Konten dari Pengguna

Ulasan: Mengapa Terpisah? Amba

Siti Nurhayati

Siti Nurhayati

Gadis yang akrab disapa Siti ini merupakan mahasiswi aktif prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain menekuni bidang tersebut, ia juga menyenangi dunia coding dan travelling, khususnya daerah Jogja.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Nurhayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Ilustrasi: Hak Cipta Gambar Milik Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Ilustrasi: Hak Cipta Gambar Milik Penulis

Halo semuanya, kali ini saya akan mengulas salah satu novel bertema perjuangan seorang perempuan dalam menjalani cinta dan kehidupannya karya Laksmi Pamuntjak yang berjudul Amba. Novel bergenre fiksi sejarah yang memiliki alur maju-mundur ini berlatar pada peristiwa G30S/PKI antara tahun 1956-1965 kemudian kisahnya berlanjut ke tahun 2006. Bagi anda yang sebelumnya pernah membaca epos mahabaratha, pastilah tidak asing dengan tokoh-tokoh yang ada di dalam novel ini. Novel ini telah mendapatkan beberapa penghargaan, di antaranya Kusala Sastra Khatulistiwa Nominee for Prosa – shortlist (2013) dan LiBeraturpreis 2016.

Identitas Novel

  • Judul: Amba

  • Genre: Fiksi Sejarah

  • Penulis: Laksmi Pamuntjak

  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

  • Tahun Terbit: Cetakan keempat (edisi baru), Oktober 2013

  • ISBN: 978-979-22-9984-7

  • Tebal Halaman: 576 halaman

  • Harga: 138.000

Sinopsis

Cerita dalam novel ini diawali dengan ditemukannya dua wanita yang terluka di dekat sebuah makam di Pulau Buru. Salah satunya adalah wanita asing yang terluka parah karena luka tikam dan satunya lagi merupakan wanita asli Buru, yaitu Mukaburung yang mengaku menikam si wanita lainnya karena wanita itu berani mendekati makam suami Mukaburung. Identitas dari wanita asing itu pun diketahui ketika seorang pria bernama Samuel datang dan mengenalinya sebagai Amba. Seorang wanita yang jauh-jauh datang ke Pulau Buru untuk menemukan keberadaan cintanya.

Amba, seorang putri sulung yang lahir dari keluarga pembaca kitab-kitab tua beretnis Jawa dan dibesarkan di kota kecil, Kadipura. Ayahnya, Sudarminto menyukai kisah pewayangan yang terdapat dalam kitab-kitab jawa kuno seperti Mahabharata dan Serat Centhini, dan hal ini jugalah yang menjadi inspirasi ayahnya untuk menamai Amba dan kedua adik kembarnya, yaitu Ambika dan Ambalika seperti nama-nama tokoh pewayangan.

Dibalik keluarga yang sangat menyayanginya itu, ternyata Amba memiliki rasa insecure pada dirinya karena tidak secantik ibu dan adik kembarnya. Rasa insecure inilah yang membuat Amba banyak menghabiskan waktu dengan menyibukkan dirinya pada buku-buku dan selalu berusaha melakukan sesuatu sebaik mungkin.

Ketika Amba beranjak dewasa, Nunik; ibunya yang begitu cemas karena Amba belum mau menikah pun memaksanya untuk berkenalan dengan seorang pemuda yang tidak sengaja dijumpai ibunya di UGM, pemuda yang penampilannya rapi, pintar dan penuh perhatian itu bernama Salwani Munir. Pemuda inilah yang membuat Amba pertama kali jatuh cinta dan berhasil membujuk orangtua Amba agar mengizinkannya kuliah di Yogyakarta.

Ketika Salwa ditugaskan ke Surabaya, orangtua Amba menyarankan kepada mereka segera menikah. Tetapi Amba menolak dan berjanji akan menikah ketika Salwa telah selesai dalam tugasnya. Namun, kisah cinta mereka tidak berakhir bahagia, Amba meninggalkan Salwa dan juga keluarganya. Meskipun telah ditinggalkan, hubungan mereka berdua tetap baik-baik saja dan beberapa kali Salwa juga mengirimkan surat berisi kabar-kabar dan isi hatinya yang penuh harap agar kisah cinta yang telah redup itu dapat kembali hidup.

Ketika situasi politik sedang bergejolak, Amba pergi ke Kediri untuk bekerja sebagai penerjemah paruh waktu disebuah rumah sakit. Di sanalah ia bertemu dengan dr. Bhisma, pria yang berhasil membuat kisah cintanya menjadi kembali bergairah sekaligus rumit. Sayangnya, mereka berdua harus terpisah ketika sedang mengunjungi sebuah acara yang secara tiba-tiba digerebek oleh tentara karena dianggap berhubungan dengan PKI.

41 tahun lamanya, Amba melakukan segala cara untuk menemukan kembali Bhisma; cintanya yang hilang, namun tak kunjung harapan. Hingga tahun 2006, sebuah email kaleng akhirnya memaksa Amba dan Srikandi; anak hasil hubungannya dengan Bhisma, datang ke Pulau Buru untuk mencari jawaban. Bagaimana kabarnya? Mengapa mereka terpisah? Dan mengapa Bhisma tak pernah kembali?

Pulau Buru, tempat Amba menemukan semua jawaban atas pertanyaannya selama ini. Ternyata, cintanya, Bhisma telah meninggalkan Amba dan anak mereka untuk selama-lamanya. Bhisma hanya meninggalkan surat-surat usang yang jika nantinya akan dibaca berulang-ulang kali, isinya tak akan berubah, seperti cintanya pada Amba.

Kelebihan Novel Amba

Bagi para penyuka novel fiksi sejarah, buku ini sangat worth it untuk segera dibaca. Meskipun agak berat, novel ini mampu membuat kita membayangkan dan merasakan langsung setiap kata dan kejadiannya. Apalagi narasi dan karakter tokohnya dibuat sangat kuat dan rapi, sehingga pembaca bisa auto gereget nih. Novel ini juga ditulis menggunakan epos Mahabharata dan disusun dengan porsi cerita yang seimbang antara latar waktu dan kisah cintanya, jadi saat membacanya tidak akan merasa bingung dan rumit. Banyak juga quotes-quotes yang dapat dikutip untuk dijadikan penyemangat ataupun status di media sosial kamu.

Kekurangan Novel Amba

Sangat disayangkan, di halaman ke-107 penulis salah menyebutkan nama adik Amba, harusnya Ambika dan Ambalika, tetapi malah ditulis Amba dan Ambalika. Kemudian, 41 tahun mencari seseorang dan masih berharap orang itu akan kembali dirasa sangat mustahil, pasti kebanyakan orang berpikir daripada terus berharap yang tak pasti, lebih baik dilupakan saja. Terakhir, tokoh Adalhard kurang diberi bumbu, padahal ia 41 tahun bersama dengan Amba, sedangkan Bhisma yang dalam hitungan bulan bersama Amba mendominasi kisah dalam novel ini.