Konten dari Pengguna

Stop Budaya Body Shaming

Siti Nazwa

Siti Nazwa

Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jkarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Nazwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Body Shaming (sumber: dibuat oleh canva)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Body Shaming (sumber: dibuat oleh canva)

sekarang gendutan yah, coba diet dong. Nanti kalo gendut-gendut ga ada yang suka loh”

kok kurus banget? Gapernah dikasih makan ya?"

jerawatnya banyak banget. Gapernah dirawat ya mukanya?

Mungkin kalimat-kalimat seperti itu sudah tidak asing ditelinga kita. Atau mungkin kita secara tidak sadar juga pernah mengeluarkan kalimat seperti itu kepada orang terdekat. Rasanya pasti sangat menjengkelkan bukan? Tak jarang juga, kita mendengar hinaan tentang fisik dengan alasan hanya candaan. Biasanya saat kita sedang kumpul keluarga atau dengan teman dekat, pasti ada salah satu diantara kerabat kita yang selalu mengomentari segala hal yang ada pada diri kita. Mereka akan mulai mengeluarkan candaan-candaan negatif yang berbau fisik, kemudian menertawakannya.

Rasanya kalau lagi ada di posisi itu, mau menghilang aja ga sih? Terkadang juga kalau kita sudah tidak bisa menahannya, kita hanya bisa diam lalu saat di kamar kita mulai menangis. Kemudian kalian bertanya-tanya “kenapa sih fisik aku selalu jadi bahan candaan?” “emang aku se jelek itu ya?” “aku ga se worth it itu kah?”. Body shaming seperti ini pasti pernah dialami oleh sebagian besar remaja putri.

Biasanya nih, kalau lagi berkunjung ke tempat saudara pasti kalimat yang keluar dari mulut tante, bude, atau om seperti “makin gendut ya sekarang. Makannya di jaga dong, katanya mau diet”. Padahal mereka ga tau gimana susahnya kita menjaga kepercayaan diri, tapi dengan santainya mereka berkata negatif tentang persepsi tubuh tanpa memikirkan perasaan kita.

Mengenal Body Shaming Lebih Dalam

Zaman sekarang, fenomena Body Shaming sedang marak terjadi dan hal ini bukanlah sesuatu yang baru. Survei yang dilakukan oleh Studi Fit Rated pada 1000 laki-laki dan perempuan. Dari penelitian ini, ditunjukkan bahwa perlakuan body shamming pada wanita memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibanding dengan pria loh, wah tinggi sekali ya. Di Indonesia sendiri, masyarakatnya tanpa sadar menormalisasikan fenomena body shaming dan hal ini sangat mengkhawatirkan.

Body shaming sendiri merupakan perbuatan atau perilaku yang mengritik atau berkomentar negatif terhadap penampilan seseorang. Perbuatan ini memang tidak menyakiti fisik, tapi ini termasuk kepada verbal bullying atau kekerasan melalui perkataan. Meskipun hal ini tidak merugikan secara fisik, tetapi tidak bisa disepelekan.

Terus kenapa sih, fenomena body shaming ini rentan dialami oleh remaja? Karena masa remaja memang sedang dalam pencarian jati diri, jadi ia akan menyerap nilai-nilai dan standarisasi dari lingkungannya. Lalu, kenapa body shaming bisa terjadi? Faktor yang menyebabkan terjadinya body shaming, khususnya pada remaja ialah adanya ketidaksesuaian standar kecantikan yang dibuat oleh masyarakat itu sendiri. Seperti apa standar kecantikan tersebut? Contohnya seperti, kita harus memiliki kulit putih yang bersih, memiliki tubuh yang ideal, berambut panjang, memiliki wajah yang mulus nan halus, dan masih banyak lagi.

Penelitian yang dilakukan oleh Sanchez, Good, Kwang, dan Saltman (2008) menunjukkan bahwa, body shaming meningkat saat individu memiliki kedekatan yang erat. Jadi dengan mereka merasa sudah dekat, mereka cenderung menilai fisik secara intens dan menganggap hal tersebut merupakan hal yang normal. Jadi, seseorang akan melakukan body shaming dengan orang yang dirasa sudah dekat tanpa memikirkan perasaannya. Terkadang body shaming ini dilontarkan dalam bentuk candaan. Sangat disayangkan sekali, tetapi itulah realita yang terjadi pada masyarakat Indonesia.

Fenomena body shaming bahkan sudah tersebar hingga ke dunia maya, salah satunya adalah platform Instagram. Dalam jurnal yang ditulis oleh Gani dan Jalal, pada tahun 2018 terdapat 966 kasus penghinaan fisik yang ditangani oleh polisi diseluruh Indonesia. Dari kasus ini, kita memang sudah seharusnya memebri perhatian khusus kepada perilaku body shaming. Body shaming memiliki dampak yang cukup bahaya, apabila terus menerus dilakukan.

Hubungannya Dengan Kesehatan Mental

Body shaming tidak selalu mengarah kepada bentuk tubuh, tetapi juga bisa mengarah kepada wajah, warna kulit, dan tinggi badan. Lalu, apa hubungannya dengan kesehatan mental? Tindakan body shaming ini tanpa disadari memiliki pengaruh yang negatif terhadap korbannya, yakni memicu timbulnya tekanan mental dan gangguan psikologi.

Penelitian yang dilakukan oleh Lamont (2018) menunjukkan adanya gejala penyakit yang diderita oleh korban body shaming, seperti diare dan sakit kepala. Kemudian perasaan malu akibat perkataan negatif yang dilontarkan, menyebabkan menurunnya kesehatan fisik. Dari penelitan Lamont yang dilakukan dengan memberi survei pada 300 perempuan, mendapatkan hasil yakni sebanyak 80% korban body shaming memiliki kondisi fisik yang menurun dan sebanyak 10% mengalami depresi.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Dalley (2019) yang melibatkan 237 perempuan gemuk korban fat shaming, ditemukan adanya hubungan antara body shaming dengan ide untuk bunuh diri. Risiko dari percobaan bunuh diri ini sebesar 12%. Dari sini dapat kita lihat dampak yang sangat berbahaya dari perbuatan body shaming. Sebagian msayarakat Indonesia mungkin menganggap hal ini adalah hal yang sepele, tetapi hal ini tidak bisa di sepelekan karena jika tidak segera diatasi akan mengarah kepada perbuatan percobaan bunuh diri.

Mengapa body shaming dapat menyebabkan depresi hingga keinginan untuk bunuh diri? Hal ini karena, perbuatan body shaming akan membuat korban merasa insecure dan tidak percaya diri. Korban akan merasa tidak berhak untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang sekitar dikarenakan fisiknya. Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilan fisik saja.

Cara Mengatasi Body Shaming

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa body shaming punya dampak yang bisa mengganggu psikologis seseorang, maka dari itu perlu membuat perubahan sikap terhadap perbuatan body shaming. Perubahan sikap seperti apa? Seperti menjaga hubungan baik dengan sesama, memahami dan menghormati keadaan fisik satu sama lain, dan lebih menerima diri apa adanya. Perubahan sikap ini memiliki makna mencerminkan sikap ketangguhan dan kekuatan diri seseorang untuk menghadapi perilaku body shaming.

Dalam mengatasi body shaming, diperlukan juga mindset yang positif serta mengabaikan ucapan-ucapan negatif orang-orang terhadap persepsi tubuh kita. Meskipun realitanya kita sulit menerima body shaming, tapi cobalah jadikan hal itu sebagai motivasi agar kita menjadi pribadi yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan selanjutnya.

Di dunia ini tidak ada satupun manusia yang sempurna, semuanya memiliki batasan keindahannya masing-masing. Kita tidak bisa menilai manusia hanya dari satu aspek saja, karena pada dasarnya ada begitu banyak kecantikan yang tersimpan dibalik satu kekurangan. Kita cantik dengan cara kita sendiri.