Di Balik Tawa Anak-Anak Tambora, Ada Proses yang Tidak Terlihat

Staf di Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Nurjanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada hal-hal yang terlihat sederhana di permukaan, tetapi menyimpan proses panjang di baliknya.
Tawa anak-anak di posko pengungsian Tambora adalah salah satunya.
Di tengah panasnya siang dan ruang yang terbatas, sekelompok mahasiswa duduk melingkar. Mereka mendongeng dengan boneka peraga, mengajak anak-anak melipat origami, lalu bernyanyi bersama. Tawa pun perlahan muncul dengan ringan, tetapi terasa begitu berarti.
Sekilas, itu mungkin terlihat seperti kegiatan biasa. Namun, bagi anak-anak yang baru saja kehilangan ruang hidupnya, momen seperti itu adalah jeda, tempat mereka bisa kembali merasa aman, meski hanya sesaat.
Yang sering kali luput terlihat, para mahasiswa itu tidak datang begitu saja.
Beberapa minggu sebelumnya, mereka merupakan bagian dari 100 mahasiswa Universitas Indonesia yang dipersiapkan melalui CARE UP (Caretaker Readiness & Empowerment), sebuah program pembekalan relawan yang dilaksanakan oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universita Indonesia.
Selama dua hari, 8–9 Februari 2026, mereka tidak hanya belajar, tetapi juga dilatih untuk memahami.
Bagaimana membaca emosi melalui gambar.
Bagaimana merespons situasi darurat dengan keterampilan medis dasar.
Bagaimana hadir di tengah situasi krisis tanpa menambah beban psikologis.
Salah satu sesi yang paling membekas adalah pelatihan mendongeng.
Di ruang itu, mendongeng tidak lagi sekadar bercerita. Ia menjadi cara untuk mendekat, untuk membuka ruang komunikasi, dan untuk menjangkau anak-anak yang mungkin belum mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata.
Menariknya, apa yang dipelajari di ruang pembekalan itu benar-benar hidup di lapangan.
Di Tambora, metode yang sama digunakan. Boneka peraga, cerita sederhana, dan interaksi hangat menjadi jembatan antara mahasiswa dan anak-anak. Dari situlah tawa itu muncul dengan perlahan, tetapi nyata.
Sepuluh mahasiswa yang hadir di Tambora hanyalah sebagian kecil dari mereka yang telah dipersiapkan. Namun, dari jumlah yang terbatas itu, terlihat bahwa kesiapan membuat kehadiran menjadi lebih bermakna.
Selama CARE UP berlangsung, semangat peserta terasa hidup. Diskusi berjalan dua arah, praktik dilakukan dengan antusias, dan setiap sesi diikuti dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Ada kesadaran bahwa apa yang mereka pelajari bukan sekadar materi, tetapi bekal untuk menghadapi situasi nyata.
Dari situ, menjadi jelas bahwa aksi kemanusiaan tidak dimulai saat seseorang tiba di lokasi bencana.
Ia dimulai dari proses belajar.
Dari kesiapan untuk memahami.
Dari kesediaan untuk hadir, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.
Apa yang terjadi di Tambora hanyalah satu bagian dari cerita. Namun dari sana, terlihat bahwa ketika seseorang dipersiapkan dengan baik, ia tidak hanya datang membawa bantuan, tetapi juga membawa cara untuk menguatkan.
