Konten dari Pengguna

Saat Kampus Mulai Ramah Difabel: Kisah Syelin dan Ruang Baru untuk Inklusivitas

Siti Nurjanah

Siti Nurjanah

Staf di Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Nurjanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sahabat Disabilitas Melakukan Flashmob di Festival Pengabdian Masyarakat UI 2025 (Sumber: Tim Dokumentasi DPIS UI)
zoom-in-whitePerbesar
Sahabat Disabilitas Melakukan Flashmob di Festival Pengabdian Masyarakat UI 2025 (Sumber: Tim Dokumentasi DPIS UI)

Di tengah upaya berbagai pihak memperkuat ruang inklusif bagi penyandang disabilitas, kampus mulai mengambil peran penting. Mereka bukan hanya tempat menimba ilmu, tapi juga ruang penerimaan, tempat setiap individu, tanpa terkecuali, bisa merasa dihargai.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Syelin, penyandang sindrom Down yang menemukan panggungnya di dunia kerja, sekaligus menjadi bagian dari gerakan kampus yang mulai membuka hati bagi sahabat difabel.

Tumbuh dengan Semangat Tanpa Batas

Di balik senyum lembutnya, tak banyak yang tahu betapa panjang jalan yang ditempuh Ibu Ajeng dan putri bungsunya, Syelin, menuju penerimaan dan kebahagiaan hari ini.

Sejak dalam kandungan, dokter telah menyampaikan bahwa bayi yang dikandungnya memiliki keterlambatan perkembangan.

“Waktu itu rasanya dunia runtuh,” kenang Ibu Ajeng. “Tapi kemudian saya belajar menerima. Tuhan menitipkan anak ini bukan untuk dikasihani, tapi untuk diperjuangkan.”

Syelin lahir dan tumbuh dengan sindrom Down. Namun sejak kecil, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi.

Ia suka menggambar, menari, dan tampil di depan umum. Melihat semangat itu, Ibu Ajeng tak berhenti mencari ruang agar anaknya bisa berkembang, mulai dari sekolah inklusif, berbagai pelatihan keterampilan, hingga bergabung dengan Yayasan Belantara Budaya Indonesia (YBBI), tempat di mana Syelin menari dan tampil di berbagai panggung seni.

“Syelin bahkan pernah jadi model di Jakarta Fashion Week,” ujar Ibu Ajeng bangga. “Saya ingin dunia tahu, anak-anak seperti dia juga punya potensi besar.”

Dari Panggung Tari ke Dunia Kerja

Kini, di usia 27 tahun, Syelin bekerja sebagai barista di sebuah kafe di Jakarta Barat. Sebelumnya, ia sempat magang di Garuda Indonesia sebagai petugas layanan pelanggan.

“Setiap kali melihatnya bekerja, saya merasa perjuangan saya tidak sia-sia,” ucap sang ibu dengan mata berkaca.

Namun perjalanan itu tak selalu mudah. Di tengah masyarakat, stigma terhadap anak berkebutuhan khusus masih sering terasa.

“Yang penting kita menerima dan menjalaninya dengan ikhlas,” tutur Ibu Ajeng. “Sebagai orang tua, kita harus mendobrak stigma itu, tidak minder, dan terus berfokus pada potensi mereka.”

Pemeriksaan Gigi dan Mulut bagi Sahabat Disabilitas dari YBBI (Sumber: Tim Dokumentasi DPIS UI)

Ruang Inklusif yang Mulai Terbuka di Kampus

Kabar baiknya, ruang-ruang inklusif kini mulai tumbuh, termasuk di lingkungan pendidikan tinggi.

Beberapa kampus di Indonesia mulai membuka diri, menghadirkan kegiatan yang ramah difabel, dan melibatkan mereka dalam aktivitas sosial maupun akademik.

Salah satunya Universitas Indonesia (UI) melalui Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS) menggelar Festival Pengabdian Masyarakat UI 2025.

Dalam festival itu, sahabat difabel dari YBBI diundang untuk mengikuti pemeriksaan gigi dan mulut gratis, sekaligus tampil menari dan bernyanyi di panggung terbuka kampus.

Ketika Kampus Menjadi Ruang Penerimaan

Hari itu, suasana UI berubah menjadi ruang penuh warna. Anak-anak menari dengan irama riang, bernyanyi bersama di bawah pepohonan Taman Lingkar, dan saling berbagi tawa.

Di antara mereka, Syelin tampak ikut menari, melangkah dengan penuh percaya diri.

“Anak-anak kami tidak hanya datang untuk diperiksa,” kata Ibu Ajeng dengan mata berbinar, “tapi diberi kesempatan untuk tampil dan dihargai.”

Momen sederhana itu menjadi pengingat, bahwa inklusivitas bukan tentang belas kasihan, melainkan tentang pengakuan dan kesempatan yang setara.

Tentang bagaimana sebuah kampus bisa menjadi tempat belajar, bukan hanya bagi mahasiswa, tapi bagi seluruh masyarakat untuk melihat manusia dengan hati yang lebih terbuka.

Mimpi yang Tak Pernah Padam

Bagi Ibu Ajeng, kegiatan seperti ini adalah harapan kecil yang tumbuh nyata.

“Saya berharap lebih banyak kampus membuka ruang seperti ini,” tuturnya lembut. “Bukan sekadar menerima anak-anak difabel, tapi memberi mereka kesempatan untuk berkarier dan berkembang.”

Di penghujung acara, Syelin melambaikan tangan ke arah ibunya sambil tersenyum.

Senyum yang sederhana, tapi menyimpan makna besar tentang keberanian untuk tampil, cinta tanpa syarat, dan keyakinan bahwa setiap anak pantas mendapatkan tempat untuk bersinar.