Refleksi Pribadi dari Sinau Bareng Kenduri Cinta "Kesadaran Rimpang"

Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Nurfitriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sinau Bareng Kenduri Cinta pada 7 Oktober 2026 di Taman Ismail Marzuki membawa pulang banyak hal untuk direnungkan. Salah satu gagasan yang terus mengusik pikiran saya adalah kesadaran rimpang. Saya sering berpikir bahwa untuk membantu orang lain, saya harus memiliki sesuatu yang lebih terlebih dahulu. Saya harus berhasil, memiliki kemampuan yang cukup, atau berada dalam keadaan yang lebih baik. Tanpa sadar, pikiran seperti itu membuat saya merasa terkekang oleh keadaan sendiri. Padahal, apakah saya benar-benar harus menunggu sampai menjadi seseorang yang besar untuk mulai memberi arti bagi kehidupan orang lain? Pertanyaan inilah yang kemudian membuat saya mencoba memahami kesadaran rimpang dengan lebih dekat.
Kegelisahan itu membuat saya memikirkan kembali makna kesadaran. Dalam KBBI, kesadaran berkaitan dengan keinsafan atau keadaan mengerti, sedangkan rimpang merupakan bagian tumbuhan yang tumbuh mendatar di dalam tanah, seperti jahe dan kunyit. Ketika kedua kata ini dipertemukan, saya mulai bertanya-tanya, "Apa yang bisa dipelajari dari sesuatu yang tumbuh di bawah tanah, tidak menonjol, tetapi tetap memiliki manfaat?"
Pertanyaan itu membawa saya pada gagasan Kesadaran Rimpang yang dibahas dalam Kenduri Cinta. Dalam artikel “Mukadimah: Kesadaran Rimpang”, Tim Redaksi Kenduri Cinta menggambarkan rimpang sebagai sesuatu yang tumbuh diam-diam, bercabang ke berbagai arah, dan menyimpan manfaat tanpa harus menonjolkan diri. Gambaran ini membuat saya merenungkan bahwa tidak semua pertumbuhan harus terlihat besar. Barangkali, kita tidak perlu menunggu menjadi kaya, terkenal, atau memiliki kedudukan tinggi untuk mulai memberi manfaat. Kita bisa memulainya dari keadaan kita sekarang, dengan apa yang kita miliki dan melalui hal-hal sederhana yang mampu kita lakukan.
Mungkin, selama ini kita terlalu sibuk membayangkan menjadi pohon besar, sampai lupa bahwa sesuatu yang tumbuh dekat dengan tanah pun memiliki arti. Kita ingin melakukan hal-hal besar, tetapi terkadang justru melewatkan kesempatan kecil yang ada di hadapan kita. Padahal, membantu seseorang tidak selalu membutuhkan banyak uang, berbagi pengetahuan tidak harus menunggu menjadi ahli, dan memberikan perhatian tidak mensyaratkan kedudukan.
Tentu, kesadaran rimpang menyimpan banyak makna yang masih bisa digali dan direnungkan. Namun, salah satu hal yang saya refleksikan dalam kehidupan pribadi saya adalah tentang keinginan untuk memberi manfaat di tengah keterbatasan. Dari sini, saya mulai belajar bahwa persoalannya bukan semata-mata seberapa banyak yang kita miliki, melainkan bagaimana kita menggunakan apa yang ada pada diri kita saat ini untuk memberi arti bagi kehidupan orang lain.
