Dampak Pola Asuh terhadap Kesehatan Mental Anak Pertama

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Siti Nuralifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi anak pertama sering kali dianggap sebagai sebuah kebanggaan. Namun, di balik kebanggaan itu, ada tanggung jawab yang terkadang datang terlalu cepat. Anak pertama sering dituntut untuk menjadi contoh bagi adik-adiknya, memahami keadaan orang tua, dan selalu mengalah meskipun dirinya sendiri belum tentu mengerti apa yang sedang dirasakan. Sejak kecil, sebagian anak pertama terbiasa mendengar kalimat, “Kamu kan kakaknya, harus mengalah,” atau “Kamu harus lebih dewasa.” Kalimat yang terdengar sederhana, tetapi jika terus-menerus diterima, bisa membuat seorang anak merasa bahwa dirinya tidak punya banyak kesempatan untuk mengungkapkan keinginan sendiri.
Tanpa disadari, mereka mulai belajar menyimpan perasaan. Ketika sedih, mereka memilih diam. Ketika kecewa, mereka berusaha terlihat baik-baik saja. Bahkan, ketika merasa tidak sanggup, mereka tetap mencoba bertahan karena takut dianggap lemah atau tidak mampu menjalankan tanggung jawab sebagai anak pertama.
Ketika tuntutan keluarga menjadi beban emosional
Pola asuh memiliki peran penting dalam membentuk cara seorang anak memahami dirinya sendiri. Anak yang terus-menerus dibandingkan, dituntut untuk selalu mengalah, atau diberi kesempatan menyampaikan pendapatnya dapat tumbuh dengan rasa takut mengecewakan orang lain. Sebagian anak pertama akhirnya merasa harus selalu menjadi anak yang baik, mendapatkan hasil yang membanggakan, dan tidak boleh melakukan kesalahan. Mereka mungkin terlihat mandiri di mata orang lain, tetapi sebenarnya kesulitan meminta bantuan karena terbiasa mengurus semuanya sendiri.
Tidak semua orang tua melakukan hal tersebut dengan sengaja. Ada yang percaya bahwa tuntutan dapat membuat anak lebih kuat dan bertanggung jawab. Namun, tanpa disertai pemahaman terhadap kebutuhan emosional anak, tuntutan yang berlebihan justru bisa menjadi tekanan. Anak memang perlu belajar bertanggung jawab, tetapi mereka juga perlu merasa aman untuk bercerita, melakukan kesalahan, dan menunjukkan perasaan tanpa takut dihakimi.
Luka masa kecil yang terbawa hingga dewasa
Pengalaman masa kecil dapat memengaruhi cara seseorang membangun hubungan, menghadapi konflik, dan memandang dirinya sendiri ketika dewasa. Anak yang terbiasa mengesampingkan perasaannya mungkin tumbuh menjadi seseorang yang sulit mengatakan tidak. Mereka takut membuat orang lain kecewa, merasa bersalah ketika memprioritaskan diri sendiri, atau terus berusaha menyenangkan semua orang meskipun dirinya sudah kelelahan. Ada pula yang terbiasa memendam masalah karena merasa tidak ada orang yang benar-benar bisa memahami dirinya. Mereka terlihat kuat, tetapi kesulitan mengungkapkan bahwa sebenarnya mereka membutuhkan dukungan.
Pengalaman seperti ini tidak otomatis berarti seseorang mengalami trauma psikologis. Setiap orang memiliki pengalaman dan respons yang berbeda. Namun, tekanan yang berlangsung terus-menerus dan kurangnya dukungan emosional dapat memengaruhi kesejahteraan mental seseorang penting untuk tidak menganggap semua keluhan anak sebagai bentuk ketidakpatuhan. Terkadang, di balik sikap diam atau perubahan perilaku, ada perasaan yang belum mampu mereka sampaikan dengan baik.
Anak pertama juga berhak mendapatkan kasih sayang
Sering kali, keluarga begitu terbiasa mengandalkan anak pertama sampai lupa bahwa dirinya juga membutuhkan perhatian. Ketika ada masalah, ia diharapkan mengerti. Ketika terjadi perselisihan, ia diminta mengalah. Namun, ketika dirinya sedang kesulitan, belum tentu ia mendapatkan ruang yang sama untuk bercerita. Padahal, menjadi anak pertama bukan berarti harus selalu menjadi orang yang paling kuat. Mereka juga berhak merasa lelah, menangis, melakukan kesalahan, dan meminta bantuan.
Anak pertama tidak seharusnya merasa bahwa kasih sayang harus diperoleh dengan prestasi, kepatuhan, atau pengorbanan yang terus-menerus. Mereka perlu memahami bahwa dirinya tetap berharga, bahkan ketika sedang gagal atau tidak mampu memenuhi harapan orang lain. Orang tua juga perlu menyadari bahwa setiap anak memiliki kebutuhan emosional yang berbeda. Memberikan tanggung jawab memang penting, tetapi mendengarkan perasaan anak tidak kalah pentingnya. Terkadang, kalimat sederhana seperti “Kamu capek, ya?” atau “Kamu boleh cerita kalau ada masalah” bisa membuat anak merasa lebih aman.
Memutus pola asuh yang menyisakan luka
Pola asuh yang kurang sehat dapat terus berulang ketika kebiasaan lama dianggap wajar hanya karena sudah dilakukan dari generasi ke generasi. Padahal, sesuatu yang biasa terjadi belum tentu selalu baik bagi perkembangan emosional anak. Memutus pola tersebut bukan berarti menyalahkan orang tua atas segala hal. Sebaliknya, ini merupakan kesempatan untuk belajar memahami kebutuhan anak dengan lebih baik dan membangun hubungan keluarga yang lebih sehat.
Anak pertama juga dapat belajar mengenali batas kemampuannya, mengungkapkan perasaan, dan memahami bahwa tidak semua masalah keluarga menjadi tanggung jawabnya seorang diri. Jika pengalaman masa lalu terus mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari dukungan dari orang tepercaya atau tenaga profesional juga bukanlah sesuatu yang memalukan. Pada akhirnya, anak pertama hanyalah seorang anak yang lahir lebih dahulu. Ia bukan orang tua kedua, bukan tempat untuk melimpahkan seluruh harapan, dan bukan seseorang yang harus selalu mengerti tanpa pernah dimengerti.
Jangan sampai keinginan membesarkan anak yang kuat justru membuatnya tumbuh dengan keyakinan bahwa ia tidak boleh lemah. Sebab, anak yang sehat secara emosional bukan hanya anak yang mampu bertahan menghadapi masalah, tetapi juga anak yang tahu bahwa dirinya berhak didengar, dipahami, dan dicintai tanpa harus terus membuktikan apa pun.
