Konten dari Pengguna

Sibuk Tumbuh Tinggi, tetapi Lupa Bertumbuh ke Dalam

Siti Nurfitriani

Siti Nurfitriani

Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Nurfitriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memaknai Kesadaran Rimpang dalam Kenduri Cinta

Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi

Ada sesuatu yang masih berisik di kepala saya setelah mengikuti Kenduri Cinta, Maiyah, di Taman Ismail Marzuki, 7 Oktober 2026 semalam. Pembahasan tentang kesadaran rimpang semalam bahkan terbawa sampai mimpi. Saya masih remang-remang memahaminya, seolah diskusi di dalam diri belum benar-benar selesai. Namun, di antara berbagai gagasan yang berseliweran di kepala, saya mulai bertanya-tanya, “Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk ingin tumbuh tinggi, tetapi lupa memperkuat akar.” Kita ingin sukses, ingin menjadi seseorang, ingin meraih banyak pencapaian, tetapi sudahkah kita sungguh mengenali diri sendiri?

Kita sering terpesona oleh pohon yang rindang. Kita melihat batangnya yang kokoh, cabangnya yang menjulang, dan daun-daunnya yang memberi keteduhan. Kita ingin menjadi seperti itu. Tumbuh tinggi, dikenal, berhasil, dan bermanfaat bagi banyak orang. Namun, kita sering lupa bahwa di balik pohon yang rindang, ada akar yang bekerja dalam diam, menembus tanah, mencari sumber kehidupan, dan menopang seluruh pertumbuhannya.

Kegelisahan itu membuat saya ingin memahami lebih jauh apa yang dimaksud dengan kesadaran rimpang. Saya kemudian membuka artikel “Mukadimah: Kesadaran Rimpang” yang ditulis oleh Tim Redaksi Kenduri Cinta untuk menambah pengetahuan dan mencoba memahami kembali gagasan yang saya dengar dalam diskusi malam itu. Dari bacaan tersebut, saya menemukan bahwa temulawak, jahe, kunyit, lengkuas, dan temukunci ternyata dapat menjadi perumpamaan untuk memahami kehidupan manusia. Tim Redaksi Kenduri Cinta menulis bahwa “Kewaskitaan batin tumbuh di tempat yang tak selalu terlihat.”Kalimat ini membuat saya kembali memikirkan kegelisahan sebelumnya, "Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang tampak, tetapi kurang memperhatikan apa yang tumbuh di dalam diri." Kita ingin sukses, ingin diakui, dan ingin mencapai banyak hal, tetapi belum tentu memiliki cukup waktu untuk mengenali diri sendiri. Dari situlah saya mulai mencoba memahami kesadaran rimpang melalui perumpamaan yang disampaikan dalam artikel tersebut.

Temulawak dan Keberanian Menerima Kepahitan Diri

Tim Redaksi Kenduri Cinta menulis, “Kejujuran itu pahit, tetapi menciptakan kebahagiaan sejati dan kegembiraan yang hakiki.” Kalimat ini mengingatkan saya bahwa mengenali diri sendiri tidak selalu mudah. Kita senang dipuji dan dianggap berhasil, tetapi terkadang sulit menerima kritik atau mengakui kekurangan. Temulawak mengajarkan bahwa proses bertumbuh tidak selalu terasa manis. Ada kalanya kita perlu menerima kenyataan yang tidak menyenangkan agar bisa memperbaiki diri. Sebab, bagaimana mungkin kita memperkuat akar jika kita tidak berani mengakui bagian diri yang masih rapuh?

Jahe: Menghangatkan Diri dari Dalam

Tim Redaksi Kenduri Cinta menggambarkan jahe sebagai rimpang yang “menghangatkan tubuh dari dalam tanpa api.” Perumpamaan ini membuat saya berpikir bahwa apa yang tumbuh di dalam diri semestinya dapat dirasakan melalui sikap dan perilaku. Begitu pula dengan pengetahuan. Semakin banyak hal yang kita ketahui, seharusnya semakin luas pula cara kita memahami kehidupan. Namun, saya menyadari bahwa pengetahuan terkadang justru membuat kita merasa paling benar, mudah meremehkan orang lain, bahkan enggan menerima pendapat yang berbeda. Kita sibuk menunjukkan apa yang kita ketahui, tetapi lupa untuk terus belajar memahami. Barangkali, kedalaman diri bukan diukur dari seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan dari seberapa bijak kita menggunakan pengetahuan tanpa merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Kunyit: Berubah Tanpa Harus Menjadi Pusat Perhatian

Tim Redaksi Kenduri Cinta menulis bahwa kunyit mampu “mengubah rupa hidangan tanpa harus mendominasi seluruh hidangan itu.” Perumpamaan ini membuat saya berpikir bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan sorotan. Namun, terkadang kita justru menjadikan orang lain sebagai patokan untuk mengukur keberhasilan diri sendiri. Melihat pencapaian orang lain, kita merasa harus mengejar hal yang sama agar tidak tertinggal. Tanpa sadar, kita lebih sibuk membuktikan bahwa diri kita juga mampu daripada memahami apa yang sebenarnya kita butuhkan. Padahal, seperti kunyit yang memberi warna tanpa mendominasi, kita pun bisa bertumbuh dan membawa manfaat tanpa harus selalu menonjol. Saya akhirnya menyadari bahwa. "Bukankah yang lebih penting bukan seberapa jauh kita melampaui orang lain, melainkan seberapa baik kita berkembang menjadi diri sendiri?"

Lengkuas dan Temukunci: Teguh Tanpa Harus Merendahkan

Tim Redaksi Kenduri Cinta mengingatkan bahwa keteguhan ruhani dapat melahirkan kekuatan yang “kokoh tanpa merendahkan, berprinsip tanpa kehilangan kelembutan” Kita memang membutuhkan prinsip untuk menjalani kehidupan. Namun, keteguhan tidak sama dengan keras kepala. Semakin tinggi kedudukan atau semakin luas pengetahuan seseorang, semestinya semakin besar pula kemampuannya memahami orang lain.

Pada akhirnya, mungkin inilah yang perlu kita renungkan dari kesadaran rimpang. Sebelum terlalu sibuk meninggikan batang dan memperlebar cabang kehidupan, kita perlu memastikan bahwa akar kita juga bertumbuh. Sebab, menjadi manusia bukan sekadar perkara seberapa tinggi kita berhasil berdiri, tetapi seberapa dalam kita mengenali diri sendiri dan seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada kehidupan.