Kenapa Sering Bolak-Balik? Saatnya Menerapkan Efisiensi dari Meja Belajar

saya afalah seorang mahasiswi di universitas pamulang dengan fakultas teknik prodi teknik industri
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Nuranisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah tidak, saat sedang fokus mengerjakan tugas tiba-tiba harus berdiri untuk mengambil charger, buku, atau alat tulis? Setelah kembali ke tempat belajar, ternyata masih ada barang lain yang tertinggal sehingga harus berdiri lagi. Hal seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi ternyata cukup sering terjadi dalam aktivitas sehari-hari mahasiswa.
Tanpa disadari, kebiasaan bolak-balik mengambil barang dapat membuat pekerjaan menjadi lebih lama. Waktu yang seharusnya digunakan untuk fokus mengerjakan tugas justru terpakai untuk mencari atau mengambil barang. Dari hal sederhana tersebut, penataan barang ternyata memiliki hubungan erat dengan efisiensi aktivitas sehari-hari.
Kenapa Kita Sering Bolak-Balik?
Salah satu penyebab utamanya adalah barang yang dibutuhkan tidak berada di tempat yang mudah dijangkau (reach zone). Misalnya, buku kuliah berada di shelf berbeda, alat tulis terselip di tempat lain, sedangkan charger laptop masih tertinggal di area berbeda. Ketika sedang fokus, kita baru menyadari ada barang penting yang belum siap di meja.
Selain itu, kebiasaan meletakkan barang sembarangan setelah digunakan juga menjadi pemicu. Barang yang tidak langsung dikembalikan ke tempatnya akan menyita waktu ekstra untuk dicari kembali saat dibutuhkan. Situasi seperti ini membuat alur kerja menjadi terputus-putus. Jika hanya terjadi sekali dua kali mungkin tidak terasa, namun jika berulang berkali-kali, akumulasi waktu yang terbuang menjadi cukup signifikan.
Sebagai mahasiswa Teknik Industri, saya melihat kebiasaan tersebut dari sisi yang sedikit berbeda. Dalam Teknik Industri, efisiensi merupakan salah satu pilar utama. Salah satu penerapannya adalah bagaimana suatu aktivitas dapat diselesaikan dengan meminimalkan atau meniadakan unnecessary motion (gerakan yang tidak memberikan nilai tambah).
Konsep efisiensi ini sebenarnya tidak hanya berlaku di pabrik, sistem manufaktur, atau lantai produksi yang besar. Dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa, penataan area belajar juga sangat memengaruhi produktivitas. Jika barang-barang yang berfrekuensi pakai tinggi diletakkan dalam jangkauan tangan, kita tidak perlu membuang energi dan waktu hanya untuk berpindah tempat secara berulang.
Langkah Sederhana Dimulai dari Meja Belajar
Untuk mengurangi kebiasaan bolak-balik ini, sebenarnya tidak diperlukan perubahan yang rumit. Kita bisa menerapkannya lewat beberapa langkah praktis:
• Penataan Berdasarkan Frekuensi Penggunaan: Letakkan barang yang paling sering dipakai di area yang paling mudah dijangkau.
• Pengelompokan Barang (Categorization): Kelompokkan barang sesuai kegunaannya, misalnya alat tulis di satu wadah khusus, dan dokumen atau buku kuliah ditata rapi berdasarkan mata kuliahnya.
• Persiapan Sebelum Mulai (Preparation): Sebelum mulai mengerjakan tugas atau laporan, siapkan seluruh peralatan yang dibutuhkan di meja kerja terlebih dahulu.
• Disiplin Pengembalian (Habit): Biasakan untuk langsung mengembalikan barang ke tempat semula setelah selesai digunakan.
Sebelumnya, saya menganggap kebiasaan bolak-balik mengambil barang sebagai sesuatu yang wajar. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, kebiasaan kecil tersebut sangat menentukan seberapa efektif kita mengelola waktu dan energi. Penataan barang bukan sekadar tentang membuat kamar atau meja terlihat rapi, melainkan tentang merancang alur aktivitas agar berjalan lebih mulus.
Bagi saya, hal ini menjadi bukti bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah khususnya Teknik Industri sangat dekat dengan kehidupan nyata. Efisiensi tidak selalu berbicara tentang mesin atau proses industri berskala besar, melainkan bisa dimulai dari hal paling sederhana yaitu bagaimana kita menata barang-barang di sekitar kita sebelum beraktivitas.
