Konten dari Pengguna

“Learning by Doing” ala John Dewey: Mengapa Siswa Harus Belajar dari Pengalaman

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Nur Miftahul Jannah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto sendiri
zoom-in-whitePerbesar
Foto sendiri

Di banyak kelas di Indonesia, belajar masih sering diartikan sebagai kegiatan duduk rapi, mendengarkan ceramah guru, lalu menghafal catatan untuk ujian. Siswa bisa saja mendapat nilai bagus, tetapi ketika diminta menerapkan ilmu itu dalam situasi nyata, mereka sering kebingungan. Fenomena ini menunjukkan bahwa ada yang “hilang” dalam proses belajar: pengalaman langsung yang membuat pengetahuan benar-benar hidup.

Di sinilah pemikiran John Dewey, filsuf dan pendidik Amerika, menjadi relevan. Dewey dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam aliran konstruktivisme dan pragmatisme dalam pendidikan. Ia menolak pandangan bahwa tugas utama sekolah hanyalah “mengisi” kepala siswa dengan fakta. Bagi Dewey, belajar adalah proses aktif di mana siswa membangun pengetahuan mereka sendiri lewat pengalaman nyata dan interaksi sosial.

Siapa John Dewey dan Apa Inti Pemikirannya?

John Dewey adalah filsuf dan pendidik asal Amerika Serikat yang dianggap sebagai salah satu tokoh kunci konstruktivisme dalam pendidikan. Ia tidak hanya mengembangkan teori pendidikan yang bersifat konstruktivisme bagi pengetahuan peserta didik, tetapi juga menekankan pentingnya pengalaman sebagai inti belajar.

Inti dari teori pendidikan Dewey sering diringkas dalam frasa “learning by doing” atau belajar dengan melakukan. Ia membayangkan sekolah bukan sebagai ruang tertutup yang terpisah dari kehidupan, melainkan sebagai miniatur masyarakat. Di dalamnya, siswa belajar memecahkan masalah yang mirip dengan yang mereka temui di dunia nyata, bukan hanya mengerjakan soal latihan yang artifisial. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang mendesain pengalaman belajar, memancing rasa ingin tahu, dan membimbing siswa menemukan jawaban melalui eksperimen dan refleksi.

Beda Kelas Tradisional dan Kelas ala Dewey

Cara pandang ini cukup berbeda dengan model pembelajaran “tradisional” yang masih banyak kita jumpai. Dalam kelas tradisional, guru berceramah, siswa mencatat, lalu keduanya bertemu lagi saat ujian untuk menguji seberapa banyak informasi yang berhasil dihafal. Siswa cenderung pasif, takut salah, dan terbiasa menunggu “kunci jawaban” dari guru.

Sementara dalam kelas ala Dewey, siswa diajak bertanya, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Mereka belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari proses, bukan sesuatu yang harus ditakuti. Pengetahuan tidak lagi dianggap sebagai kumpulan fakta yang harus dihafal, melainkan alat untuk memahami dan mengubah realitas di sekitar mereka.

Seperti Apa Penerapannya di Indonesia?

Lantas, seperti apa kira-kira penerapannya di konteks Indonesia? Tidak harus langsung mengubah seluruh sistem sekolah. Seorang guru bisa memulai dari hal-hal kecil. Misalnya, dalam pelajaran IPA, alih-alih hanya menjelaskan teori di papan tulis, siswa diajak merancang eksperimen sederhana: meneliti kualitas air di sekitar sekolah, mengamati pertumbuhan tanaman dengan perlakuan berbeda, atau membuat alat sederhana dari barang bekas.

Dalam pelajaran IPS, siswa bisa diajak meneliti masalah di lingkungan mereka: kemacetan, sampah, atau akses air bersih, lalu mendiskusikan solusi yang mungkin diajukan ke pihak kelurahan atau sekolah. Pembelajaran berbasis proyek seperti ini membuat pengetahuan tidak lagi abstrak. Siswa melihat langsung mengapa mereka perlu memahami suatu konsep, dan bagaimana konsep itu bisa dipakai untuk memahami atau memperbaiki realitas di sekitar mereka.

Penilaian pun tidak hanya bergantung pada nilai ujian, tetapi juga pada proses: bagaimana siswa bekerja sama, bagaimana mereka merefleksikan kegagalan, dan apa yang mereka hasilkan dalam bentuk karya atau proposal

Tantangan dan Peluang

Tentu saja, menerapkan gagasan Dewey di Indonesia tidak tanpa tantangan. Beban kurikulum yang padat, fasilitas yang terbatas, dan budaya belajar yang sudah lama berpusat pada guru sering kali menjadi hambatan. Tekanan untuk mengejar nilai ujian nasional atau penilaian standar lainnya juga membuat banyak guru merasa “terpaksa” kembali ke metode ceramah dan latihan soal.

Namun, bukan berarti tidak ada ruang sama sekali. Bahkan dalam keterbatasan, guru bisa menyisipkan satu atau dua kegiatan berbasis pengalaman dalam satu semester. Yang penting ada awal, sekecil apa pun. Semakin banyak guru yang mencoba, semakin normal pula pembelajaran berbasis pengalaman di sekolah-sekolah kita.

Penutup

Pemikiran John Dewey mengingatkan kita bahwa pendidikan sejatinya bukan sekadar memindahkan informasi dari buku ke kepala siswa, melainkan membentuk pengalaman bermakna yang membantu mereka memahami diri dan dunianya. Jika kita ingin siswa tidak hanya pandai menjawab soal, tetapi juga mampu berpikir, berkreasi, dan berkontribusi dalam masyarakat, mungkin sudah saatnya kita mulai mengubah kelas dari “tempat menghafal” menjadi “laboratorium kehidupan” ala Dewey. Di sana, siswa tidak lagi sekadar penonton, melainkan pelaku utama dalam proses belajar mereka sendiri.