Konten dari Pengguna

Curug Cidurian, Menikmati Ketenangan Air Terjun Tersembunyi

SITI MILDANIA

SITI MILDANIA

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SITI MILDANIA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Curug Cidurian, Desa Kiarasari, Sukajaya, Kabupaten Bogor. Foto: [Siti Mildania]
zoom-in-whitePerbesar
Curug Cidurian, Desa Kiarasari, Sukajaya, Kabupaten Bogor. Foto: [Siti Mildania]

Di perbatasan Bogor Barat, tersembunyi sebuah air terjun yang belum banyak dijamah rombongan wisata besar. Namanya Curug Cidurian, terletak di Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Lokasinya jauh dari jalur wisata Puncak yang biasa dipadati kendaraan tiap akhir pekan, sehingga suasana di sekitarnya masih terasa sepi dan alami.

Untuk sampai ke lokasi, dibutuhkan waktu sekitar dua setengah jam berkendara dari Stasiun Bogor menggunakan kendaraan pribadi. Setibanya di area parkir, perjalanan dilanjutkan dengan trekking sekitar 40 menit. Jalur yang dilalui bervariasi, mulai dari pematang sawah berundak, perbukitan hijau, hingga jalan setapak berbatu yang menembus hutan. Sepanjang perjalanan, pengunjung akan melewati sungai jernih dan pepohonan khas pedesaan yang masih rimbun. Medan yang dilalui terkadang menurun dan licin, terutama setelah hujan, sehingga alas kaki dengan grip yang baik dan tahan air sangat disarankan.

Curug Cidurian berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, membuat udara di sekitarnya terasa sejuk sepanjang hari, bahkan cenderung dingin pada pagi hari. Ketinggian lokasi inilah yang membuat suhu di kawasan Cidurian jauh berbeda dari panasnya kota, dan menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengunjung yang ingin menjauh sejenak dari udara perkotaan. Air terjunnya jatuh dari ketinggian yang cukup menjulang, menghantam bebatuan besar di bawahnya dan membentuk kolam alami dengan air yang jernih dan berwarna biru kehijauan. Kedalaman kolam ini tercatat bisa mencapai dua meter di beberapa titik, cukup untuk berendam atau sekadar bermain air.

Di sekeliling air terjun, tebing tinggi yang tertutup lumut hijau berpadu dengan pepohonan tua yang tumbuh rapat, menciptakan suasana hutan tropis yang masih terjaga keasliannya. Pada pagi hari, kabut tipis kerap muncul di antara pepohonan, menambah kesan sejuk dan tenang pada kawasan ini. Suara gemuruh air yang jatuh berpadu dengan keheningan hutan menciptakan suasana yang jauh dari kebisingan kota.

Kawasan ini masih menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak, sehingga ekosistem di sekitarnya relatif terjaga. Selain Curug Cidurian, di kawasan yang sama juga terdapat Curug Pintu Air yang menghadap ke terasering persawahan, menjadikan rute perjalanan semakin kaya akan pemandangan alam. Bagi penggemar fotografi, kombinasi air terjun, tebing berlumut, dan kabut pagi menghasilkan banyak sudut menarik untuk diabadikan.

Salah satu hal yang membedakan Curug Cidurian dari banyak destinasi wisata alam lain adalah sistem pembayarannya yang jelas dan tidak berbelit. Pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk resmi di gerbang kawasan dengan nominal sekitar lima belas ribu rupiah per orang. Biaya ini sudah mencakup akses masuk ke area Taman Nasional Gunung Halimun Salak sekaligus biaya parkir kendaraan pribadi. Sepanjang jalur trekking menuju air terjun, tidak ditemukan pos tidak resmi yang meminta bayaran tambahan di luar ketentuan yang berlaku. Sistem satu pintu ini membuat pengunjung dapat memperkirakan biaya perjalanan sejak awal tanpa perlu khawatir akan pungutan mendadak di tengah jalan.

Fasilitas di kawasan ini tergolong sederhana namun cukup memadai. Toilet hanya tersedia di area basecamp dekat lokasi parkir, sehingga pengunjung yang ingin buang air kecil maupun besar harus kembali ke basecamp terlebih dahulu, karena di lokasi air terjun sendiri belum ada fasilitas toilet maupun warung permanen. Pemerintah desa setempat bersama kelompok penggerak pariwisata terus melakukan perbaikan bertahap, terutama pada jalur setapak agar lebih aman dilalui dan penyediaan area istirahat bagi pengunjung yang lelah selama trekking. Upaya ini dilakukan dengan tetap memperhatikan kelestarian ekosistem sekitar, sehingga pembangunan fasilitas tidak dilakukan secara berlebihan. Kehadiran wisatawan di Curug Cidurian turut memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar. Sejumlah warga desa Kiarasari bekerja sebagai pemandu trekking, sementara yang lain berjualan makanan ringan dan minuman di area basecamp. Semua transaksi berjalan sesuai tarif umum yang berlaku, tanpa ada praktik pemaksaan harga atau pungutan tambahan yang tidak resmi.

Meski akses menuju lokasi memerlukan usaha ekstra, mulai dari perjalanan darat yang cukup panjang hingga trekking melewati medan berbatu dan basah, kawasan ini tetap ramai didatangi wisatawan yang mencari suasana alam yang belum banyak berubah. Bagi yang membawa bekal sendiri seperti air minum dan camilan, perjalanan trekking akan terasa lebih nyaman mengingat minimnya fasilitas penjual makanan di sepanjang jalur maupun di lokasi air terjun.

Curug Cidurian hingga saat ini masih tergolong destinasi yang belum seramai curug lain di kawasan Bogor. Berada di ketinggian 1.000 mdpl dengan trekking singkat sekitar 40 menit dan sistem tiket masuk yang resmi, terbuka, tanpa pungutan tambahan di luar ketentuan yang berlaku, kawasan ini menjadi salah satu contoh pengelolaan wisata alam yang transparan di wilayah Bogor Barat.