Kenapa Infinity Gojo Bisa Ditembus Sukuna? Ini Penjelasannya

Saya Siti Nur Aziza, mahasiswa Hukum di UPN Veteran Jakarta (UPNVJ).
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Siti Nur Aziza (Mahasiswa Hukum UPNVJ) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam semesta Jujutsu Kaisen, teknik Limitless/Infinity milik Satoru Gojo selalu dikenal sebagai benteng pertahanan mutlak yang mustahil ditembus. Setiap musuh yang mencoba menyerang seolah terjebak dalam ruang hampa dan tak pernah bisa menyentuh fisiknya. Namun, narasi invincible tersebut runtuh saat puncaknya pertarungan melawan Ryomen Sukuna, di mana pertahanan yang dianggap tak tertandingi itu akhirnya berhasil dipecahkan.
Lantas, bagaimana Sukuna bisa melakukannya?
Jawabannya ternyata bukan sekadar soal serangan yang lebih kuat. Kuncinya ada pada cara Sukuna mengubah sasaran serangannya.
Peringatan spoiler: artikel ini membahas kejadian di manga Jujutsu Kaisen hingga Chapter 255, termasuk kematian Gojo.
Apa Sebenarnya Infinity Milik Gojo?
Untuk memahami cara kerjanya, kita harus melihat Infinity sebagai ekstensi dari Limitless, teknik kutukan yang berfokus pada pengendalian ruang. Infinity bukanlah sekadar "tembok tak kasat mata" yang menghalangi serangan. Lebih kompleks dari itu, teknik ini bekerja dengan mengendalikan jarak antara tubuh Gojo dan ancaman yang datang mendekat.
Bayangkan seseorang berjalan menuju sebuah titik. Setengah jarak ditempuh, lalu setengah dari sisanya, lalu setengah lagi, begitu seterusnya. Jaraknya terus terbagi menjadi bagian yang makin kecil, sehingga ia tak pernah benar-benar tiba.
Begitulah cara membayangkan serangan yang menuju Gojo. Serangan biasa harus melewati jarak antara penyerang dan Gojo, dan di jarak itulah Infinity bekerja. (Analogi ini hanya alat bantu memahami konsep fiksi, bukan penjelasan ilmiah.)
Peran Krusial Mahoraga
Sehebat apa pun Sukuna, ia tidak serta-merta memiliki cara instan untuk menembus Infinity. Sang Raja Kutukan harus mengandalkan Mahoraga, shikigami yang dibekali kemampuan unik untuk beradaptasi terhadap berbagai macam serangan. Menariknya, proses adaptasi ini bukanlah sihir instan yang langsung membuatnya kebal. Mahoraga harus merasakan serangan tersebut secara berulang. Setiap kemajuan adaptasinya ditandai dengan berputarnya roda di atas kepalanya. Ketegangan memuncak di Chapter 232 ketika roda tersebut berputar empat kali dalam merespons Infinity—membuat para penggemar mulai memprediksi bahwa celah pertahanan mutlak Gojo akhirnya telah ditemukan.
[Sumber: Jujutsu Kaisen Chapter 232]
Adaptasi Pertama: Infinity Mulai Kehilangan Keunggulannya
Hasil dari adaptasi itu pun terbukti ketika Mahoraga mampu menyerang Gojo menembus perisai Infinity. Fakta bahwa pertahanan mutlak Gojo akhirnya bocor sukses membuat pembaca tercengang. Namun, Sukuna melihat momen ini dari sudut pandang yang berbeda. Keberhasilan Mahoraga bukanlah sekadar kebetulan, melainkan bukti bahwa Infinity memiliki celah sistem. Lewat adaptasi shikigami tersebut, Sukuna akhirnya menemukan petunjuk nyata yang selama ini ia cari dan amati.
Titik Balik Sang Raja Kutukan: Mengganti Target Serangan
Di sinilah letak kuncinya. Terdapat perbedaan fundamental antara menyerang tubuh Satoru Gojo secara langsung dengan menyerang "ruang" tempat ia berpijak. Sebagai analogi, bayangkan Gojo sedang berlindung di dalam sebuah ruangan brankas yang tak bisa ditembus. Jika musuh menyerang dari luar, mereka harus melewati lapisan Infinity yang menjaga pintu masuknya. Tapi, bagaimana jadinya jika yang ditebas bukanlah orang di dalamnya, melainkan ruangan itu sendiri?
Momen krusial ini terjadi pada Chapter 234, saat Mahoraga meluncurkan tebasan jarak jauh yang secara mengejutkan sukses memutus lengan kanan Gojo. Sukuna menyeringai puas melihatnya, sementara Yuji dan Kusakabe justru kebingungan karena shikigami itu tiba-tiba meniru teknik tebasan khas Sukuna. Teka-teki ini baru terungkap di Chapter 236. Sukuna menjelaskan bahwa tebasan Mahoraga saat itu sudah memperluas targetnya. Ia tidak lagi sekadar membidik wujud fisik Gojo, melainkan memotong langsung eksistensi ruang di mana sang penyihir terkuat itu berada.
Evolusi Dismantle: Mengubah Konsep Ruang
Di balik layar pertarungan brutal tersebut, Sukuna nyatanya bertindak sebagai pengamat yang cermat. Mengacu pada Chapter 236, ia sengaja membiarkan Mahoraga beraksi agar bisa menggunakan adaptasinya sebagai cetak biru untuk teknik Dismantle miliknya.
Sukuna tidak meniru gaya bertarungnya, melainkan "mencuri" konsepnya. Ia memahami logika di balik bagaimana Mahoraga menembus Infinity, lalu memodifikasi teknik dasarnya untuk mencapai hasil yang sama. Modifikasi ini mengubah konsep serangannya secara fundamental.
Teknik Dismantle yang tadinya hanya difokuskan untuk memotong benda padat atau tubuh manusia, kini di- upgrade skalanya menjadi World-Cutting Slash. Sesuai namanya, serangan ini tidak lagi menjadikan Gojo sebagai target, melainkan membidik "ruang", eksistensi, dan "dunia" yang mengelilingi sang penyihir.
Kenapa Infinity Tidak Berfungsi?
Infinity bekerja dengan memperlambat apa pun yang berusaha melintasi jarak menuju tubuh Gojo. Namun, jika ruang tempat Gojo bernapas itu sendiri yang dibelah secara instan, konsep jarak dan perlambatan waktu dari Infinity tidak lagi berlaku. Selama Gojo masih berpijak di ruang dimensi tersebut, ia akan ikut terpotong bersama ruangannya.
Tentu saja, istilah "membelah dunia" di sini hanyalah majas hiperbola khas manga. Sukuna tidak secara harfiah membelah planet Bumi. Ia sekadar membelah koordinat ruang spesifik tempat Satoru Gojo berpijak. Karena ruangnya terpotong, Infinity yang berfungsi memanipulasi "jarak" di dalam ruang tersebut menjadi sama sekali tidak berguna.
Jadi, Apakah Sukuna Benar-Benar “Menembus” Infinity?
Ini perlu dikoreksi dari pemahaman populer. Sederhananya, Sukuna sama sekali tidak "menghancurkan" atau "menembus" Infinity layaknya seseorang mendobrak tembok baja.
Mari kita gunakan analogi sederhana. Jika Infinity diibaratkan sebagai pagar gaib absolut yang mengelilingi Gojo, Sukuna tidak berusaha memanjat, melompati, atau merusak pagar tersebut. Alih-alih repot berurusan dengan pagarnya, Sukuna memilih untuk langsung membelah "tanah" tempat pagar dan Gojo itu berpijak. Karena sasaran serangannya sudah diperluas hingga ke fondasi ruang, Infinity otomatis ter- bypass dan tidak lagi menjadi penghalang.
Sekali lagi, ini hanya alat bantu untuk memahami konsep fiksi, bukan mekanisme ilmiah yang literal.
Mengapa Serangan Ini Berakibat Fatal bagi Gojo?
Jawabannya sebenarnya sederhana: karena Gojo eksis di dalam ruang yang ditebas oleh Sukuna. Ketika dimensi ruang tersebut dipotong, tubuh Gojo yang berada di dalamnya mau tak mau ikut terbelah. Inilah penjelasan logis mengapa pada Chapter 236, pembaca disuguhkan panel tragis di mana tubuh sang penyihir terbelah dua.
Fungsi utama Infinity adalah mengatur jarak dan interaksi antara wujud fisik Gojo dengan benda asing yang mendekatinya. Namun, dengan World-Cutting Slash yang memanipulasi target menjadi "ruang", fungsi penahan jarak tersebut otomatis kehilangan relevansinya. (Sumber: Manga Jujutsu Kaisen Chapter 236)
Harga Mahal Sebuah Tebasan Pemotong Dunia
Kendati terlihat terlalu kuat (overpower), eksekusi teknik ini ternyata tak semudah kelihatannya. Fakta baru terungkap di Chapter 255; Sukuna rupanya harus mengikat Binding Vow (Sumpah Pengikat) sebagai ganti untuk bisa melancarkan World-Cutting Slash kepada Gojo.
Efeknya, serangan mematikan ini tidak bisa dikeluarkan sembarangan (tidak bisa di- spam). Narator menjelaskan bahwa Sukuna kini terikat syarat yang merepotkan: ia wajib merapalkan mantra khusus dan membentuk segel tangan Enmaten (segel yang sama untuk mengekspansi Malevolent Shrine) setiap kali hendak meluncurkan tebasan pembelah dunia tersebut. (Sumber: Manga Jujutsu Kaisen Chapter 255)
Kemenangan Taktis Sang Raja Kutukan
Hal yang membuat pertarungan ini begitu epik adalah bagaimana Sukuna membuktikan kapasitasnya. Ia menang bukan sekadar karena memiliki daya hancur yang lebih besar, melainkan karena kecerdasan taktisnya. Sukuna secara brilian memanfaatkan Mahoraga sebagai "kamera observasi". Ia membiarkan shikigami itu merumuskan solusi atas Infinity, memahami konsepnya, lalu mencuri ilmunya.
Kemenangan ini menegaskan bahwa duel puncak di Jujutsu Kaisen adalah soal siapa yang bisa membongkar mekanik lawan dan memutarbalikkan strategi. Menariknya, hal ini sama sekali tidak mencoreng reputasi Gojo Satoru. Fakta bahwa sang Raja Kutukan sampai harus meminjam shikigami terkuat dan memutar otak sedemikian rupa justru menjadi bukti sahih betapa mengerikannya seorang Gojo.
Kesimpulan: Kelemahan Tersembunyi Infinity
Sebagai penutup, teka-teki kekalahan Satoru Gojo akhirnya terjawab. Sukuna tidak mengalahkan Infinity dengan menghantamnya menggunakan kekuatan yang lebih besar. Ia hanya menyontek hasil adaptasi Mahoraga guna menggeser target Dismantle.
Ketika yang dibidik bukan lagi fisik Gojo melainkan dimensi ruang tempat ia berada, Infinity kehilangan fungsinya sebagai benteng pertahanan. Pada akhirnya, sekuat apa pun Infinity mampu memanipulasi jarak dan waktu, kelemahan terbesarnya bersandar pada satu realitas fisik yang tak terbantahkan: Gojo tetaplah manusia yang harus memijakkan kaki dan eksis di suatu ruang. Dan ruang itulah yang ditebas habis oleh Sukuna.
