikan pelajaran penting bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama. Ia menjadi bukti bahwa ketika masyarakat diberi ruang untuk terlibat dan didukung oleh sistem yang tepat, maka upaya menjaga kesehatan dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kegiatan pemeriksaan jentik ini bukan sekadar program rutin, melainkan bagian dari proses membangun budaya hidup sehat. Sebuah budaya yang tidak hanya menekankan kebersihan fisik, tetapi juga kesadaran kolektif, kepedulian sosial, dan tanggung jawab bersama. Jika nilai-nilai ini terus dipelihara, maka bukan hanya lingkungan yang menjadi lebih sehat, tetapi juga kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan akan meningkat.